
Namanya juga anak, anak-anak, pasti banyak maunya. Apa lagi kalau sudah ngudreg, beeeuuuh tidak peduli orang tua sedang punya atau tidak, sedang sempat atau tidak, pokoknya kalau lagi mau, lagi ingin, lagi minta ya harus. Gak ada nanti, besok, sebentar apa lagi penolakan.
Dan seperti itulah Ashila sekarang, sejak pulang dari rumah sakit mengunjungi Budhe nya, di paksa pulang lebih tepatnya, apa saja yang Barata lakukan itu salah. Tidak sesuai dengan mood anak itu. Hingga Barata sekarang membiarkan anak itu sendiri di ruang tengah karena tidak mau di ajak pergi ke kamarnya.
"Loh, Shila.. "
"Ngapain? sendirian di sini? " Bu Sukma mendekati anak itu.
Bukan jawaban yang beliau dapati, tapi justru tangisan keras yang terdengar. Tangisan yang dia tahan selama perjalanan pulang itu akhirnya tumpah ruah di rumah.
"Lah kenapa? "
Bu Sukma terlihat kebingungan.
"Kenapa menangis? Ada yang sakit eem?? Coba bilang ke Oma, kenapa Shila nangis? " Mencoba merengkuhnya, namun justru tangisannya bertambah keras dengan badannya yang menjauh dari Bu Sukma. Kakinya menendang-nendanga angin kemudian tubuhnya berguling-guling.
"Astaghfirullah."
"Bar.. Barata, kau apakan anak ini hemm? " Bu Sukma berteriak.
Barata yang sudah beganti pakaian, mengenakan baju rumahan itu turun dengan santainya.
"Diam atau Papa tidak akan antar Shila lagi bertemu dengan Budhe Ajeng ! " Barata berucap pelan namun tegas. Membuat tangisan Ashila berangsur-angsur mereda.
"Bukannya Ashila sudah bersama Budhe Ajeng? kenapa sekarang nangis minta ke Budhe Ajeng lagi? " Kini Bu Sukma berhasil merengkuh Ashila, bahkan kepala balita itu kini bersembunyi di dada Omanya. Menghindar dari tatapan tajam Papanya.
__ADS_1
"Shila... Shi.. Shila mau sama Budhe juga Papa, tapi Papa maunya pulang.. Shila marah sama Papa! " Suara tangis yang baru saja mereda, kini terdengar melengking kembali.
"Budhe ada pasien Shil, kita tidak boleh menganggu Budhe saat Budhe sedang bekerja. " Barata kembali memberikan pemahaman, setelah tadi berbicara panjang lebar di dalam mobil yang pastinya tidak di dengarkan sama sekali oleh Balita itu.
"Sama Oma dulu yuk, kita ganti baju. Habis itu kita bikin puding telur mata sapi buat Budhe Ajeng, pasti Budhe suka sekali. Gimana? "
" Huhh.. e.. engga.. engga.. mauuu... huuuu! " ucapnya terbata.
"Shila maunya apa? "
"Shi.. Shila mau sama Budhe. "
"Ya udah, yuk kita nyusul Budhe lagi, tapi bersihin badan dulu ya, ini sudah bau acem. Nanti Bude Ajeng gak mau di peluk Shila kalau bau acem, sekalian cuci muka ya biar lebih segar ya, Yuk ! " Bu Sukma berdiri. Menuntun Ashila untuk menuju ke kamarnya. Hingga akhirnya anak tersebut menurut, bersedia mengikuti arahan Omanya.
"Sama anak yang sabar! " Mencibir Barata yang kimi duduk di sofa, melihat keduanya beranjak pergi.
Ajeng POV
Hari ini sungguh hari yang sangat melelahkan, selain pasien yang lumayan banyak, hari ini pun aku diberikan surprise oleh cinta masa lalu, apa lagi kalau bukan pernyataan cintanya kepada ku!
Barata. BARATA AJI DEWANDARU
Aku fikir, rasaku padanya sudah tidak ada. Namun getar hati ini membuktikan bahwa yang aku fikir itu salah. Sentuhan dia, tangisan dia, perlakuan dia, pengakuan dia, membuat getaran itu hadir lagi. Bahkan aku merasakan kembali, sesuatu rasa yang sudah lama mati. Seperti ada banyak kupu-kupu menggelitik di dalam tubuhku. Menggelikan namun mampu membuat hatiku semakin berbunga.
Pintanya untuk dicintai dan mencintai sebenarnya bukan hanya inginnya dia saja. Aku pun begitu. Bahkan di belahan dunia manapun, aku fikir semua orang ingin di cintai dan mencintai orang yang memang benar-benar mereka cintai. Tidak munafikkan hal itu.
__ADS_1
Tanpa mengurangi rasa raguku pada Barata, aku juga butuh waktu untuk memikirkannya kembali. Semua tidak semudah itu, ada banyak perasaan yang harus aku dan dia jaga, ada banyak hal-hal yang harus di selesaikan, terutama dengan keluarga besar.
Terus terang, berkumpul dan bergabung dengan keluarga besar Ibu Sukma, aku merasa tidak nyaman. Masih aku ingat jelas, perkataan mereka tentangku yang tidak bisa memberikan Reno anak. Meskipun lewat sindiran, tapi cukup membuat aku malas dan jera untuk bergabung dengan mereka.
Dan, bila aku harus berada di posisi itu lagi? maaf aku menyerah. Aku tak sekuat itu dengan perkataan nyiyir mereka. Belum lagi mereka yang melihat aku begitu sepele sekali, terutama jika berkumpul keluarga, aku seperti orang asing, terpinggirkan. Entahlah apa yang membuat mereka bisa berlaku seperti itu kepadaku.
Dan terlepas dari itu semua, sungguh cintaku padanya masih sama. Mungkin sekarang justru bertambah berkali-kali lipat setelah mendengarkan pengakuannya, dan dengan melihat keseharian dia yang kuat kokoh tak tertandingi seperti semen itu, membuat aku menjadi iba kepadanya.
Menjadi single parent untuk Ashila tidaklah mudah, apalagi dengan fakta bahwa Ashila sama sekali tidak menuruni gen dia. Sungguh, tidak akan ada lelaki yang seperti dia, jika pun ada mungkin 1 : 1000, dan dia adalah 1 di antara 1000 lelaki tersebut.
Ya, sosok Barata yang covernya mengerikan itu, nyatanya menyimpan begitu banyak stok sabar. Masalah yang dia pendam sendiri, teringat jelas kesungguhan dia saat berbicara. Mungkin inikah saat bahagiaku? barsanding dengannya.
Saat aku serahkan semua kepada Tuhanku, agar dia yang menyelesaikan segalanya tentangku. DIA justru memberikan aku segalanya. Aku percaya segalanya tetangNYA, tentang ketentuan takdirNYA yang pasti sangat baik untuk hamba-hambanya.
Aku tidak menyangka akan seperti ini sekarang, diposisiku saat ini, memperoleh pekerjaan yang semua orang impikan, hidup terjamin sepanjang hayat InshaAllah. Orang-orang terdekatku yang sangat mensuport ku, dan kini, cinta pun mulai datang menghampiri. Semuanya datang tidak dengan tiba-tiba, semuanya datang tidak terlalu cepat, semuanya datang tidak terlalu lambat, karena semua itu sudah di atur sedemikian rupa agar tepat. Tidak kurang bahkan lebih barang satu detik pun.
Innamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụn
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS Yasin 82)
Jika dulu fikirku hanya bagaimana caranya membuat orang di sekitarku bahagia, kini dengan mudahnya Tuhanku memberikan kebahagiaan kepada ku, Jika hujan saja bisa menghadirkan pelangi, bukan hal sulit bagiNYA untuk memberikan kebahagiaan setelah kesulitan bertubi-tubi yang aku hadapi.
Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Dan aku mempercayai itu. Janji Allah itu pasti. Dan tidak akan pernah akan di ingkari.*
Karena sungguh, hanya DIA yang pantas kita yakini, Dan tidak akan pernah membuat kita merasa kecewa.
__ADS_1
Aku ingin, sangat ingin berucap YA dengan lantang. Tapi, apakah akan secepat ini? Rasanya, seperti mimpi , bukan bukan mimpi. Rasanya aku seperti di tarik lagi ke waktu dulu, masa lalu indah bersamanya, Dan apakah akan masa depanku juga akan seperti dulu saat bersamanya? atau bahkan lebih?
*Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S. Al Baqarah: 153)