
Barata POV
Kupandangi lekat perempuan yang sedang menyuapi Ibu dengan telatennya itu, dia tidak tahu kalau Ibu sedang melakukan panggilan vidio denganku. Dengan santainya dia mengambil ponsel Ibu dan diletakan di sebelah dia, menghadap ke arah ku.
Rambutnya yang semakin panjang dan bergelombang, dengan kaos putih yang membalut tubuhnya memperlihatkan dia yang semakin mempesona. Lama tak melihat, dia terlihat semakin cantik. Kepergian kak Reno sepertinya tidak berdampak apapun padanya. Aku semakin yakin bahwa dia hanya menjadikan kakaku sebagai pelampiasan dendamnya padaku. Wanita licik!!
Ya wanita licik yang sialnya menjadi kesayangan Ibu itu. Aku sama sekali tak menyangka dia masih sering berkunjung ke rumah, aku fikir saat Anita bicara kalau kakakku ada di rumah adalah Kak Runti. Nyatanya Ajeng, yang sama sekali tak terfikir olehku.
Ibu menghubungi ku dengan kemarahannya, Anita benar-benar nekat, memberi tahu Ibu tentang aku dan dia yang sebetulnya merupakan kesalahan. Dan itu hanya terjadi sekali. Pun sudah sangat lama.
Aku enggan mendengar ancaman Ibu yang sudah dia keluarkan berkali-kali. Dan aku sudah tidak bisa mengelak lagi. Secepatnya aku harus segera menghadap komandan dan menyiapkan berkas untuk pengajuan nikah kantor.
Aku langsung menghubungi Anita, seperti saran Serka Annas kemarin, untuk segera mempersiapkan berkas yang di butuhkan untuk calon pengantin perempuan. Berkas yang begitu banyak dari mulai SKCk sampai dokumen pribadi dari mulai akta kelahiran KTP, kartu keluarga dan dokumen penting beserta dengan kepunyaan orang tuanya.
Oya, sedikit bercerita tentang Anita, dia anak perempuan pertama dari 3 bersaudara. 2 adiknya berjenis kelamin laki-laki, menurut cerita yang ia tuturkan kepadaku, ayahnya pergi meninggalkan mereka dengan kekasihnya. Ibunya membesarkan mereka sendirian. Mungkin itu yang membuat dia begitu overthinking dan overprotective kepadaku, masa lalunya yang membuat dia terbayangi, takut akan mengulang kejadian yang sama di masa depan.
Hingga 3 kali panggilan, tidak ada respon apapun dari dia. Tumben sekali dia berlagak seperti ini. Biasanya baru 3 kali nada sambung terdengar, dia langsung menyambar. Kuputuskan untuk bersiap menyambangi komandan.
Anita POV
Suara ponsel terus menggema di ruangan yang terasa panas ini, membuyarkan kenikmatan yang hampir saja aku capai. Rafli yang sedang berada di atasku rasanya tidak terganggu dengan hal tersebut. Begitu Rafli berhasil mencapai puncaknya, aku bergegas turun dari ranjang, menggapai tasku yang berada di meja kamar hotel, dan menutupi tubuh polos ku dengan selembar selimut. Barata!!
Tumben menelpon, ada apa? kucoba untuk menghubunginya kembali, namun ternyata nomornya di nonaktifkan. Sial!
"Siapa Nit" ternyata sedari tadi dia mengawasiku.
__ADS_1
"Calon suami Pak" Jawabku sombong.
Ya, Pak Rafli adalah supervisor di kantorku, dia yang selama ini menyuplai aku dengan puluhan lembar uang ratusan ribu untuk menunjang kehidupanku.Dia pria beristri dengan 2 orang anak.
Berawal dari rasa sukanya padaku, dan aku yang menanggapi untuk ku manfaatkan uangnya, ternyata malah kerkungkung di hubungan yang saling melengkapi. Dia yang tidak puas dengan service istrinya dan aku yang puas mendapatkan lembaran merah dari dirinya merasa sama-sama di untungkan.
Aku dijemput olehnya, sesaat setelah melakukan drama dengan calon mertua. Toh aku tidak berbohong kan bahwa atasanku yang menjemputku karena dia memang atasanku, dan untuk tentang meeting, kita berdua memang melakukan meeting berdua, saling mencari kesepakatan masing-masing. Aku dengan uangnya dan dia dengan tubuhku.
"Seriusan kamu bakalan nikah dengan dia? nikah sama aparat ada cek keseluruhan loh Nit. Cek kesehatan sampai ke Pera wanan, kamu gak takut ketahuan?" Rafli berjalan memasuki kamar mandi. Usianya yang hampir kepala lima itu masih terlihat gagah, hanya saja perutnya yang sedikit membuncit.
"Aku yakin Barata orang cerdas. Dia bisa mengurus segalanya" Aku menjawab dengan begitu percaya diri. Bagaimana tidak percaya diri? Barata sudah pernah menikmatiku, dia harusnya lebih bisa atau apa-apa yang harus dn tidak dia utarakan saat nikah kantor nanti.
Sejujurnya akupun sudah memulai menyiapkan berkas-berkas yang nantinya akan di perlukan, tinggal beberapa dokumen lagi yang harus aku ambil ke koramil. Aku bukan wanita bo doh yang hanya diam saja, jaman sekarang tanya ke mbah Google langsung bisa di jawab. Lebih mudah, efektif dan efisien.
Seribu persen aku yakin, dalam waktu dekat ini Barata akan segera mengurusnya, tidak ada lagi alasan sibuk dan lain sebagainya. Ibunya suduh cukup di andalkan. Dan sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Bara, dengan segala apa yang dia miliki.
"Aku tidak akan berani mengambil resiko dengan bermain di belakangnya Pak" Aku membalikan badanku menghadapnya. Meraih da da bidangnya yang ditumbuhi oleh rambut.
"Bagaimana bila aku rindu dengan ini? " Balasnya smbil memegang dua bagian tubuhku dengan kedua tangannya.
Aku hanya meringis ketika kedua tangannya mulai bergerilya dan bi birnya mulai menelusuri leherku dengan ba sah.
" Sepertinya aku tidak akan bisa melepaakanmu" Tangan kekarnya mere mas pinggangku keras.
Aku melenguh dengan perlakuan kasarnya, namun juga menikmati cum buan yang dia berikan.
__ADS_1
"Jadikan ini sebagai yang terakhir dan aku ingin mencoba menabur benihku dengan benar tanpa penghalang" Ucapnya seraya memasukan satu bagian tubuhnya dengan kasar.
Membuatku memekik kaget dan meras rambutnya kasar.
" Kau menyukainya emm? " Rafli menghujaniku dengan ci uman ba sahnya, disertai dengan gerakan cepat di bawah sana yang semakin membuatku berteriak merasakan hal yang begitu luar biasa bagiku. Rasanya begitu nikmat.
Kami melakukannya dengan berdiri, aku yang awalnya bersender di tembok, seketika diraih olehnya ke dalam gendongan, dengan kedua kakiku melingkar di pinggulnya, dia berjalan menuju ke ranjang. Kami berbaring dengan tubuh yang masih terpaut. Rafli semakin menggila menghujani bagian bawahku dengan keras dan cepat. Membuat aku hilang kendali dan meneriakan namanya berkali-kali. Hingga aku dan dia meraih puncak dalam waktu yang sama.
"Kau sangat nik mat beiiib" Dia meraup nafas sebanyak-banyaknya. Aku pun melakukan hal yang sama. Saling berebut bafas.
Dan aku masih saja ter lentang tanpa merespon perkatannya. Setelah ini, aku harus segera membeli obat untuk pencegah kehamilan.
Aku tak mau rencana yang sudah aku susun jauh-jauh hari gagal begitu saja.
Melepaskan Barata sama saja dengan mengakhiri hidupku sendiri. Dia sudah hampir berada di genggamanku. Sebentar lagi Bar. Sebentar lagi kau kugenggam dan tak akan pernah ku lepaskan.
Silakan hujat Anita, jangan authornya yaa๐๐
Kabuuurrr๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ
Selamat bermalam minggu
Jangan lupa untuk vote dan komennya ya Bu๐
Sampai jumpa di lain waktu
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu๐ค