Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
52


__ADS_3

"Aku lagi ngajuin mutasi, doakan agar di berikan kelancaran"


Setelah memenuhi permintaan istrinya mencari bakmi, kini mereka sedang menuju ke arah jalan pulang,


Seharusnya mereka kembali ke rumah sakit, namun Anita mengeluh bahwa perutnya tidak nyaman kepada Barata, dan ahirnya Barata memutuskan membawa Anita pulang agar bisa beristirahat.


"Aamiin, aku harap kalo anak kita lahir, kita sudah tidak berjauhan seperti ini, lagian sekarang pun dia ingin sering-sering di tengok oleh Ayahnya" ucapnya sambil bergelut manja di lengan Barata.


"Udah lebih dari enam bulan loh yank, kamu gak nengokin. Gak kangen? "


"Padahal aku dan si adek kangen banget" memandang Barata yang masih fokus memegang kendali mobil.


"Sabar" ucapnya datar.


"Kapan periksa dokter? "


"Udah minggu lalu, kalo tau kamu pulang, aku bakal nunggu. Biar kita bisa lihat adek bareng-bareng"


"Sayangnya engga."


"Ya kamu tahu sendiri kan kondisiku gimana. "


"Iya.. iya" melepaskan tangannya dari lengan Barata.


"Aku langsung ke rumah sakit lagi ya" Barata menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan rumahnya.


"Gak turun dulu? gak kangen sama aku? " Anita memasang wajah sedihnya.

__ADS_1


"Ibu sendirian kan, nanti malam aku harus balik lagi ke mes" ucapnya, berharap istrinya itu bisa memahami tanpa merajuk.


"Aku pun" Membuang muka.


"Aku butuh kamu, aku kangen. Kamu gak pernah bisa ngertiin aku. " Keluar dari mobil dan membanting pintu sekencangnya.


Dengan terpaksa Barata akhirnya memarkirkan mobilnya, dan menyusul istrinya masuk ke dalam rumah.


Dia langsung menuju ke kamar, ke mana lagi Anita pergi kalau tidak ke kamarnya. Di lihatnya, Anita sedang membuka almari pakaian, dengan hanya mengenakan bra, dan celana d alam dia memilih pakaian yang akan di kenakannya sendiri. Sedang kan Barata melihatnya acuh tak acuh. Seakan itu sudah bukan hal baru lagi. Seperti tidak punya na fsu untuk mendekati.


Padahal, Anita berharap dia akan mendapatkan pelukan hangat dari Barata, di cu mbunya seluruh tu buh sintalnya yang menurutnya dia sendiri sangat menggoda.


Namun, bisa-bisanya Barata hanya memandangnya sekilas dan langsung masuk ke kamar mandi.


"Normal dia gak sih" mendengus sebal sambil memakai pakaiannya, kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang.


tak berselang lama, Barata keluar.


"Tidurlah, biar perutmu semakin membaik" duduk di sebelah istrinya, memegang perutnya pelan.


"Aku kangen" meraih tangan Barata.


"Nanti malam kan udah berangkat, istirahat aja dulu temanin aku, gak tau kan pulangnya kapan lagi" Anita menggodanya, memainkan jemari lentiknya di wajah tampan Barata. Sedangkan tangannya yang lain sudah mulai bergerilya di bawah sana, meskipun masih terbungkus rapat oleh celana, tapi Anita bisa merasakan perubahan pada benda yang awalnya lesu itu kini mulai mengeras.


Anita mendekatkan wajahnya, mulai meraup bi bir suaminya tersebut, me lum at nya dengan perlahan. Hingga sekian lama akhirnya pertahanan lelaki di depannya runtuh. Membalas lu matan Anita hingga akhirnya bi bir mereka saling terpaut.


Tangan Barata yang tadinya pasif, kini mulai aktif. Dia memasukan tangannya ke dalam pakian yang di kenakan Anita, meraih dua gundukan bukit kembar yang sekarang puncaknya sudah mengeras. Bukit yang besar itu, tak bisa hanya ditangkup dengan satu tangannya. Akhirnya kedua tangannya beraksi.

__ADS_1


Sementara Anita sudah mulai terbuai, de sahan yang keluar dari mulutnya mulai terdengar. Tangannya mulai membuka kancing yang sedari tadi dia coba buka, untuk meloloskan pusaka yang sudah berdiri tegak di baliknya.


Hingga tak butuh waktu lama untuk Barata menyatukan bagian tubuhnya yang mengeras itu ke dalam bagian tu buh Anita yang sekarang sudah terasa basah.


Anita yang mendominasi, mencoba menikmati permainan yang sedang mereka lakukan, Barata masih saja terlihat pasif, sama sekali tidak ada inisiatif untuk melakukan hal lain untuk lebih memanjakan Anita.


Hanya terdengar suara de sa han yang saling berbalas, dan suara Anita yang meminta agar Barata lebih cepat lagi untuk memasukan ju nior nya menjadi kan suasana menjadi lebih panas. Namun, sepertinya permintaan Anita tidak dapat Barata penuhi. Ketika tak berselang lama, Barata mengeluarkan cairan kentalnya di sela-sela pa ha nya.


"Aku takut melukainya" ucapnya dengan nafas yang tak beraturan. Membaringkan tubuhnya di samping Anita.


"Apakah semakin sakit? " ucapnya cemas.


"Tidak, bahkan aku merasakan lebih baik, mungkin benar, dia ingin di tengok Ayahnya. Buktinya sekarang dia tak merajuk lagi, sudah tidak ada rasa tak nyaman lagi" Anita tersenyum kepada Barata, meskipun di lubuk hatinya merasa kesal karena dia belum mencapai puncaknya.


"Syukurlah, aku akan membersihkan tubuhku dulu" Barata beranjak dari tidirnya, masuk ke kamar mandi kembali untuk membersihkan tubuhnya. Menghapus jejaak pergemulannya dengan Anita.


"Tak bisakah merileks kan diri dulu? kita berbincang menceritakan keluh kesah masing-masing? ragamu bisa kumiliki, tapi hatimu tak bisa ku kuasai" Anita membuang nafas kasar.


"Aku tidak pernah merasa puas tersentuh olehmu Bar, kamu begitu kaku, tidak bisakah kau membuat sekali saja aku terbang merasakan nikmat? selalu saja seperti ini. Bagaimana mungkin aku hanya tinggal diam saja di perlakukan seperti ini olehmu? sementara aku juga menginginkan kepuasanku. " Bergumam sendiri melihat kelakuan suaminya.


"Apa bedanya aku dengan plac ur yang hanya di nikmat tanpa ikut menikmati? "


Anita mencoba memejamkan matanya,enggan melihat Barata, saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Barata melangkahkan kakainya menuju ke almari pakaian, meraih kaos putih yang berada di tumpukan teratas, dan celana jeans berwarna biru muda. Mengenakannya dengan sedikit tergesa, menyemprotkan beberapa kali parfum ke arah tubuhnya, sebelum kemudian berjalan mendekati Anita, membiarkan rambutnya yang masih basah tanpa di poles pomed, hanya dia rapihkan dengan kedua jari tangannya.


"Aku ke rumah sakit dulu ya" melihat Anita yang dia fikir sudah tertidur, sembari menyentuh lengannya. Kemudian berjalan keluar kamar, menuju ke halaman.

__ADS_1


"Bahkan, untuk sekedar menciumku saja bisa di hitung dengan jari" Anita membuka matanya, berjalan menuju ke arah jendela, untuk melihat Barata memasuki mobil dan meninggalkan pekarangan rumah. Meninggalkan dirinya sendiri di rumah dengan perasaan hancurnya.


__ADS_2