Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
69


__ADS_3

"Bisakah kita memulai kembali dari awal? Awal yang dulu. Bukan sebagai ipar? Tapi sebagai Barata dan Ajeng.? Mengulang takdir yang seharusnya? yang seharusnya tidak terlewati namun terlewat? Bolehkah aku menjilat ludahku kembali? sungguh rasanya aku tak mampu sendiri, berpura-pura kuat seperti ini. Bisakah kau mengerti perasaanku selama ini? kau psikolog hebat Jeng, tanpa aku bercerita banyak dan panjang lebar, dengan melihat keseharianku, rasanya bukan sesuatu yang sulit bagimu untuk mengerti aku. "


"Sungguh, aku lelah. "


Barata menyenderkan tubuhnya ke sofa, mengusap wajahnya kasar, sebelum kemudian menengadahkan kepalanya.


"Aku butuh kamu" Ucapnya lagi tanpa memandang Ajeng, justru sekarang dia memejamkan matanya.


"Ku mohon, biarkan semua ini mengalir apa adanya, aku hanya ingin merasakan di cintai dan mencintai. Hanya itu. Ucapnya sendu.


Kali ini mata mereka bertemu.


" Ku mohon, setidaknya beri aku kesempatan untuk memulai semua kembali dari awal. " Pintanya penuh harap.


" Beri aku waktu, semua ini tidak semudah itu! "


"Ada orang lain yang harus kita fikirkan. Ibu terutama. "


"Mbak Runti, dan keluarga besar lainnya. Apa kata mereka jika kita bersama? Ajeng turun ranjang? menikahi adik ipar nya sendiri? "


"Rasanya aku belum siap. " Jawaban Ajeng sungguh tak memuaskan hatinya.


" Jangan fikirkan, itu urusanku. Sungguh aku tak mau mengulang kesalahan yang sama, aku mohon beri aku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal. " Barata mengulang permintaan yang sama itu, entah sudah yang keberapa kalinya.


"Aku gak bisa tersiksa seperti ini, aku gak bisa "


Berdiri, kemudian mendekat ke arah Ajeng, yang hanya di batasi oleh meja di antara mereka.


"Aku hanya ingin kamu, tidak lebih. Aku hanya ingin memulai kembali, mencintaimu berkali-kali lipat, mencintaimu dengan memiliki ragamu, tidak ada lagi cinta bertepuk sebelah tangan, tidak ada lagi cinta tanpa memiliki. " Berjongkok di hadapan Ajeng, kemudian meraih tangan wanita cantik itu, menciumnya bertubi-tubi. Dan memesapnya dengan perlahan.


" Aku mencintaimu. Sangat " ucapnya yang hanya di balas dengan tangisan Ajeng.


"Jangan seperti ini. " Barata menggelengkan kepalanya sembari mengusap air mata yang keluar dari pipi perempuan di depannya itu.


"Katakan kalau kamu masih memiliki rasa yang sama seperti ku" Kini tangan kekar itu menangkup kedua pipi Ajeng. Mendekatkan wajahnnya hingga hidung mereka bertemu dan masing-masing dapat merasakan deru nafas mereka.


Tidak ada jawaban, yang ada hanya isak tangis yang semakin keras, menyayat hati. Terdengar memilukan.


"Budhe." Suara lain terdengar di antara mereka.


"Sa.. Sayang. "


"Kamu bangun? "


Terang saja balita itu bangun, suaranya yang memenuhi ruangan, mengusik waktu tidur Ashila.


"Budhe nangis? Papa juga? kenapa? "

__ADS_1


"Papa marahin Budhe? "


"Papa nakalin Budhe? "


Ashila beranjak dari tidurnya, kini duduk di sebelah kiri Ajeng, sementara Barata justru memposisikan kepalanya di atas pangkuan Ajeng. Meraih tangan wanita itu, untuk memegang kepalanya.


" Bersumpahlah jika kamu bersedia memulai kembali." Rancu Barata dengan wajah yang kini terbenam di pangkuan Ajeng. "


Sementara Ajeng, darahnya berdesir, wajahnya memerah. Antara malu percampur dengan risih.


"Shil, bisa Budhe minta tolong ambilkan air putih itu? " Menunjuk gelas yang ada di meja kerja dengan dagunya.


Ashila hanya menganggukan kepalanya. Langkah kecilnya menjauh.


"Hentikan Bar, ada Shila di sini. Jangan seperti ini. "


"Ku mohon!!! " Ajeng mencoba mengangkat kepala Barata.


"Berjanjilah! " Barata tak mau kalah.


"Aku akan memikirkannya, tapi aku mohon, jangan seperti ini. Tidak elok di lihat Shila. " Jawabnya cepat.


Barata menurut, menegakan tubuhnya dengan tangan yang masih memegang erat jemari Ajeng.


"Ini Budhe" Ashila datang dengan membawa segelas air putih yang hanya tinggal setengah gelas itu.


"Terimakasih sayang " Ajeng menerima gelas tersebut, kemudian memberikannya kepada Barata.


"Fikiranku sudah sangat jernih, sangat bening. Jika pikiranku kotor, tidak mungkin aku memintamu untuk kembali. " Ucapnya sebelum meneguk tandas air putihnya.


" Budhe kenapa? " Ashila mendekat, kini gilirannya memegang pipi dan mata Ajeng yang sembab.


"Papa nakalin Budhe? " Ulangnya dengan rasa cemas.


"Tidak sayang, Budhe hanya sedang mengobrol dengan Papa. " Tersenyum sambil mengusap lembut rambut ikalnya.


" Kata Papa, Shila tadi nangis di sekolah? Marah-marah ke temannya? apa benar? " Dengan jari yang masih menyisir rambut Ashila, Ajeng bertanya. Sebisa mungkin tetap memberikan kenyamanan kepada si anak agar dia tidak merasa bahwa dirinya sedang di interogasi.


"Shila marah. Fano temen Shila suka bilang kalo Shila tidak punya Ibu, Shila bilang kalo Shila punya Budhe. Tapi kata Fano Budhe bukan Ibu Shila. Apa betul? "


"Fano bilang begitu-begitu terus, Shila jadi marah. " Akunya.


"Budhe kan Ibu Shila kan? " Mata anak itu sekarang mengembun.


"Shila punya Ibu kan? " Kini air matanya sudah jatuh, dengam suara Teresa, anak itu mengeluarkan emosinya.


"Uluh.. Uluh.. Sayangk ku, cup.. cup.. cup"

__ADS_1


Mendekap Ashila dengan rasa sayang.


"Ashila bisa kok anggap Budhe Ibu Ashila. Sekarang Ashila gak boleh sedih lagi yaa. "


"Ashila mau, Budhe jadi Ibunya Ashila? " Barata yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka berdua kini angkat suara.


"Maauuuuu!!!!! " Jawab Ashila dengan bersorak.


"Kalo gitu, coba tanya Budhe, Budhe nya mau tidak jadi Ibunya Ashila? Apa besok kita ke rumah Eyang Suci? Kita minta sama Eyang ya, biar ngebolehin Budhe jadi Ibunya Shila. " Barata tersenyum lebar.


"Beneran?? Hooreeee. " Berteriak kegirangan.


"Barr... "


"Coba lihat dia Jeng, kamu tega ngecewain dia? " Barata berbicara di telinga Ajeng.


"Aku harap kamu bisa memberikan jawaban yang terbaik untuk kami berdua. " Ucapnya memotong perrkataan Ajeng.


" Ini bukan lagi jadiin Ashila alasan kan Bar? "


"Ya Allah Jeng, selama ini? kurang pembuktian yang gimana lagi aku? Masih gak percaya kalau hanya kamu, kamu satu-satunya.. "


"Shil, coba deh lihat wajah Papa kamu, merah gitu. "


"Mau nangis nih Shil. "


Ajeng mengalihkan perhatian Ashila yang sedang asyik sendiri itu. Dan tanpa di panggil lagi, Ashila menoleh.


"Papa baik-baik saja? "


"Papa demam Budhe? "


"Shila kalo badannya demam, mukannya jadi merah kaya Papa. " Ucapnya polos.


Sementara Ajeng hanya tersenyum kecil, mengacak rambut Ashila.


"Anak siapa sii ini pinter banget hemm? "


Menciumi puncak kepala Ashila dengan gemas.


"Anak Budhe sama Papa! " Ucapnya sambil merangkul Ajeng dan Barata.


Barata tersenyum lebar, sementara Ajeng, masih dengan hati yang gemuruh. Berharap tidak ada telinga yang mendengarnya.


Mungkin, Allah hadirkan Ashila untuk menyatukan mereka, mengeratkan mereka berdua menjadi satu kesatuan yang seharusnya terjadi beberapa tahun yang lalu yang terbentur keadaan.


Dan terkadang keadaan berubah begitu saja, begitu cepat. Semudah itu Allah merubah takdir seseorang, semudah itu Allah membolak-balikan hati hambanya.

__ADS_1


Manusia tugasnya hanya berdoa berusaha, karena pepatah mengatakan jikalau kita, berusaha tanpa berdoa itu sombong, dan berdoa tanpa berusaha itu mustahil. Karena, Allah tidak akan pernah merubah nasib hambanya, jika hambanya sendiri tidak mau berusaha untuk mengubah nasib mereka sendiri.


Setidakanya Barata sudah berkata jujur, dengan mengutarakan segala keinginannya. Urusan Ajeng menerima atau tidak, kita serahkan kepada sang pemberi hidup.


__ADS_2