Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
60


__ADS_3

Ajeng POV


Aku tau, sebaik apa pun yang sudah aku berikan untuk orang lain, tidak akan dengan mudah di terima oleh semua orang. Ada kalanya hati harus mati, agar bisa mewaraskan diri, mengabaikan apa yang memang seharusnya di abaikan. Perkataan yang hanya merusak mental diri, untuk apa kita beli? Bukankah hanya akan menimbulkan penyakit baru yang justru semakin membuat hati sakit tak terperi?


Ketika omong kosong tak terhenti, cukupkan saja dengan mendiamkan diri. Karena cepat atau lambat semua akan menguap, hilang dengan sendirinya.


Tetapi, sesekali melawan untuk pembenaran diri pun tetap di perlukan. Sebagai wujud dari pemberian hak kepada diri sendiri untuk di perlakukan baik. Ya, kurang lebih seperti itu.


Seperti sore ini, setelah semua orang pergi dengan tujuan mereka masing-masing, dan ibu berada di dalam kamar bersama Mbak Runti, aku langsung menuju ke dapur, memberikan ruang dan waktu kepada mereka berdua untuk saling melepas rindu. Jarak dan kesibukan Mbak Runti, menjadikannya banyak melewati moment berdua dengan Ibu.


Aku memutuskan untuk pergi ke dapur, terlihat Ada Mbok War yang sedang sibuk seorang diri membereskan bekas acara tadi.


" Masih banyak Mbok? atau sudah selesai" ku sapa Mbok War yang baru saja selesai mencuci piring, dan kini sedang meraih mangkuk untuk memindahkan makanan dari piring besar


"Ya Mbak, sekedap malih rampungan niki" Jawabnya yang berkata bahwa sebentar lagi pekerjaanya selesai.


"Gak udah di pindahin mangkok semua, Mbok bawa pulang aja, jadi nanti di rumah gak perlu masak lagi tinggal di angetin. Di sini siapa yang mau makan makanan sebanyak ini? " aku berjalan mendekat ke arahnya.


"Ngge ngenjang malih Mbak, simpen kulkas" katanya (bisa untuk besok lagi, di simpan ke dalam kulkas.)


"Gak usah, ngapain. Bawa aja" Aku meraih Tupperwear, memasukan beberapa lauk.


"Eh, tadi Anita udah makan belum ya? "


Tiba-tiba aku teringat padanya, pulang kantor tadi, dia hanya menyalami para tamu kemudian langsung masuk ke kamar, tidak ikut berkumpul bersama. Entahlah, dia selalu suka seperti itu, enggan mengakrabkan diri dengan orang lain. Mungkin itu sebabnya trio Judes tidak menyukai Anita.


Dan, panjang umur sekali dia. Bibirku baru saja terkatup menutup, orang yang di bicara kan datang menghampiri.


"Kamu masih suka hubungan sama suamiku? " Dia tiba-tiba berada di depanku. Menarik kursi lalu duduk dengan memandang tajam ke padaku.


"Ya, setiap hari suamimu menelpon, berbincang dengan ibu. Kenapa? " aku sangat tidak suka dengan cara bertanya dia yang seolah-olah mengintimidasi.

__ADS_1


"Sudah kuduga, ternyata.. kamu manfaatin ibu buat deketi suamiku, gak puas dapet kakanya sekarang nyoba deketin adiknya? gak tau malu, godain suami orang!!" senyum sinisnya terbit.


"Mbak Anita... "


"Mbok War tolong tinggalin kita berdua ya" Aku memutus perkataan Mbok War yang hendak menjawab Anita.


"Sekalian wangsul mawon kulo Mbak, salam kagem ibu" Mbok War menuju kamar belakang, mengambil tasnya, dan kembali lagi seraya berkata kalau akan sekalian pulang saja Dan langsung aku angguki tanpa banyak tanya lagi.


"Gak salah? "


"Maaf ya Nit, tolong, jangan samakan aku dengan dirimu. Aku gak serendah yang kamu fikir. Atau jangan-jangan kamu berkaca dari diri kamu sendiri? menilai orang lain seperti menilai diri sendiri? "


"Maksud kamu apa ? siapa yang rendah di sini? siapa yang harusnya berkaca? omong kosong macam apa ini" Dia terlihat sangat marah, meja di depannya menjadi pelampiasan amarahnya.


"Bukannya kamu, yang ngegodain suami orang? main belakang dengan bosmu sendiri? kamu fikir aku gak tau kelakuan kamu? " aku sengaja tertawa keras. "Lucu banget yah. " imbuhku saat melihat Mbak Runti muncul dari ruang tengah.


Belum sempat Anita melampiaskan amarahnya lagi, Mbak Runti sudah berdiri di belakangnya.


"Itu Mbak, bosnya Anita ketahuan selingkuh sama bawahannya sendiri, kepergok sama istrinya, main jambak-jambakan di lobby kantor, aku di ceritain sampe ketawa gini. " Aku mengusap setitik air mata yang keluar di sudut mataku. Dapat ku lihat raut wajah Anita yang di paksakan tersenyum. Sementara Mbak Runti menatap Anita dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Bukannya Bosmu sudah ada 2 anak ya Nit? Istrinya juga cantik kok, pernah dikenalin dulu sama papanya Feli waktu bahas dump truck yang di ambil di lising mu." Jawabnya sambil berjalan menuju ke lemari pendingin. Meraih minuman bersoda yang memang selalu ada di dalamnya.


"Mbak Runti masih lama di sini kan? aku mau mandi dulu." Ucapku, enggan terlibat percakapan lagi, terutama dengan Anita.


"Ya udah mandi gih, Mbak ngobrol dulu sama Anita. Kebetulan ada yang ingin Mbak sampaikan. " menarik kursi di sebelahku.


"Yaudah" ucapku kemudian berlalu.


Aku sungguh tidak habis fikir, bagaimana bisa Anita menghianati Barata? sementara yang ku tahu, Anita cinta mati dengannya. Dan bagaimana bisa dia bermain belakang, apa lagi dengan bosnya sendiri, yang nyata-nyatanya sudah beranak istri.


Jiwa psikologiku bergejolak. Menimbang, mengobservasi sebenarnya apa si pemicu ini semua? karena apa? kurangnya waktu bersama? akibat long distance?

__ADS_1


Apa aku perlu dekati Anita? aku cari tau penyebabnya? biar aku bisa bantu mereka? iishhh.. iisshhhh... ishhh mikirin orang banget siih aku!!! hidup sendiri aja masih brantakan gini.


Iya ya? aku mau gimana? stuck gini-gini aja, gak Ada perubahan. Kaya di lingkaran labirin. Nyari jalan buat keluar susah bangettt. Ya Allah nasib janda di sayang mertua, di kekepin terussss.


Author POV


"Barata udah cerita mau ngajuin mutasi? " Runti kembali meneguk soda yang dia ambil di lemari pendingin.


"Sudah Mbak waktu pulang kemarin, mungkin dia sekarang lagi sibuk. Jarang menghubungi " Anita menjawab.


"Kamu? mau sampai kapan gini? "


"Gak cape? gak pingin berhenti kerja? kandunganmu makin besar loh. "


"Iya aku udah mau bikin surat pengunduran diri Mbak, tapi ya perlu proses, gak langsung keluar gitu aja, nunggu ada pengganti aku, paling tidak ya 2 bulanan lagi. Aku juga harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang jadi tanggung jawabku. "


"Ya syukur lah kalo gitu, seenggaknya ibu ada teman ngobrol di rumah, Ajeng gak selamanya akan di sini kan. Dia juga punya mimpi, keinginan yang musti harus dia penuhi sendiri, aku harap kamu sebagai istri harus bisa menjaga martabat suami. Apa kata orang jika perutmu sudah semakin besar tapi masih bekerja."


"Barata memang anaknya cuek, tapi kamu juga perlu tau, segala apa yang kamu sembunyiin dari dia, dan aku tentu saja, pasti akan terbongkar. Jadi aku harap, kamu bisa berfikir berkali-kali lipat sebelum mengambil keputusan yang nantinya bakalan kamu sesali. "


"Dan jangan anggap diamnya kita selama ini, kita gak tau apa-apa ya Nit. Mataku gak cuma ini, tapi banyak" Menunjuk matanya dan mengucapkan kata yang sama, seperti apa yang tadi dia katakan kepada Barata.


Anita hanya diam membisu, tidak menanggapi sama sekali perkataan Runti.


Dapat di lihat raut kecemasan di wajahnya. Hal yang sunggu tidak perlu di khawatirkan jika dia memang perempuan baik-baik.


"Dan satu lagi, tolong bersikap baiklah kepada ibu ku. Kamu bisa mendekatkan diri kepada ibu, atau belajar lewat Ajeng, memperhatikan detail kecil perlakuannya pada ibuku yang membuat beliau nyaman dengannya. Sungguh ibuku tidak pernah membuat beban dan repot dirimu. " Ucapnya sebelum beranjak dari duduknya. Meninggalkan wanita itu duduk sendiri di meja makan.


Kurang main cantik kamu Nit🤭


Kompor mbledug, sabar ya, tahan nafas dulu🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2