
"Jadi? bagaimana kamu pulang? dengan baju basah kuyup begitu? tidak ada uang dan handphone yang tersisa?" Reno membuka suara setelah melirik Ajeng yang kini sudah mensejajari langkahnya.
"Bukan ingin lancang atau sok perhatian kepada wanita yang baru aku kenal, hanya saja aku ingin berlaku realistis untuk menawarimu tumpangan pulang" imbuhnya.
"Terserah kamu mau atau tidak, aku lebih takut lagi kalau kamu disini sendirian, dijahatin orang kemudian besok masuk berita. Rasanya aku tak bisa hidup tenang, dan kamu pasti akan gentayangan mencari aku yang tidak ada itikat buat menolongmu" Sedikit tawa tertahan keluar dari mulut Reno.
"Ih, pikirannya jauh banget. Gak lucu juga aku mati konyol disini gara-gara nolak tumpangan kan" Ajeng membalas banyolan Reno.
"Tapi maaf lagi nih, mobilku anti banget sama air, joknya terutama. Aku saranin kamu ganti baju deh, biar mobilku gak basah" Reno tersenyum jahil.
"Okeh, aku pilih baju kamu yang banyar. Terimakasih kamu yang baru aku kenal" Ajeng tersenyum lebar, melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk segera menenui sebuah kios penjual baju.
Setelah memilih dan menemukan baju yang dirasanya pas, dia langsung meminta ijin kepada sang empunya kios untuk ikut berganti baju.
"Udah di bayar? " Ajeng bertanya saat meninggalkan kios penjual baju.
"Kalo belum kamu pasti gak boleh keluar gitu aja dari kios itu neneng" Kawan Reno.
"Namaku Ajeng, bukan neneng" tegasnya dengan mata mendelik.
Hhahaahha tawa Reno pecah.
"Aku liat kamu jadi inget adik aku, kayaknya kamu seumuran adik aku, bedanya dia laki-laki kamu perempuan. Usiamu berapa?" Tanyanya sambil mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya, menekan tombol dan terdengar bunyi bip pada sebuah mobil sedan hitam mengkilap dengan sebuah simbol jaguar bertengger di depan mobilnya.
"20 tahun" Jawab Ajeng singkat.
"Silahkan masuk, Reno membukakan pintu penumpang, menutupnya perlahan kemudian berbalik menuju ke arah kemudi. "Wah iya, kamu seumuran adikku, so kamu harusnya panggil aku abang atau mamas atau kakak" dia tersenyum.
Rasanya baru saja dia meluapkan isi hatinya, menangis terisak bertumpu di kedua kalinya. Tapi sekarang? wajah ceria terpampang jelas di raut mukanya. Seperti mempunyai kepribadian ganda.
"Tapi kan kamu bukan kakak aku, jawabnya ketus. Aku panggil Mas aja, Mas Reno. Kebetulan aku gak punya kakak, bisa lah jadi kakak ketemu gede" jawabnya sambil memasang seatbelt.
"Kamu sama siapa ke sini? Rumahmu mana?" Reno mulai menjalankan mobilnya, keluar dari wilayah pantai.
__ADS_1
"Naik bus tadi siang, sengaja pingin lihat sunset. Rumahku Cilongok"
"Seriusan? kamu? ke sini naik kendaraan umum? dari Cilongok? ke Cilacap? Amazing, luar biasa, terniat banget!!! " Reno membelakan mata tak percaya.
"Terserah anda, aku tak memaksa dirimu untuk percaya padaku" Ajeng memalingkan muka, menatap jalanan yang sudah mulai memasuki kawasan pemukiman.
"Cilongok Cilacap jauh banget loh Jeng, sendirian pula. Udah makan belum? "
"Ya lagian siapa yang bilang deket"
"Memang ya kalo orang lagi patah hati, apa aja yang gak masuk akal di masuk akalin, gak ada yang gak mungkin, sakit hati gak sebanding dengan jarak Cilongok-cilacap " tawa Reno yang tertahan terdengar semakin mengejek Ajeng.
"Mari kita berkenalan dengan benar, Aku Reno tinggal di Banyumas, tepat di barat alun-alun Banyumas. "
"Kalo gitu Mas Reno ntar anterin aku ke terminal aja atau turunin aku di pasar Banyumas aja, ntar aku naik bis pulangnya. Biar Mas Reno gak kejauhan. Tapiii aku pinjem uang ya buat ongkos" Ajeng memotong cerita Reno yang belum selesai.
"Iya kita lihat gimana baiknya entar" Jawabnya "Mampir makan dulu yuk, aku laper banget" Tawarnya kemudian.
"Gak usah, aku gak mau nambah hutang banyak sama Mas Ren, lagian rumah kita jauh banget jaraknya. Gak tau kapan bakalan ketemu" Ajeng menolak halus.
"Aku juga tadi cerita banyak sama Mas Ren, tapi aku gak mau di mintai traktiran next time ya"
"Hahahah kamu itu bikin gemes, Santai lah just relaxing"
Akhirnya setelah memasuki daerah Rawalo, Reno menepikan mobilnya ke sebuah rumah makan yang terkenal dengan ayam kremesnya. Ajeng yang selama perjalanan hanya tertidur langsung membuka mata manakala tidak lagi merasakan goncangan halus yang sedari tadi dia rasakan selama perjalanan.
"Sudah sampai, yuk turun. " Reno membuka seatbelt nya kemudian keluar dari mobil dan diikuti oleh Ajeng.
Mereka memasuki rumah makan yang sudah tak begitu ramai pengunjung. Mungkin karena sudah malam, pengunjung sudah mulai berkurang.
Reno memilih duduk di sebuah gazebo di belakang agak menjorok, agar lebih terjaga privasinya.
"Berarti kamu sama sekali gak ada pegangan apapun ya? ponsel dompet? kebawa Ombak? " Reno membuka percakapan sesaat setelah pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
__ADS_1
"Yah, seperti yang Mas Ren lihat. Aku hanya memakai baju pembelian dari Mas Ren. Pembelian atau pemberian nih? duuh utangku banyak banget si Mas." Wajah Ajeng mulai kembali bersungut-sungut.
"Kita baru ketemu kok udah akrab gini? aneh gak sih?"
"Tapi aku kok ya gak ada takut sama Mas Ren ya? "
"Harusnya aku gak mau aja tadi di ajak Mas Ren, kalo Mas Ren ntar di tengah jalan jahatin aku gimana? eem tapi kayaknya gak juga y? kalo niat Mas Ren jahatin aku pasti udah sedari tadi kan? Apa jangan-jangan Mas Ren lagi nyusun rencana buat nyulik aku? " Ajeng tak henti-hentinya bertanya namun di jawab sendiri olehnya. Semakin membuat lawan bicaranya terkekeh.
"Gak usah kebanyakan mikir yang gak perlu di pikirin, kalo mau nyulik buat apa nyulik kamu? pake di ajak makan segala. Anak masih bau kencur. Udah ah ganti topik. Gak usah permasalahin kita baru kenal dan sebagainya. Anggep aja kaya tadi. Kakak ketemu gede" Reno menjawab kegundahan Ajeng.
"Percayalah inshaAllah aku ini orang baik, gak mungkin jahatin anak bau kencur macam kamu. Aku punya adek seusia kamu, sekarang sedang melakukan tugas di Afrika sana. Aku baik sama kamu inshaAllah disana adekku di baikin orang. Aku selalu percaya apa yang sekarang kita lakuin akan kita tuai kelak. Entah di anak, istri, adik, kakak ataupun orang tua. Udah ya gak usah mikir macam-macam dan aneh-aneh. Jarang loh ada mahluk ganteng gini yang baik hati" Reno menghentikan bicaranya saat waiters mengantar minuman.
"Makasi Mas" ucapnya kepada waiters.
"Adik Mas Ren Tentara? " Ajeng menyerupit teh hangat dengan khidmat. Air hangat langsung menjalar memasuki kerongkongannya. Terasa nyaman.
"Iya, dia termasuk prajurit pilihan yang ikut terseleksi buat dikirim ke Afrika dalam tujuan perdamaian dunia. Aku kasihan lihat Ibuku. Merasa kehilangan putra bungsunya. Jarang memberikan kabar, Jadwal yang padat membuat sulit komunikasi. Kadang kita harus benar-benar siap menghadapi kabar paling buruk sekalipun. Nyatanya pekerjaan dia nyawa taruhannya. Makanya tadi saat di pantai, saat aku melihat kamu, aku langsung teringat adikku" jelasnya.
"Semoga Adik Mas Ren selalu dilindungi Allah ya, di lancarkan dalam urusan pekerjaan dan urusannya biar lekas pulang aamiin" doa Ajeng tulus.
"Kayaknya enggak Jeng, bisa jadi dia akan terus diperpanjang sampai batas waktu yang belum bisa di tentukan. Sampai dari atasan dia memerintahkan dia untuk stay di sini. "
"Iya apapun itu semoga di berikan keselamatan dan diberikan hal yang terbaik"
Obrolan mereka terhenti saat dua orang waiters datang membawa menu pesanan mereka. Cukup banyak menu yang Reno pesan untuk mereka berdua.
"Selamat makan"
"Selamat makan"
Ucap keduanya bebarengan.
Dan mereka pun larut dalam aktivitas makan mereka. Mengisi perut yang sedari tadi keroncongan, menikmati dalam diam tanpa berbicara.
__ADS_1
Biasakan untuk meninggalkan jejak berupa like maupun komen, syukur-syukur keduanya. Agar penulis semakin semangat dalam menulis cerita. Terimakasih 😊