Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
61


__ADS_3

Hari ini jadwal terakhir terapi Ibu Sukma, setelah menghabiskan waktu 3 bulan dengan serangkaian terapi, akhirnya Bu Sukma sudah bisa lepas dari kursi roda, meskipun masih menggunakan kruk atau penyangga untuk mempermudah gerakannya.


Ajeng, seperti biasa, sedari pagi sudah di sibukan dengan perlengkapan yang akan di bawa. Dari mulai menyiapkan kartu terapi sampai dengan kebutuhan ibu yang sekarang menyerupai bayi. Tissue basah, kering, minyak aroma terapi, handuk kecil, air hangat dam ube rampe lainnya.


Seperti pasien pada umumnya, pagi tadi Pak Anto sudah di mintai tolong olehnya untuk mengambil nomor antrian, agar ibu tidak terlalu lama menunggu tentunya.


"Pak Anto udah pulang Jeng? " Ibu keluar dari kamarnya. Menghampiri Ajeng yang sedang menyusun barang bawaan ke dalam tas.


"Udah bu, mau berangkat sekarang?"


"Iya, takut kelewat nomornya kaya kemarin"


"Anita mana? " Ibu mengedarkan pandangan ke segala penjuru. "Oya, Ibu lupa, dia sudah pamit mau ketemu sama temannya, perpisahan kantor katanya. " Bu Sukma bertanya dan menjawab pertanyaan sendiri, di akhiri dengan kekehan kecil suaranya.


"Harap maklum orang tua" lanjutnya.


Semenjak dirinya meladeni perkataan Anita kala itu, hubungan mereka semakin dingin. Ajeng yang enggan banyak cakap dengan Anita, dan Anita yang sepertinya juga menjaga jarak dengan dirinya, semakin mempertegas bahwa semua yang dirinya katakan itu memang benar.


Naufal yang belakangan ini juga sering mengirimkan foto-toto Anita saat bersama bosnya itu, justru semakin membuat Ajeng bimbang. Bagaimana tidak? dia yang juga mengetahui segala kebusukan Anita, hanya bisa diam. Dia tidak mempunyai banyak nyali untuk memberitahukannya kepada Bu Sukma, terlebih sekarang kondisinya baru stabil dan membaik. Sementara Barata? dia tidak tega menambah beban fikiran laki-laki itu. Terlihat sangat jelas raut lelahnya jika dia sedang berbincang dengan ibu melalui video call. Dia tidak setega itu untuk menceritakan segalanya.


Apa lagi hanya dengan menghitung bulan, buah cintanya dengan Anita akan lahir. Dia, tidak akan mungkin bisa merusak kebahagian mereka, yang bahkan Barata sendiripun tidak akan mungkin mempercayai perkataannya.


Sudah sekitar 2 mingguan, Anita resign dari kantornya. Namun tetap saja, dia tidak betah untuk stay di rumah. Mungkin karena terbiasa dengan aktivitas kantor, menjadikan dirinya tidak betah untuk berdiam diri tanpa melakukan kegiatan. Dan dia masih saja keluar rumah tanpa ingat waktu.


"Ya udah, jalan sekarang aja ya" Ajeng meraih tas yang sedari pagi dia persiapkan.

__ADS_1


"Mbok War, kita jalan dulu ya" teriaknya dari ruang tengah, kemudian menggandeng lengan ibu yang sebelah kiri utuk dia apit, tanpa menunggu jawaban dari Mbok War yang sepertinya berada di dalam Kamar mandi itu.


"Anak Ibu makin hari makin cantik aja si" mencubit sebelah pipi Ajeng dengan gemas.


"Iiihh ibuuuuu" rajuknya dengan pipi memerah tersipu.


"Makin cantik berhijab gini, besok ibu mau juga dong di ajari pake ginian"


"Seriusan? Waahh Alhamdulilah, siap kalo gitu, ibi sehat dulu ya, nanti kita jalan-jalan ngabisin uang" candanya dengan tawa lepas.


"Siapa takut" Bu Sukma menjawab dengan tawa yang sama.


Mereka memasuki mobil, dengan Pak Anto yang sudah siap di belakang kemudi.


"Jalan ya Bu" Pak Anto membuka suara, saat kedua wanita masih asyik saja berbincang tanpa ada yang memberi perintah.


Sesaat sebelum memasuki gerbang rumah sakit, ada sebuah notifikasi pesan masuk dari Naufal.


"Jangan lewat pintu utama. Ada Anita dan Daddy sugar nya sedang di poli kandungan" Pesan singkat yang ia baca sebelum kemudian, foto Anita dengan bosnya dia lihat.


Wajahnya pucat pasi, seperti dia saja yang sedang melakukan skandal dan tertangkap basah.


"Emm, Pak Anto kita turun di pintu samping aja ya, aku tiba-tiba kebelet ini. Kalo lewat pintu depan, toilet-nya jauh" Alasan yang tiba-tiba saja terlintas di fikirannya untuk menjauhi poli kandungan yang letaknya tepat di samping kanan pintu masuk.


"Kamu berhutang banyak penjelasan padaku"

__ADS_1


Balasan pesan yang dia ketik secepat kilat, sebelum kemudian dia memasukan kembali ponselnya kedalam tas, dan merileks-kan diri, mencoba memghalau pikiran-pikiran sok tahunya.


"Siapa Jenk? " Bu Sukma mengarahkan pandangannya ke arah Ajeng.


"Kamu sakit? pucet gitu? " Bu Sukma khawatir.


"Engga Bu, gak papa, cuma kebelet banget niihh" ucapnya sembari memegang perutnya yang baik-baik saja itu. "Ibu sini bentar aku lari ke toilet ya. " Mobil berhenti tepat di pintu masuk samping gedung rumah sakit. Dan Ajeng berlari menuju ke dalam rumah sakit. Mengabaikan Bu Sukma yang tetap ingin turun.


Kenapa itu bocah selalu aja ngirimin foto istri Bara ke aku siii!!! apa faedah dan gunanya di sampaikan padaku coba? semakin membuat aku pusing saja!!


Ajeng bergumam sendiri, sembari memasuki toilet, dia mencari kontak nomor milik Naufal, agar lebih mudah menanyakan kejelasannya.


Namun beberapa kali panggilan, panggilan dia selalu di tolak. Sebelum akhirnya, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


"Selesaikan urusanmu dulu, gue sibik. Ntar gue tunggu kamu di caffe depan SMANSA. "


Pesan yang di peruntukan untuknya dari Naufal itu semakin membuat dia kesal setengah mati.


"Share lokasi, ayuh kita gelut " Dengan kesalnya, Ajeng mengirim pesan balasan yang meminta Naufal untuk memgirim lokasinya saat ini, dan mengajaknya untuk baku hantam.


"Gila kamu, bisaanya bikin panik orang, bikin kesel bikin enek!!!!! "


Mengirimkan pesan lagi untuk yang ke dua kalinya pada Naufal, atas kekesalannya yang selama ini seperti di permainkan, dengan hanya dikirimi gambar beserta caption yang membuat dirinya seperti orang bodoh. Bingung akan melakukan apa dengan foto yang berada padanya.


Hapuskah??

__ADS_1


atau Simpan??


Untuk arsip jika di perlukan mungkin?


__ADS_2