Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
75


__ADS_3

"Mbak Jeng, ada Ibu dan Bapak." Pak Anto datang dengan diikuti oleh Mama Suci dan Bapak Rahmat.


Ajeng yang sedang menata meja untuk makan malam itu dikagetkan dengan kedatangan kedua orang tuanya.


"Lah, Bapak Mama? " Ajeng mendekat, meraih tangan keduannya untuk dia cium.


"Kok bisa ke sini?"


"Dari mana? sengaja kah?" Ajeng dengan perasaan tak tenang bertanya.


"Lah kamu juga kok di sini? nginep apa?" Kini Ibu Suci yang bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Ajeng.


"Ngobrol sambil berdiri aja nih? gak suruh duduk? " Pak Rahmat menarik kursi yang berada di sampingnya.


"Eh, iya dong duduk." ucapnya .


"Sekalian makan malam di sini ya?"


"Mampir aja, tadi habis ketemu teman lama, ternyata rumahnya deket sini, jadi mampir sekalian, bentaran. Sebelum ke rumah kamu nanti, eh kebetulan kamu di sini juga." Mama Suci duduk di sebelah Pak Rahmat.


"Ibu mana ? sepi?"


"Ibu siang tadi pergi ke acara lamarannya Bulik Ana di Semarang. Bareng Mbak Runti dan anak-anak. Mama ada perlu?" Ajeng bertanya, sembari menyiapakan air bening.


"Lah kamu?sendiri?"


"Ada tuh Barata, lagi mandi dia."


"Berdua aja? dari kapan?" Mama Suci langsung menancap gas.


"Ya Allah Ma, slow dong. Langsung ngegas gitu. Kalo ntar remnya gak pakem gimana hayooh, nabrak !"


"Barata sakit, masa iya aku tega ninggalin sendiri Ma."


"Udah baikan dia kok, ntar aku juga pulang, Bareng Mama Bapak ya, Ajeng gak bawa mobil." Dia meringis.


"Jangan lagi-lagi berduaan dengan yang bukan muhrimnya. Setan ada di mana-mana." Pak Rahmat yang sedari tadi diam, kini membuka suara.


"Iya Pak." Ajeng menundukkan kepalanya.


Ada benarnya juga perkataan Bapak. Hampir saja dia keblabasan dengan Barata. Memang setan ada di mana-mana.


Ajeng menghela nafas panjang.


"Mau makan dulu apa ngobrol dulu nih?" mengalihkan topik pembicaraan. Bahaya merembet kemana-mana ini kalo di lanjutkan.


"Sebenarnya udah kenyang si, tapi gak baik nolak rejeki kan." Bapak melihat ke arah sop ayam yang masih mengepulkan asap.


"Oke, bentar Ajeng ambilkan piring dulu." Ucapnya sambil berlalu.


"Bu Sukma gak ada, jadi giman? langsung bilang Ajeng aja ya." Mama Suci menatap Pak Rahmat.


"Iya, udah gak ada waktu lagi."


"Ini dia." Ajeng datang dengan membawa piring dan mangkuk.

__ADS_1


"Sekalian Ajeng ambilin ya." Tawarnya.


Ajeng mengisi mangkuk yang di pegangnya dengan dengan sop, dan nasi putih dengan taburan bawang goreng di atasnya, menambah kenikmatan yang haqiqi.


"Ajeng lihat Bara dulu ya, lama sekali mandinya, jangan-jangan pingsan nih." Bergegas menuju ke kamar Bara.


"Bar..Bar...Barata ! " Ajeng mengetuk pintu kamar yang berwarna putih itu.


"Are you Oke?"


Tidak ada jawaban, sepertinya Bara sedang di kamar mandi.


Saat dia akan membuka pintu, dengan bersamaan, pintu di buka dari dalam. Sehingga dia terdorong masuk, dan menabrak tubuh Barata dengan keras.


"Subhanallah, iiih kamuuuuuu !!!!!! Gak bisa dengar apa ada orang panggil-panggil !!! di jawab kek ! " Memukul dada bidang yang terbalut kaos putih itu.


"Ya Allah, aku fikir kamu gak akan buka pintu, Maaf ya sayangku."


"Coba lihat sini mana yang sakit?" Barata justru menggoda Ajeng.


"Jangan pegang-pegang!" Menarik tangannya cepat, kemudian membalikan badan, pergi menjauh.


"Di tunggu Mama sama Bapak aku di meja makan, makanan udah siap." Seketika dia mengingat tujuannya memanggil Barata.


"Serius calon mertua datang?"


"Bentar ganti baju dulu." Raut wajah Barata berubah menjadi serius.


"Gak usah cuma bentar tok." Ajeng dengan cepat mencegahnya.


"Ayoooo." Dengan muka kesalnya, meninggalkan Barata.


"Mah, Pak, sudah lama?" Barata menyapa kedua orang tua Ajeng, kemudian menyalaminya.


"Sehat Mah, Pak." Ucapnya di sela-sela salimnya.


"Ya, lumayan ini. Alhamdulillah sehat-sehat." Dengan tersenyum Mama Suci menjawab.


"Katanya sakit Bar? sudah sembuh?"


"Alhamdulillah mendingan Ma, berkat perawat pribadi." Terkekeh sendiri.


"Iya, Ajeng jago ngurusin orang, tapi gak jago ngurusin diri sendiri." Pak Rahmat menimpali.


Sementara yang menjadi pembicaraan hanya diam, menyibukan diri melayani semua orang yang berada di sana.


"Oya pak, sekalian bilangin titipan dari Bu Weni."


"Ya nanti kita makan dulu." Pak Rahmat menerima sop dari Ajeng.


"Suwun nduk."


Setelah semua orang mendapatkan sop masing-masing, mereka lekas menyantapnya.


"Kurang jahe dikit Jeng, tapi udah enak ." Mama Suci memberikan komentar terhadap masakannya.

__ADS_1


"Iya jahenya habis kayaknya."


Mereka menikmati acara makan malam dengan obrolan ringan, ngobrol hal-hal tak penting yang menyenangkan.


Hingga setelah makan malam selesai, Pak Rahmat mulai berbicara serius.


"Sebenarnya Bapak ingin ngobrol berdua sama kamu, tapi rame-rame gini gak masalah lah ya, lagian Nak Barata kan juga bukan orang lain lagi." Pak Rahmat tersenyum.


"Seriusa banget Pak, what happen?" Ajeng mulai tak sabar.


"Jadi gini, kemarin Ust Weni datang ke rumah untuk bersilaturahmi. Bersama keponakannya yang biasa ngajar di TPQ nya beliau, Nak Salman ingat kan kamu?" Pak Rahmat berbicara dengan tenang.


"Nah, ternyata mereka berniat baik, untuk meminta kamu, menjadi istri Salman."


Barata yang sedang menghabiskan minumnya tersedak.


"Nak Bara, hati-hati ." Mama Suci yang berada di sebelah Barata menepuk-nepuk punggungnya pelan.


Sementara Ajeng hanya diam membisu, sesekali melirik ke arah Barata yang kini raut mukanya terlihat tidak biasa-biasa saja.


"Bapak belum mengiyakan. Bapak meminta waktu untuk menyampaikan ini padamu. Dan beliau memberikan kita waktu sampai Ahad depan, jadi sebisa mungkin untuk Ahad depan, kamu bisa pulang dan memberikan jawaban kepada Ust Weni.


"Terus terang, Bapak sangat berharap banyak padamu untuk ini Jeng, kamu tidak mungkin selamanya akan sendiri kan? "


"Bapak fikir, Salman lelaki terbaik untukmu. Pria yang inshAllah bisa menjadi imam yang baik untukmu, dia tidak mempermasalahkan statusmu, dan kita sudah mengenal keluarganya dengan baik bukan?"


Bapak masih saaja berbicara panjang lebar. Sementara Ajeng, mendengar hal tersebut, hatinya justru entah kemana. Tidak begitu mendengarkan, tapi juga tidak mengacuhkan. Sesekali melirik ke arah Barata yang sudah pucat pasi.


"Dan, sesungguhnya Bapak ke sini juga ingin memberi tahu tentang ini kepada Bu Sukma, sekalian mengundang beliau untuk datang ke acara tersebut."


Pak Rahmat seolah-olah sudah memutuskan sendiri keputusannya.


"Em..Begini pak, sepertinya Ajeng belum siap." Ucapnya perlahan sembari menundukkan kepalanya.


"Coba fikirkan kembali nak, jangan buru-buru mengambil keputusan. Kalau bisa sholat istikharah, meminta hal yang terbaik kepada Allah. inshAllah, semua yang Allah berikan untukmu, itu adalah yang terbaik untuk dirimu sendiri." Menatap Ajeng dengan penuh permohonan.


" Jangan buru-buru Jeng, fikirkan baik-baik. Toh Salman bukan orang asing yang baru kamu kenal kan?" Mama Suci mencoba memberikan solusi.


"Tidak harus sekarang jawabannya, ini pun tidak ada pemaksaan. Keluarga mereka hanya mengutarakan maksud baik mereka. Tidak lebih."


"Mungkin mereka berani meminta kepada Bapak, karena melihat kamu yang selama ini selalu sendiri . "


"Dan memang benar kan, kamu masih sendiri?" Pak Rahmat bertanya.


Semua yang berada di meja makan terdiam. Menunggu jawaban yang keluar dari mulut Ajeng. Sementara yang ditanya, hanya menunduk. Mencoba memikirkan dua pertanyaan yang sama dan di hari yaang sama namun dari orang yang berbeda.


Dia tahu sekali, ada binar harapan di wajah Bapak Rahmat. Tetapi di sisi lain, Sorot wajah pias kini terpampang nyata di hadapannya. Sangat jelas tersirat kekecewaan yang dalam.


Padahal hatinya pun belum tahu apa yang harus dia katakan, pun dengan apa yang sekarang dia rasakan. Terlebih dengan keputusannya yang akan diberikan kepada keluarga Ust Weni. Dan cintanya yang baru saja mulai bersemi.


Duh Gusti Allah, gini amat nasibku.


Batin Ajeng


Gini amat ya Allah..Aku hanya ingin memulai dari awal dengan cara yang benar. Namun, baru saja bunga itu kuncup, sudah di patahkan, layu tanpa ada harapan hidup untuk mekar. Kurang sabar apa aku menjalani ujianmu? kurang perjuangan yang seperti apa lagi yang harus ku lakukan dan jalani?

__ADS_1


Barata mendesah pelan, sangat pelan.


Rasanya sakit yang baru saja menghilang kini datang lagi dengan begitu bertubi-tubi.


__ADS_2