
"Hahahah gila lu, breng sek!!!! "
Barata yang sedang asyik bertelepon ria dengan Baskara, tidak menyadari kehadiran Ajeng, yang sudah berdiri di belakang mobil.
"Iya gue harus nikahin dia lah, bisa bunuh diri gila! lu gak tau Anita kaya apa si"
"Gue cuma ngikutin takdir gue, peduli apa gue bahagia atau engga" Barata menghela nafas panjang.
"Lusa gue udah ke Jogja. Observasi buat RI 1 kunjungan, gue gak bisa ikutan lah otomatis. Next time aja ya. Panjang umur semua lu ya sehat-sehat" Barata tertawa mendengar endusan sebal dari Baskara di seberang sana. Sebelum akhirnya mendengar deheman keras Ajeng yang sudah berada di samping mobil.
"Eh Bas, sambung ntar lagi ya. Ibu Persit udah selesai nih" Barata terkekeh sendiri. Memutus sambungan telepon mereka. Yaa impiannya untuk menjadikan Ajeng istri pupus sudah. Cita-citanya selama ini untuk bersanding dengan Ajeng, membangun rumah tangga bahagia dengan banyak anak, yang pastinya akan menghasilkan perpaduan sangat sempurna antara dia dan Ajeng tidak akan pernah terjadi.
Kalau saja waktu itu dia bisa menahan diri dan tidak cemburu buta, mungkin saat ini dia mengejar cintanya kepada Ajeng, tapi dia terlalu gelap mata sehingga melakukan hal yang benar-benar tidak bisa dibenarkan sama sekali tersebut.
"Aku ingin pulang, kepalaku sakit" katanya dengan suara ketus, sembari mencoba membuka pintu mobil, namun ternyata masih terkunci, baru kemudian setelah terdengar bunyi bip, mobil bisa terbuka dengan mudah.
Ajeng memasuki mobil, disusul oleh Barata, yang langsung mendekatinya tanpa menyisakan jarak diantara keduanya.
"Eh mau ngapain? jangan kurang ajar sama kaka ipar ya" Ajeng dengan panik dan jantung yang berdegup kencang berkata dengan nada tinggi.
"Selesai" Ucapnya manakala sudah memasangkan seatbelt dan mengatur posisi tempat duduknya.
"Biar kakak ipar lebih nyaman duduknya" imbuhnya sebelum menjalankan mobilnya meninggalkan area pemakaman.
Ajeng yang merasa malu itupun kemudian membuang muka, menghadap ke jendela menjauhi tatapan Barata.
Wong edan
Batinnya sembari memejamkan matanya, berharap semuanya lekas berlalu, dan takdir baik sedang menantinya di depan sana. Mengubur luka, tanpa ada lagi luka baru yang tercipta.
Mobil memasuki halaman rumah Ajeng, sementara Ajeng sendiri masih terlelap didalam tidurnya. Barata turun lebih dahulu, memasuki rumah yang terlihat sepi itu.
"Loh, kakakmu mana? " Bu Sukma yang baru saja keluar dari dapur bertanya manakala melihat Barata seorang diri.
"Dia tidur di mobil, nih Bara mau tanya di pindahin apa di biarin aja di sana? "
"Ya dipindahin lah, kasihan tidur di mobil gitu, sakit semua nanti badannya"
"Kasihan dia, cape banget pasti"
__ADS_1
"udah tolong bawa dia ke kamarnya" Bu Sukma memberikan perintah.
Tanpa menunggu lama lagi, Barata kembali menuju ke teras rumah, membuka pintu penumpang dimana Ajeng duduk. Dan baru saja dia hendak meraih punggungnya, tibaa-tiba saja Ajeng membuka matanya, reflek Ajeng berteriak.
Sementara Barata yang juga kaget dengan reaksi Ajeng, otomatis memundurkan kepalanya, membentur pintu atas mobil, kemudian terjungkal ke belakang.
"Ada apa? kenapa?" Ibu Sukma dan Mama Suci saling berebut keluar dari pintu. Penasaran dengan teriakan Ajeng.
" ahhh" Barata mengaduh kesakitan, kepalanya berdenyut nyeri.
"Kenapa? " ulang Mama Suci, membantu Barata berdiri.
"Tadi Ajeng tidur, Ibu nyuruh aku bawa Ajeng masuk ke kamarnya, baru aja mau ngangkat eehh dia teriak liat aku, reflek dong aku mundur. Kepalaku kepentok pintu dan nih jadi gini nih, jatuh dengan punggung dan kepala yang sakit, apes bener" Barata berjalan terseok-seok, sepertinya memang benar punggungnya sakit menahan berat badannya yang jatuh tiba-tiba. Bisa dipastikan juga kepalanya pasti lebam.
"Hem, ya udah ayuk masuk yuk" Ibu Sukma meraih tangan Ajeng, membimbingnya untuk masuk ke dalam rumah, beristirahat di kamarnya.
Sementara Bara, duduk di ruang tengah sembari memegang punggung. "Sakit banget Bu, tolong ambil air anget dong, buat ngompres biar gak bengkak" Barata merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang.
"Lagian kamu ini kenapa, takut banget kaya di apain aja sama Nak Barata, dia adik kamu loh, pasti juga gak bakalan macam-macam! Ngapain juga mesti teriak gak jelas! parnoan banget'' Bu Suci tak hentinya menyalahkan.
Mama gak tau aja gimana mesumnya dia sama aku! apa aku harus menceritakan kepada mereka apa yang sudah dia lakukan. Hemmm cari mati judulnya!!!
"Eh, gak nunggu Mama pulang? ini Ningrum lagi di jalan, udah keluar dari kampus katanya" perkataan Bu Suci menghentikan langkah Ajeng.
"Yahhh, kok gitu si? seriusan? " berbalik, mendekati mamanya.
Sementara itu di halaman terdengar suara klakson mobil.
"Sepertinya Ningrum, panjang umur banget tuh anak" Bu Suci berjalan kembali ke halaman. Menyambut kedatangan anak perempuannya.
"Asalamualaikum" Ningrum turun dari mobil, menyalami Mamanya dan mereka masuk beriringan ke dalam rumah.
"Cepet banget jemputnya dek? " Wajah sendu Ajeng menyambut kedatangan Ningrum.
"Biar gak kesoren Mbak, tau sendiri kan sekarang kalo sore hujan, jalanan licin" Mereka saling berpelukan.
"Oya, nih aku bawain ayam gepuk kesukaan Mbak, gak sengaja tadi lewat. Sekalian aja deh"
"Lah, Mas Bara? Kenapa? " Ningrum yang tidak sengaja melihat Barata sedang mengompres belakang kepalanya bertanya.
__ADS_1
"Eh, Lu Rum, iya nih lg di kompres, kepentok pintu tadi" Jawabnya sambil meringis menahan linu.
"Mama siapin nasi ya, sekalian makan bareng" Bu Suci menuju ke ruang makan, menyiapkan makasih siang yang terlewat dengan di bantu Bu Sukma.
Sementara Ajeng, Barata dan Ningrum duduk bertiga di ruang tengah.
"Makin cantik aja kamu, cowoknya orang mana? " Barata terkekeh dengan pertanyaannya sendiri.
"Iiihh Mas Bara sukanya ngegombal deh, kalo aku baper gimana" Tawa mereka berdua pecah.
Hanya Ajeng yang berdiam diri, enggan menimpali.
Raja gombal juga ternyata dia.
"Ada lah Mas, beda kampus. Ehh tapi kalo boleh mau dong dikenalin sama temen Mas Bara" Tersenyum genit sambil menutup mulutnya "Tapi yang masih muda, jangan seumuran Mas Bara. Udah tua" Imbuhnya lagi.
"Jangan sama tentara Dek, kasihan kamu ntar di tinggal pergi gak di kasih kabar tau-tau uda nikah lagi" Ajeng tiba-tiba mencletuskan pikirannya.
"Gak salah tu? bukannya situ yang ninggalin tau-tau udah kawin aja" Barata tanpa tendeng aling-aling menjawab Ajeng.
"Ninggalin ya?" Ajeng tertawa
"Paling jago emang kalo nyari pembenaran" Melirik tajam ke arah Barata.
"Aku pikir semua wanita kalau diposisi aku akan melakukan hal yang sama"
"Berarti semuanya kayak gak ada artinya ya, sia-sia selama ini apa yang udah gue perjuangain"
"Bodoh lo Bar"
Bara beranjak pergi meninggalkan Ningrum dan Ajeng. Ningrum dengan fikiran bingungnya, sementara Ajeng dengan perasaan yang dia sendiri tidak bisa mengartikannya apa.
"Ayok, udah siap semua, pindah ke meja makan aja ya ngobrolnya, kayanya seru banget niih, ngobrolin apa? "
Bu Suci mendekati kedua putrinya.
"Loh, Barata mana?" Menanyakan keberadaan Barata yang tiba-tiba menghilang, sementara tawanya saja seakan baru saja menggema sampai ke dapur.
"Yuk Dek makan" Ajeng beranjak dari duduknya, mengabaikan pertanyaan Mamanya. Pun demikian dengan Ningrum yang hanya mengangkat bahu dan telapak tangannya tanda tidak tahu. Hingga akhirnya mereka bertiga menuju ke meja makan yang sudah terhidang ayam gepuk dan nasi yang masih mengebulkan asapnya, jangan lupakan dengan semangkuk sambal dan lalapan sebagai pelengkap!!
__ADS_1
Heemmm yummmiiiii