Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
80


__ADS_3

Makan malam kali ini lebih semarak, Barata menjadi pokok pembahasan sepanjang makan malam berlangsung.


Segala kekhawatiran dari Mama dan Bapak hilang sudah, akhirnya anak yang selama ini begitu mereka sayangi menemukan tambatan hati, tidak menyendiri lagi.


"Jeng, bagaimana pun kan sekarang Barata sudah jadi suamimu, setidaknya panggilan kamu untuk nak Bara juga harus di ubah, jangan Bar, Bar , Bar terus, gak enak kan di dengar orang." Pak Rahmat menegur putrinya itu.


Bukan tanpa alasan, sejak mereka makan, sudah beberapa kali mereka mendengar Ajeng memanggil suaminya itu hanya dengan nama.


" Hiiihii " Ajeng hanya bersuara, menunjukan deratan gigi serinya.


"Ihh kamu nduk, kalo di bilangin sukanya begitu !" Mama Suci menegur anaknya.


"Iya..iya.."


"Semoga kalian bahagia selalu ya, saling mengasihi sampai maut memisahkan."


"Saling mendukung satu sama lain, jaga diri kalian, jangan pernah lakukan apapun yang sekiranya kalian sendiri tidak mau pasangan kalian lakukan pada kalian."


"Bapak dan Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian." Wejangan Pak Rahmat menutup makan malam yang menyenangkan itu.


"Satu lagi, aku mau kalian lekas-lekas bikinin aku keponakan, yang banyak, yang lucu-lucu!!" Ningrum tertawa sembari langsung berlari meninggalkan meja makan.


" Dasar kamu Dek !! " Ajeng membalas perkataan Ningrum dengan muka merah padam menahan malu.


Aku belum siap, kalo Barata tahu aku masih utuh. Bagaimana reaksi dia? aku tidak ingin dia berfikir macam-macam tentangku.


"Besok kamu berangkat kan Yank? " Barata menatap istrinya sesaat sebelum meraih gelas yang berisi air bening.


"Huu'um " Menghalau rasa cemasnya dengan meneguk air sebanyak-banyaknya.


"Istirahat dulu aja, aku bantuin Mama beresin ini." Menyibukan diri dengan membereskan piring-piring yang masih berada di atas meja.


"Mana ada Mama, udah sini bantuin. Biar cepet selesai. " Mengikuti gerakan Ajeng, membereskan gelas dan meletakkannya di tempat cuci piring.


"Gak usah, biar aja." Ajeng begitu sungkan dengan perilaku Barata.


"Besok aku mau lanjutin nyelesei berkas, kalo kamu sewaktu-waktu di panggil sama komandan, bisa datang ya?" Barata mengalihkan pembicaraan.


"InsyaAllah besok aku sempet-sempetin."


"Gak tentu besok si, belum tahu juga. Nunggu kabar selanjutnya."


"Aku bakal dampingin kamu, biar kamu gak ngerasa sendiri."


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipi kirinya.


"Masuk kamar dulu ya, perutku mules." Barata berlalu meninggalkan Ajeng yang kini sibuk mengatur degub jantungnya.


"Terlalu ekspresif !!" Dengusnya sebal, saat Barata pergi meninggalkannya.


Tak butuh lama, setelah dapur di rasa rapih, Ajeng menyusul Barata ke kamar. Dengan membawa segelas besar air bening. Berjaga-jaga jika nanti dia atau Barata kehausan.


Eeh, emang mau ngapain? tidur kan?


Bergidik ngeri memikirkan hal lain.


"Kamu kalo di rumah emang pake baju kaya gitu? " Barata yang baru saja keluar dari kamar mandi mengagetkan Ajeng yang sedang menutup pintu kamarnya.


"Hah?"


"Kenapa?" tanyanya bingung sembari melihat pakaian yang dia kenakan.


"Pake piyama kek punya Ashila motifnya."


"Kaya bayi aja." Cibirnya sembari menaiki ranjang.

__ADS_1


"Besok kita belanja lingerie aja ya. Buat di pake kalo di kamar." Barata tertawa senang.


Sementara Ajeng yang sudah di sisi lain ranjang, hanya mencibir.


"Aku seperti belum percaya kalau kita sudah suami istri aja." Barata menerawang jauh. Tangannya dia gunakan sebagai bantalan kepalanya.


Ajeng menaiki ranjang, merebahkan tubuhnya di samping Barata.


"Jangan-jangan kamu mimpi." Mencubit pinggang Barata.


"Ukhh." Barata merintih.


"Sakiit." Imbuhnya.


" Berarti kamu gak mimpi." Ucap Ajeng santai.


"Memastikan aja kalau kamu lagi gak ngehalu." Membelakangi Barata dan mulai menarik selimut sampai dagu.


"Eh, apa-apaan ini?" Ogah, aku paling gak suka di belakangin gini. Balik gak? " Barata mencoba meraih bahu Ajeng.


"Hihihi, katanya mo tidur? kalo hadap-hadapan terus ntar keterusan ngobrol, besok berangkat pagi loh." Ajeng membalikan badannya dan kini jarak mereka semakin dekat.


"Aku mau kita meneruskan apa yang harusnya di teruskan sore tadi." Tangannya sudah mulai bergerilya menyentuh wajah Ajeng, dengan senyum merekah di wajahnya. Sedangkan sang empunya wajah sudah panas dingin tidak karu-karuan.


"Masih banyak waktu Bar." Meraih tangan Barata, kemudian menyimpannya di tengah wajah mereka berdua. Menggenggamnya erat.


"Kalo lagi sama kamu, rasanya waktu sebentar banget." memandang Ajeng dengan mata sayu.


"Sejak kapan kamu jago gombal gini hem?"


"Bukannya dari dulu udah kaya gini?" Mengecupi jemari Ajeng.


"Kamu bisa merasakan ini?" kini, Barata membawa tangan Ajeng untuk menyentuh sesuatu di bawah sana yang sudah mengeras.


Ajeng bisa aura panas dan nafas Barata yang seketika langsung memburu. Nafas lelaki di depannya pun bisa dia rasakan menggelitik wajahnya.


Terasa sekali kalau di dalam sana tidak ada kain lain yang membungkus, hanya tertutup celana rumahan yang tipis.


"Gak pake celana da lam ya?"


"Berasa banget."


Seketika Barata tertawa.


"Berasa apa? tegang? panas? atau Besar?"


Wajah Ajeng memerah, menyesal sudah terlalu jujur mengucapkan apa yang dia rasakan.


"Dia sudah tidak sabar untuk mengunjungi rumahnya. Kamu tahu? dia rindu." Dengan cepat melu mat bi bir Ajeng.


Sepertinya, dia cukup senang, tanpa di minta Ajeng sudah mulai membalas dan mengikuti gerakannya. Namun tidak berselang lama, karena Ajeng masih belum bisa menguasai permainan.


"Tolong, apapun nanti yang kamu rasakan, jangan berfikir macam-macam dan yang tidak-tidak tentang aku sebelum ini. Ya?" Di sela-sela tarikan nafasnya, Ajeng mengajukan permohonan.


"Tidak, aku janji." Jawab Batara cepat sembari men cum bu Ajeng. Kali ini tidak hanya di bi birnya, tetapi mulai menge cupi seluruh wajahnya, kemudian turun ke le her. Men ji lati dengan penuh na fsu, seakan-akan itu adalah es krim yang hampir seluruhnya meleleh. Tak rela jika sapai berjatuhan tak ter jilat.


Ajeng yang baru di perlakukan sedemikian rupa hanya bisa men de sah, menikmati segala perlakuan Barata.


Satu de sah an lolos dari bi bir nya, membuat Barata semakin menggila.


Entah bagaimana caranya kini Ajeng sudah menanggalkan pakaian yang dia kenakan, hanya tersisa tubuh polos nan indah.


Dua bukit kembar terpampang nyata di hadapannya. Dengan puncak bukit berwarna pink, yang masih begitu malu menampakan dirinya, mungkin karena sudah begitu lama tidak pernah di daki oleh sang petualang.


Membuat Barata semakin mabuk kepayang.


Perlahan, Barata mulai mendaki, mencobanya satu persatu, sesekali dia menyentuhnya, mengusapnya lembut, me re masnya perlahan hingga keras, membuat tubuh Ajeng menggeliat semakin menjadi.

__ADS_1


Tangan kirinya mulai mengeksplor bukit lain di bawah sana, tanpa menunggu waktu lama, akhirnya jemarinya menemukan lahan rimbun yang telah basah. Menemukan tonjolak kecil di tengahnya dengan lembut.


Merasa sayang bahwa lahan tersebut didiamkan, dengan cepat dia menuju ke lahan basah itu, melewati gurun pasir bernama perut yang terasa halus dan harum sekali. Dia men cium bertubi-tubi, menikmati setiap jengkal perjalanannya, sampai tiba lah di lahan rimbun yang telah basah.


Barata langsung me lu matnya, menyesapnya dalam, tak jarang membuat permainan dengan lidahnya. Hingga telinganya mendengar suara Ajeng memohon untuk berhenti, namun tangan wanita itu bertindak lain, justru semakin menuntun kepala Barata untuk lebih dalam lagi mengeksplor apa yang ada di dalam lahan rimbun tersebut.


"Bar...Bar...Uhh..Ss..tophhhhh....Be...henti."


Barata melepaskan lumatannya, namun masih menciuminya bertubi-tubi, meraup wangi lahan rimbun, dan merekamnya di dalam memorinya.


"Aku sudah tak tahan lagi. Pliiiss." dengan gerakan cepat Barata menurunkan penutup pusaka karamatnya. Memainkannya di bi bir lahan. Terasa hangat saat mereka bertemu dan saling menempel.


Jemari Ajeng yang sedari tadi meremas rambut Barata kini berpindah tempat. Meremas seprei dengan kencaang. Sedangkan Barata mulai memasukan pusaka keramatnya ke dalam lembah.


"Akh, sakitt .. pelan-pelan pliiiss." Ajeng memekik pelan. "Pliiiss." Air mata hampir menetes dari sudut matanya, hingga Barata mengurungkan niatnya untuk memasukan pusakannya langsung ke dalam lembah.


Barata kembali melakukan gerakan awal, melu mat, meny esap pelan men jila ti dengan lembut, membuat Ajeng kembali merasa nyaman.


Tak butuh waktu lagi, dan tanpa aba-aba, dengan keras Barata memaksa memasukan pusakannya kedalam lembaah.


"Aarhhhh." Ajeng memekik kaget, menahan rasa nyeri dan perih yang luar biasa menyerang inti tubuhnya. Darah segar mengalir begitu saja, akibat robekan selaput yang menjadi penghalang masuknya pusaka ke dalam tempatnya.


"Bara...." Suara lemahnya menyadarkan Barata yang kini terdiam. Menikmati sensasi pusakannya yang serasa di pijat-pijat hangat.


Untuk sesat, sama sekali tidak ada pergerakan di antara mereka, Barata menikmati bagian tubuhnya yang berada di dalam sana, sementara Ajeng menikmati rasa perih yang berangsur-angsur berkurang.


"Maafkan aku, aku tidak tahu." Mengecup lebut dahi Ajeng yang penuh dengan peluh itu berkali-kali.


"Kita selesaikan ya, aku janji, akan terasa lebih baik dari ini." Me lu mat bibir Ajeng kembali.


Perlakuan Barata yang lembut itu, seketika melupakan rasa nyeri pada diri Ajeng, sedikit demi sedikit, rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat.


Suara de sa han dan rintihan saling bersahutan.


"Kau sun..gguh nik mat se..kali sa..yang.. Uh.."


"Akhirnya, aku bisa mengantarkan pusakaku ke tempat di mana seharusnya dia bersemedi."


Barata terus saja merancau, menambah kecepatan tumbukan pusaka ke dalam lembah.


Sementara Ajeng yang berada di bawah sudah tidak bisa menjawab apapun lagi, benar apa yang Barata bilang,.sekarang rasanya sudah lebih baik, bahkan sesuatu seperti ingin meledak di dalam dirinya.


Pusaka yang begitu besar menghentak-hentak tanpa ampun, awal yang lembut berubah menjadi kasar dan cepat, berpadu dengan rasa perih dan nikmat yang menjadi. Kali pertama dia merasakan ini, sungguh dia tidak bisa mendeskripsikan perasaan apa yang kini dia rasakan.


Begitu menikmati setiap hentakan dan sentuhan yang suaminya lakukan, hingga sesuatu terasa ingin meledak di tubuhnya, membuat dia mencengkeram erat kedua sisi perut Barata tanpa ampun, sebelum akhirnya terkuai lemas di bawah Kungkungan Barata.


Lunas yaaaa


jangan bilang ini sedikit. Pliiiss


ini udah 1600 kata loh ya,


sebenarnya, setiap aku update juga pasti lebih dari 1000 kata, tapi kenapa pada bilang dikit bangetttt😔😔😔🥺🥺🥺🥺🥺


aku gak bisa bikin malam buka kado lebih dari ini. Ini udah maksimal banget.


Mohon maaf atas jarangnya update. Akhir tahun banyak banget kerjaan.


Kemarin ikut program 30 hari menulis juga.


Jika ingin membaca tulisanku, bisa ya di IG ku wiwit_widiawati🤗


terimakasih untuk yang sudah begitu sabar menunggu, terimakasih juga untuk hadiah dan vote yang terus kalian berikan hingga aku kini berubah jadi silver🤗😘😘😘


semoga kalian semua selalu di berikan kesehatan yaa🤗 dimudahkan segala urusannya..doa terbaik untuk kalian semua pokoknya😘😘


love you All❤️

__ADS_1


__ADS_2