
Author POV
Sejak jam 7.30 Naufal duduk di lobby hotel. Menunggu kedatangan dari pihak WO yang sudah biasa bekerjasama dengannya. Tidak seperti biasanya mereka datang terlambat seperti ini. Mungkin jalanan pagi ini macet.
Meskipun kota Purwokerto bukanlah kota besar seperti Semarang maupun Jakarta, tetapi kota ini adalah salah satu kabupaten maju, yang sedang berkembang di Jawa tengah bagian selatan. Selain kotanya yang strategis, di Purwokerto beberapa tahun terakhir ini juga mulai banyak muncul destinasi pariwisata baru. Tak heran jika kota kecil ini sekarang semakin ramai.
Sembari menunggu, akhirnya dia putuskan untuk mengecek ulang settingan kamera kesayangannya, berkali-kali mencoba membidik gambar dan mengambil video.
Dia yang tengah asyik mengambil video, tanpa sengaja, dia merekam dua orang yang baru saja keluar dari lift. Keduanya berjalan beriringan, nampak dengan jelas, si lelaki yang memeluk erat lengan perempuan dengan posesif. Dia langsung mengambil ponsel yang berada di sampingnya dan mengambil foto mereka dari belakang.
"Gila, parah banget nih orang"
Naufal fokus pada dua benda, ponsel dan kamera. "Akhirnya gue punya bukti kan, berani banget si nih cawe"
"Ajeng gak bakalan ngelak lagi nih kalo gue dari kemarin-kemarin emang bener liat nih cewe keluar masuk hotel sama si om-om"
"Video plus foto cukup buat gue kasih ke dia"
Naufal langsung mengirim foto tersebut kepada Ajeng.
"Fal, Sorry telat. Simpang kebondalem macet parah" Risa, salah satu asisten MUA datang dengan tergesa.
Risa sosok gadis yang menyenangkan, pekerja keras Dan penuh dengan ambisi, sudah 2 tahun terakhir ini menjadi partner Naufal, menjadi perwakilan dari MUA yang membawahi Risa. Sedikit banyak mereka sudah mengenal pribadi satu sama lain, karena begitu seringnya mereka di satukan dalam sebuah pekerjaan yang menuntut mereka untuk kompak berada di dalam satu tim.
"Gak masalah"
"Langsung ke TKP nih? " Naufal beranjak dari duduknya.
"Iya, kamu baiknya ikut aku ke kamar pengantin ceweknya dulu aja ya, dokumentasi make up dulu, gimana? "
__ADS_1
"Ntar yang lain nyusul, masih di belakang"
Risa berjalan memasuki lift, dan di susul kemudian okeh Naufal.
"Di lantai berapa? "
"Lima"
Naufal menekan angka lima sesuai arahan Risa. Hingga lift tersebut membawa mereka sampai kamar tujuan.
Setibanya di kamar calon pengantin, ternyata mereka masih belum bersiap, Hingga Naufal di arahkan untuk menuju ke ballroom tempat di mana acara akan diadakan.
Sudah bukan hal aneh lagi bagi dia melihat gemerlapnya lampu hias, aneka macam bunga yang di rangkai dengan sedemikian indahnya, dan hamparan karpet merah di seluruh ruangan.
Foto pranikah calon pengantin pun terpampang begitu epik di depan pintu ballroom, dengan mengusung tema Jawa Banyumasan, seperangkat alat begalan pun tak luput dari acara ini.
Begalan adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas, apabila anak perempuan pertama atau anak perempuan satu-satunya di keluarga tersebut menikah. Didalam acara Begalan itu sendiri, ada pesan atau wejangan yang ditujukan kepada pasangan pengantin.
Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Sebagai layaknya tari klasik, gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu, yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending.
Jumlah penari ada dua orang, seorang bertindak sebagai pembawa barang-barang (peralatan dapur) yang bernama Gunareka, dan seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok yang bernama Rekaguna. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir, cething, kukusan, saringan ampas, tampah, sorokan, centong, siwur, irus, kendil dan wangkring. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Pembegal biasanya membawa pedang kayu yang bernama wlira. Kostum pemain cukup sederhana, umumnya mereka mengenakan busana Jawa.®
Tapi sayangnya, kini ini upacara begalan sudah jarang di temukan, karena difikir terlalu merepokan. Namun sebenarnya di balik cerita begalan itu sendiri, tersirat makna dan pesan yang mendalam utuk kedua mempelai.
Naufal semakin berjalan masuk ke dalam, mengabadikan setiap sudut ruangan, dari mulai meja untuk acara ijab qobul, dekorasi pengantin, stand makanan sampai dengan kursi para tamu undangan.
" Kalo gue yang di depan sana gimana ya"
Tertawa sambil menggelengkan kepala. "Calon aja belum punya" lanjutnya.
__ADS_1
Dan, tiba-tiba saja dia teringat Ajeng. Dia penasaran tentang reaksi Ajeng saat melihat foto yang dia kirim. Yang nyatanya belum Ajeng buka sama sekali.
"Lagi ngapain si, pesan gue belum juga di buka" Mendengus sebal dengan mata yang masih fokus ke layar ponselnya.
Dengan tidak sabar, dia melakukan panggilan suara ke nomor Ajeng. Tak butuh waktu lama akhirnya panggilan di jawab dari seberang, bertepatan dengan datangnya Risa yang melambaikan tangan ke arahnya, mengkode panggilan untuknya.
"Asalamualaikum" Suara Ajeng menggema di telinganya.
"Buka pesanku sekarang" ucapnya cepat kemudian langsung mematikan ponselnya, dan berlalu menuju ke arah Risa.
"Mengganggu ya? " Risa tersenyum
"Maaf"
"No, tidak sama sekali. Gimana? "
"Pengantin pria sudah siap, udah bisa take pictures duluan"
"Oke, langsung kesana aja berarti ya? " tanya Naufal yang di hanya di angguki oleh Risa.
Kenapa setiap aku dekat dengan dia jantungku berdebar gini si? Ada yang gak beres nih,
Wanginya juga nempel terus di hidung gak ilang-ilang.
Risa berjalan di depan Naufal dengan tanyanya yang tak mampu dia jawab sendiri. Sedangkan Naufal mencoba mensejajarkan langkah mereka berdua, sembari menunjukan hasil bidikanya ke arah Risa.
Duh gusti, rasanya pingin loncat aja nih jantung. Please, bekerjasamalah. Setidaknya jangan sampai Naufal mendengar degub jantungku
® www.lpmbursa
__ADS_1