
"Belum, aku belum tau apa yang bisa bikin aku berdiri. Selama ini 'dia' masih asyik dengan tidur panjangnya" Reno menjawab tanpa menolehkan wajahnya ke arah Ajeng. Benar-benar membuat Ajeng merasa bersalah.
Bukan, bukan merasa bersalah, dia lebih merasa iba, tetapi juga ada rasa geli melihat raut wajah Reno yang tegang, yang tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Kasihan. Membuat dia seperti rasa permen yang manis, asem, asin rame rasanya 😂
"Sebenarnya aku ingin mengenalkan kamu kepada Ibu, tapi aku takut ibu akan berfikir semau dia" Sambungnya sambil terus berjalan, mengalihkan topik pembicaraan mereka yang membuat panas wajah dan telinga.
"Semau dia gimana" Ajeng mengerutkan dahinya dalam, sebelum tiba-tiba di pertigaan selasar IGD, sebuah ranjang pasien yang hendak masuk ke IGD menerobos jalan mereka begitu saja, reflek Reno menarik Ajeng ke pelukannya dengan keras.
"Ukhhh" Ajeng memekik kaget.
"Apa kau tak apa-apa? " Reno bertanya dengan mata cemasnya, sedangkan tangannya, melingkar erat di pinggang Ajeng, sedikit meremas pinggang mungilnya, yang membuat sang empunya pinggang meringis.
"I'm Fine" Ucapnya sambil melepaskan rengkuhan tangan Reno lembut.
"Maaf, Ayo" Kini mereka melanjutkan jalan, menuju ke area parkir. Tangannya di genggam erat oleh Reno. Sementara matanya tak lepas dari tautan tangan mereka. Merasa Rene hari ini sangat berlebihan adanya.
Langit terlihat mendung, cahaya matahari mulai tak nampak. Tertutup kabut hitam tebal. Pertanda hujan akan segera turun.
"Ayo cepat, keburu hujan nanti" Reno membimbing Ajeng untuk cepat menuju ke arah dimana mobilnya terparkir. Membukakan pintu dan menutupnya dengan sekali dorongan.
"Makan dulu ya, aku lapar" Reno memasang seatbelt nya.
"Ketemu Ibu mau gak? " Tanyanya lagi.
"Ha.. he.. Ibu?" Ulang Ajeng.
"Iya, kebetulan hari ini ibu di butik. Jadi bisa mampir setelah makan siang" Reno menjelaskan.
__ADS_1
"Eemm besok lagi aja deh, kita kan juga harus menyusun asesmen buat kamu Mas" Ajeng mengingatkan.
"Nanti Mas Ren bingung juga kan sama fikiran ibu yang kata Mas Ren semau dia"
"Aku juga ingin, Mas Ren sembuh dan skripsiku selesai tepat waktu. Tinggal beberapa bulan lagi. " Ajeng memberikan alasan.
"Kita cari tempat yang enak buat bahas ini" Reno melajukan kendaraannya ke arah Selatan.
"Ke bendungan ya, ada tempat recommended banget buat makan, nuansa hutan pinus. Enak buat ngobrol. "
Reno menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, menyalakan audio di mobilnya agar tidak terasa sepi. Dan kini rintik hujan sudah mulai turun. Membasahi jalanan.
"Kayaknya kalo ke bendungan, waktunya gak tepat deh. Hujan gede gini" Reno mengeluhkan cuaca yang sepertinya tak mendukung mereka.
"Ya udah pulang aja deh, nanti kita ngobrol di rumah aja." Ajeng memberikan saran.
Akhirnya Reno menyetujui usulan Ajeng untuk pulang.
"Ngantuk jeng? " Reno melihat ke Arah Ajeng saat mobil tiba tepat di perempatan pasar Cilongok.
"Engga, bentar lagi nyampe kan" Ajeng membenarkan posisi duduknya.
"Aku mau bicara serius dan seperti janji kamu kemarin, kamu bakal nolongin aku kan? membersamaiku menyembuhkan kelainan ku ini? " Reno masih terus fokus mengemudikan mobilnya ditengah derai hujan.
"Iya Mas, selama aku bisa bantu, aku pasti akan bantu" Ucapnya lembut sambil menatap wajah Reno.
"Aku ingin kamu bersedia untuk aku nikahi" Tak ada angin tak ada petir, hanya hujan rintik yang semakin besar, berhasil membuat kepala Reno konslet, melontarkan keinginan yang sama sekali tak pernah Ajeng duga.
__ADS_1
"Hahaha are you serious? nikah.? aku bersedia untuk Mas nikahi?.hahahha kamu gila Mas" Ajeng memandang Reno dengan tawa. Masih dengan wajah tak bersalahnya mentertawakan keinginan Reno.
"Gak ada yang lucu Jeng" Suara Reno berubah dingin, seketika tawa Ajeng terhenti.
"Aku gak pernah main-main dengan urusan masa depan. Aku udah mikirin ini perpuluh-puluh bahkan beratusan kali. Dan gak mudah juga bagiku buat nyampein ini padamu!! " Perut yang tadinya keroncongan menahan lapar, mendadak terasa penuh. Begitupun dengan perasaan yang meluap-luap didalam dada. Tidak bisa dilukiskan.
"Aku hanya meminta itu dari kami. Meminta bantuanmu. Aku gak mungkin mengajak nikah orang yang aku gak tau asal-usulnya, yang berasal dari lingkungan entah berantah. Dan aku memang sama sekali tidak mempunyai bayangan, teman yang bisa aku ajak kerjasama. Aku enggan beradaptasi baru dengan orang baru. "
"Menikah itu gampang Mas, tinggal datang ke kantor Urusan agama, bawa wali nikah, dan saksi dari masing-masing mempelai, langsung sah"
"Mahar seratus ribu juga udah cukup. Gak ada ketentuan yang mengharuskan laki-laki memberikan mahar gede ke calon istrinya."
Ajeng memotong perkataan Reno.
"Tapi semua gak semudah itu Mas, sesudahnya akan bagaimana? "
"Tolong fikirkan baik-baik keinginanmu" Lanjutnya.
Obrolan mereka terhenti manakala mobil sudah memasuki pekarangan rumah, beruntung gerbang todak ditutup sehingga mobil milik Reno bisa langsung masuk.
"Kita bahas lagi nanti" Ucapnya sembari melepas sabuk pengamannya yang terasa begitu sesak setelah mendengar jawaban Ajeng.
"Mas Ren mau turun? " Ajeng berkata cemas.
"Ya iya lah, aku mau numpang makan!! " ucapnya judes sambil langsung keluar dari mobil, memasuki rumah Ajeng yang sudah dia anggap sebagai rumah sendiri.
"Lihatlah, sekarang seolah-olah dia benar-benar kakaku, meminta apapun semau dia, melakukan apapun sesuka dia" Ajeng dengan kesal membanting pintu, menghentakan kakinya di atas lantai yang ternyata licin hingga akhirnya
__ADS_1
Buuugghhhhh
"Aaawww.. Mas Ren"