Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
58


__ADS_3

Aku update 2 bab hari ini ya, jangan lupa scroll lagi ke atas tekan jempol dan tulis komentar sebelum berlanjut bab ini 🤗


Terimakasih 😊😊


"Dan kali ini, Saya meminta secara khusus kepada panjenengan Dek Suci, bolehkah Ajeng tinggal di sini bersama saya? menjadi tanggungjawab saya? "


Memandang Bu Suci dengan penuh harap.


Bu Suci menghembuskan nafas pelan. Sungguh dia tidak tahu kehidupan rumit apa yang anak sulungnya lalui. Dia sama sekali tidak tahu apapun tentang anak pertamanya tersebut. Terlalu jauhkan jarak yang membentang di antara mereka? Sehingga Ajeng tidak pernah bercerita tentang kehidupannya?


"Maaf sebelumnya Mbak, bukan saya hendak melarang, memberat-berati Ajeng. Namun alangkah baiknya kita tanyakan bersama kepada Ajeng. Apa yang baik menurut dia, saya akan dukung itu. Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih, Mbak Sukma sudah begitu menyayangi Ajeng. Terus terang, Ajeng sama sekali tidak pernah menceritakan apapun kepada saya tentang kehidupan rumah tangganya kecuali semua yang baik-baik. Dia memang tidak begitu suka bila orang lain tahu banyak tentang kehidupan pribadinya. Dia sudah dewasa, dia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Terlebih dengan statusnya yang tidak mudah untuk dia sandang. " Bu Suci menghela nafas panjang, entah sudah berapa kali beliau melakukannya.


"Sekarang Mbak Sukma fokus saja dulu dengan kesehatan Mbak ya, jangan terlalu di fikirkan. InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja, Ajeng bisa memilih sesuai dengan hatinya. Dan kita sebagai orang tua harus bisa menerima apapun keputusan Ajeng. " Bu Suci dengan posisi setengah merunduk.


"Lah, Ibu, di cari muter-muter malah mojok berduaan di sini. " Runti yang memang sedari tadi mencari ibunya itu, merasa senang bisa menemukannya. "Loh ibu nangis? kenapa? ada yang sakit? " mendekat karena khawatir.


Dengan keterbatasan gerakan tubuhnya, Bu Sukma tidak sempat menghapus air mata yang masih terlihat basah di pipinya.


"Hah? Engga" Jawabnya bohong yang pastinya tidak di percayai oleh Runti.


"Kenapa? Mau rahasia-rahasiaan sama aku? " Dengan wajah cemberut dan gerakan tangan yang menghapus sisa air mata di pipi ibunya itu, Runti merajuk.


"Beneran sayang" Mencoba meraih tangan anak perempuannya tersebut.


"Yuk kita ke depan lagi, masa tuan rumah sembunyi di sini" Ibunya Suci mencoba mencairkan suasana.


Sementara di lain sisi, Naufal yang sedari berbincang dengan Pak Rahmat, mulai mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Mencari sosok yang beberapa hati ini menghantui fikirannya dengan rasa bersalahnya.


Pandangannya terhenti saat melihat Ajeng tengah menuangkan syrup berwarna merah ke dalam mangkuk besar berisi aneka macam buah.


"Ada yang bisa di bantu? " Membuka suara tepat di samping telinganya, yang membuat Ajeng hampir saja meloloskan botol yang dia pegang.


"Bisa gak sih gak ngagetin"


"Lagian serius banget. Mikirin apa? " Tanyanya sembari mendudukan tubuhnya di kursi samping Ajeng berdiri.


"Yang jelas bukan lagi mikirin kamu" Memandangnya dengan sinis sebentar sebelum akhirnya kembali fokus ke es buah yang kini sedang dia campur dengan krim kental manis.


"Iya.. Iya tau"


"Emm.. Maaf untuk kemarin ya, gue bener-bener.... "


"Lupain aja, gak usah di bahas lagi, aku lagi gak ada energi buat ngladenin kamu" memotong perkataan Naufal dengan juteknya.


"Tapi aku serius dengan apa yang udah gue ungkapin, semuanya tulus dari lubuk hatiku"

__ADS_1


"Termasuk aku yang gak Ada bedanya dengan dia? " Mengedarkan pandangannya, mencari sosok perempuan yang dia cari, yang sedari tadi belum nampak batang hidungnya.


"Ya Tuhan Jeng, engga. Sama sekali engga" Naufal faham dengan maksud perkataan Ajeng.


"Udah Mbak?" Fika mendekat. Memaksa Naufal untuk menutup mulutnya.


"Eh, Mbak Anita mana? " Bukannya menjawab pertanyaan Fika malah tanya balik.


"Lah ya gak tau" Jawabnya sambil meraih gelas yang berada tak jauh dari Naufal. Namun Naufal terlebih dulu meraihnya dan memberikan pads Fika.


"Padahal dari kemarin sudah aku kabarin loh, tapi cuma ceklist 2 aja, gak biru-biru." Ajeng meraih sendok, mencicipi es buah buatannya.


"Sibuk kali, gila banget ya dia ngoyo banget kerjanya. Kalo aku jadi menantu ibu Sukma nih, aku gak bakalan kerja lagi. Buat apa? Semua tercukupi" Ucap Fika sembari mengedarkan pandangannya, takut-takut ada yang mendengar selain mereka.


"Sayangnya kamu gak seberuntung itu Fik" Naufal menimpali.


"Iyah. Coba kalau masih ada stok anak laki-lakinya, aku mau" Terkekeh sendiri.


"Sayangnya gak ada Fik, misalpun masih ada, gue gak yakin mau sama lu" Kini giliran Naufal yang tertawa tertahan.


"Iiih Mas Naufal jahat banget" Merajuk seperti balita


Sementara Ajeng hanya menggelengkan kepalanya tanda heran kepada dua orang yang berada di depan dan sampingnya tersebut.


Berbagai fikiran memenuhi kepalanya.


"Dia suka ke butik gak Fik? " Fika yang sedang berbicara dengan Naufal menoleh.


"Gak permah lah Mbak, mana betah di butik kalau ada trio judes" ucapnya sambil tertawa.


Ajeng menyeritkan dahi. Trio Judes? siapa?" tanyanya sembari menuang es buah ke dalam gelas sebelum nantinya di bagikan kepada tamu.


"Ya kita. Aku, Dita sama Siti" tawanya kembali terdengar semakin membuat suasana semakin riuh.


"Lah di sini bertiga aja udah ramenya kaya di pasar, ngobrolin apa seru banget." Runti datang mendorong kursi roda ibunya, disusul Bu Suci di belakangnya.


"Reunian Mbak Runti, gak tau lagi kan kapan bakal bareng lagi sama Mbak Ajeng, rinduuu lama tidak bertemu" Fika tersenyum.


"Mulai besok Ajeng akan kembali ke Butik, jadi gak usah khawatir rindu" Bu Sukma menatap Ajeng. Sementara yang ditatap justru mendekat.


"Makan dulu yuk, Ajeng siapin ya? " mengelus lengan Ibu Sukma. Ajeng masih enggan untuk menjawab keinginan Ibu Sukma yang sejak semalam terus membujuknya untuk tetap tinggal. Buka apa, ia hanya ingin Ibu tidak terlalu banyak berfikir, memikirkan yang belum terjadi.


"Mama yuk, kita ambil nasi. Apa mau aku suapi juga? kita makan sepiring bertiga? " imbuhnya sambil tersenyum.


"Piringnya gak muat buat bertiga" Jawab Mama Suci. "Yuk, ambil bareng aja" meraih bahu anaknya untuk pergi mengambil makanan.

__ADS_1


"Bentar ya Bu" Beranjak pergi meninggalkan semua orang.


"Gimana Ibu gak sayang sama dia? dia begitu gemati, mengurus Ibu dengan baik" Bu Sukma memandang kepergian Ajeng, yang hanya di balas kata pembenaran dari yang lainnya.


"Bu Sukma tadi minta izin ke Mama, kalo kamu diminta buat menemani Ibu." Mama Suci membuka suara saat sedang mengambil nasi.


Sementara di belakang sana suara Fika, Siti dan Dita sudah saling bersahutan.


"Terus mama jawab apa? "


"Kamu maunya gimana? "


"Aku kasihan sama Ibu kalo di tinggal sendiri. Lihat, menantunya aja tetep kerja, padahal udah Ajeng kabarin kalau hari ini ibu pulang. Dan ibu tau, Ibu Tiwi sama sekali belum nengokin Ibu sampai saat ini" Berbisik di telinga Mamanya.


"Besan loh bu yang sakit, masa iya Anita gak cerita sama ibunya kalau mertuanya masuk rumah sakit" raut kesalnya terlihat jelas di wajah cantiknya.


"Ssstttt Istighfar nduk, mungkin sedang banyak kerjaan, atau sedang sibuk. Jadi belum sempat nengokin" Mama Suci menghentikan fikiran negatif Ajeng.


"Astagghfirullah, ya Allah ampuni hamba" ucapnya.


"Jadi? kamu mau di sini sama Ibu? "


"Emang boleh?"


"Jujur, Ajeng bingung mau jawab apa, dari semalem loh Ibu tanya terus, tapi Ajeng selalu bilang iya iya aja, gak mau nambah beban pikiran Ibu. Perkataan dokter yang selalu jadi bahan pertimbangan aku buat ngadepin Ibu. Takut-takut kalau Ibu drop lagi gara-gara tekanan darahnya naik. "


Mama Suci tersenyum. "Kamu sudah bukan anak Kecil lagi, semua keputusan ada di tanganmu. Mama percaya anak mama ini anak baik, anak yang bisa di andalkan dan di percaya. Apapun itu selama itu baik dan untuk kebaikan, mama dukung. Niatin buat beribadah ya nduk. " Mama Suci tersenyum.


Sementara mata Ajeng sudah berkaca-kaca, kalau saja sekarang dia tidak sedang memegang piring, sudah pasti dia akan menubruk ibunya, memeluk wanita yang berada di depannya itu dengan erat.


"Pesan mama satu, kamu harus bisa jaga diri, tahu diri dan batasan, dan jangan sampai menyimpan rahasia atau masalah apapun kepada mama ya Nduk. "


"Mama sudah cukup diberikan kejutan-kejutan dari orang lain tentangmu. " Ajeng menatap mamanya bingung.


"Hah? kejutan apa? Bapak ora to? " Pak Rahmat muncul dari arah belakang Ajeng, membuat wanita itu menoleh.


"Bapak pun katah kejutan, takut darah tingginya kumat, bahaya nanti. Bikin repot" Mama Suci mencibir suaminya. Dan di balas oleh tawa Ajeng.


"Dahar sekalian nggih pak? " Ajeng menawari Bapaknya untuk makan.


"Lah wis kit mau, ndisiti bareng Naufal. Wong wedok kakehen ngrumpi. Ra sranta li ngenteni. " Pak Rahmat menjawab dengan tolakan. Katanya, tadi beliau sudah makan bersama Naufal. Menunggu para wanita, mereka tidak sabar. Karena kebanyakan ngrumpi/ngegosip.


Seketika perkataanya menjadi bahan tawa Ibu dan anak itu. Memang wanita, tidak di sini, tidak disana sama saja ya. Bahkan Ajeng pun sama. Janji akan menyuapi Bu Sukma malah ngerumpi dengan Mama Papa ya!!!


Dasar Ajeng!!!!

__ADS_1


__ADS_2