
"Mbak Jeng? " Vika mendekatinya.
"Ini orangnya kebetulan ada waktu siang setelah Dhuhur. Dia ngecancel jadwalnya sama orang lain. Demi aku nih heheh" Berkata tanpa menoleh ke Arah Ajeng.
"Mbak?" Vika menepuk pundaknya pelan.
"Nitip butik ya Vik, aku ada urusan bentar. " Dengan wajah sembabnya, dia meraih tas dan kunci mobilnya. Tak lupa dengan kaca mata hitam yang dia letakan di samping komputer. Kemudian pergi dengan terburu-buru tanpa menoleh lagi. Mengabaikan panggilan Vika yang terlihat khawatir padanya.
"Mbak Ajeng kenapa? " Dita dengan muka penasarannya bertanya kepada Vika.
"Kenapa Sit? " Vika balik bertanya kepada Siti.
"Ya aku engga tau lah, emang aku adiknya" Siti menjawab dengan ketus.
"Dia nangis tau gak, matanya merah gitu. " Vika berjalan mencoba mengejar. Namun mobil yang di kendarai Ajeng sudah melesat dengan kecepatan tinggi.
"Tadi telpon dari siapa? " Tanyanya lagi.
"Mas Barata" Siti menghentikan pekerjaannya.
"Kenapa ya? kok bisa nangis gitu? Jangan-jangan Ibu kenapa-napa lagi? "
"Coba kamu telpon Ibu Vik" imbuhnya.
Vika langsung menghubungi ponsel Bu Sukma, terlalu khawatir mereka akan kondisi bosnya itu. Namun hanya ada tanggapan dari operator seluler bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif.
"Gak aktif Sit" Meletakan telepon dengan pelan.
"Aduh, gimana ini. Aku udah telpon Mas Naufal nih, dia udah OK in, moga aja Mbak Ajeng gak lama ya perginya" Vika meraih handphone yang ia letakan di atas meja.
"Sepertinya, Mbak Ajeng juga bohongin kita deh Sit" Dita yang sedari tadi hanya sebagai pendengar, kini mulai membuka suara.
"Aku gak nyangka Mbak Ajeng bisa bohong juga"
"Padahal kan Mbak Ajeng selama ini baik, kenapa berbohong? "
"Bohong apa si? " Siti memandang Dita lekat, sementara yang di tanya hanya memandang ke luar tanpa fokus yang jelas.
"Ealah si Gessruk malah bengong"
"Mbak Ajeng bohongin apa? " Siti mulai terlihat kesal.
"Itu, matanya sebenarnya gak belekan, kayaknya dia nangis semalaman den Sit" Dita memasang wajah sendu.
"Ya elahhh Gesssruuuukkkk, aku pikir bohongin apaan" Siti menghela nafas panjang.
"Kita doakan biar Mbak Ajeng baik-baik aja, apapu masalah yang dia miliki, dan yang sedang dia hadapi, kita doakan semoga Mbak Ajeng diberikan ketabahan, kesabaran, kekuatan dan kelapangan hati.
" Aamiin " Mereka bertiga mengucap kata bersama.
Ajeng POV
__ADS_1
Saat ini aku hanya ingin ketenangan. Menjauhi dari hingar bingar lingkungan si sekitarku. Setelah berputar-putar tak tentu arah akhirnya aku melajukan mobilku ke arah rumah. Aku pulang.
Tapi... dengan kondisi seperti ini? Mata bengkak dan kondisi berantakan seperti ini? yang benar saja!
Kuputuskan untuk melewati arah jalan pulang, aku mengambil arah menuju ke peternakan domba. Biasanya jam-jam begini domba sedang di gembalakan. Mungkin berada di tengah-tengah domba bisa meredam rasa menyesakan ini.
Ku parkir mobilku di pinggir jalan, tepat di bawah pohon kersem yang mampu menghalau cahaya mata hari siang ini yang memang tidak terik. Meskipun sudah menunjukan hampir pukul 12 siang, namun kondisi yang mendung membuat matahari tak begitu berpendar sinarnya. Angin sejuk menerpa wajahku.
Aku berjalan memasuki padang rumput yang luas, dengan kacamata hitam yang masih bertengger menutup kedua mataku, dan topi pantai berwarna senada dengan bajuku, untuk menghalau angin yang kadang berhamus kencang secara tiba-tiba.
Aku duduk tak begitu jauh dari domba yang sedang di gembalakan itu. Mencoba menghalau rasa yang kini semakin menghantam hatiku.
Sudah benarkah yang aku lakukan?
Aku seperti orang yang bodoh, dan seperti dejavu, mengalami kondisi seperti ini. Bedanya dulu ketika aku sedang hamcur-hancurnya, Reno datang bak pahlawan. Tapi sekarang? aku sendiri ditemani puluhan domba.
Salahkan aku dengan segala rasaku?
Ketika aku mulai mengubur dalam rasa ini, mencoba menerima Reno, tapi ternyata bayang masa lalu seperti hantu selalu menari di kelopak mataku. Meskipun jarak membentang dengan Bara, tapi lingkungan sekitarku selalu menceritakan tentang dia. Apakah ini bisa dikatakan kalau aku baik-baik saja?
Tidak!!.
Sumpah, sudah sekuat hati aku berusaha semampuku, nyatanya dia selalu datang lagi, menarik ulur perasaanku. Yang aku pun tahu sendiri, pancaran matanya padaku masih terlihat jelas. Bahkan semakin tajam. Entah benci, entah memuja. Yang aku sendiri pun tak bisa merabanya.
Aku selalu berkata ketus, kasar bahkan mengabaikannya semata-mata hanya aku tak ingin rasa yang dulu ada tumbuh lagi. Hahahahah terlalu munafik diriku!!!
Sungguh aku tak tau apa yang sebenarnya aku inginkan. Bolehkah aku egois? menginginkannya untuk kembali padaku? memulainya dari awal.
Aaaarhhhhhhhhhhgggggggggggg
Aku merasa dibodohin oleh diriku sendiri, pengecut, pecundang, munafik!!!!!!!
Aku benci diriku sendiri!!!!
...Mencintai dalam sepi...
...Dan rasa sabar mana lagi...
...Yang harus kupendam dalam mengagumi dirimu...
...Melihatmu genggam tangannya...
...Nyaman di dalam pelukannya...
...Yang mampu membuatku...
...Tersadar dan sedikit menepi...
...Kau yang pernah singgah di sini...
...Dan cerita yang dulu engkau ingatkan kembali...
__ADS_1
...Tak mampu aku untuk mengenang lagi...
...Biarlah kenangan kita pupus di hati...
...Tak ada waktu kembali...
...Untuk mengulang lagi...
...Mengenal dirimu dari awal dulu...
...Hanya meluangkan waktu...
...Sekedar melepas kisah sedihmu®...
Naufal POV
Hari ini jadwalku lumayan padat. Siang sampai sore sudah tercatat beberapa agenda di ponsel pintarku.
Aku yang sudah standby di lebah area Manggala, tempat yang sudah di janjikan dengan sepasang calon pengantin untuk melakukan pemotretan prewedding outdoor, namun karena satu dan lain hal mereka menundanya.
Huah, aku berdecak kesal. Perjalanan jauhku ternyata sia-sia. Benar-benar tidak profesional blas nih orang.
Kulepas helmku yang sedari tadi masih bertengger di kepalaku. Kulihat jam yang melingkat di pergelangan tangan. Sudah hampir duhur. Bentar lagi janjian sama Vika nih. Aku cancel aja apa ya? kayaknya gak keburu juga. Baru aku akan ngWA dia, pesan dari dia muncul. Meminta maaf, kalau janjian yang dia buat sendiri belum ada setengah hari ini pun harus di cancel juga.
Hemmm ada apa sebenarnya dengan orang-orang hari ini. Aku memutuskan untuk meng-nonaktifkan ponselku, meraih kamera DSLR yng beberapa tahun belakangan ini menemaniku untuk mencari nafkah.
Aku sekarang sedang berada di ' Eropanya' Wong Banyumas, tepatnya di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) area Manggala, yang berada di desa Karang tengah, Cilongok. Tepat dibawah area sebelum memasuki curug Cipendok.
Sudah sejak lama sebenarnya aku ingin berkunjung ke sini untuk mengambil beberapa gambar dengan latar belakang domba-domba dan sapi perah yang di naungi dan di bawah pengawasan oleh Direktorat Jendral Peternakan. Selain di Cilongok sini, BBPTU-HPT jga terdapat di 3 titik lokasi lain yang masih berada di kabupaten Banyumas, yaitu di Limpakuwus, Tegalsari, dan Manggang Sari dengan kantor pusat terletak di Baturraden.
Selain pemandangan yang memanjakan mata, dengan kontur tanah berbukit, padang rumput yang luas dan puluhan domba serta sapi perah, suasana di sini cukup menentramkan hati. Beberapa objek aku bidik dengan epik. Dari mulai bukit yang mirip sekali dengan bukit yang berada di film lawas teletubies, rumah yang berada di tengah padang rumput hingga sesosok wanita yang berada di dalam rombongan domba.
Ehh, sebentar tunggu dulu.
Seriusan itu orang? Sendirian gitu?
Ku ambil gambarnya berkali-kali, dari pose dia yang sedang menunduk, mendongakan kepalanya dengan menggunakan kacamata hitamnya, saat melepas topi yang senada dengan warna baju dan domba di sekitarnya, saat kacamatanya dia pindah di atas kepala, menggeser rambut panjang nan indahnya yang tesapu angin.
Sempurna! seperti model yang sedang bergonta-ganti pose, begitu natural.
Sesaat kudengar dia berteriak, mendongakan kepalanya ke atas langit, meremas rambutnya, hingga dia menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Astaga. Apa dia sedang menangis?
Tanganku masih saja mengeklik tombol hitam, dan lensaku tak bisa beranjak dari sosoknya.
Apakah dia sendirian?
Menangis di tengah domba-domba yang sedang di gembalakan? waraskah?
Oh Tuhan. Dia berdiri, membalikan tubuhnya. Matanya melihatku. Memergoki aku yang sedang membidiknya dengan kameraku berkali-kali.
Dia..
__ADS_1
Dia mendekatiku..
® Lirik lagu berjudul Menepi yang di populerkan oleh Penyanyi Woro Widowati