
Rumah sakit
"Sampai kapan kamu mau seperti ini? Mengacuhkan ibuku mementingkan kariermu? kau lihat di dalam sana tadi? siapa yang mengurus ibu? siapa dia?"
"Sungguh aku tidak bisa membaca jalan fikiranmu. Beliau ibuku Nit. "
Setelah semalam menahan amarah, kini Barata bisa meluapkannya kepada Anita. Tentunya setelah menginterogasi Mbok War, saat Mbok War datang di siang harinya untuk menggantikan Ajeng.
"Aku udah gak bisa diem gini aja ya Nit. Pokoknya kamu mau gak mau harus keluar dari kerjaanmu. Sukanya gak suka kamu harus menuruti apa kataku. Aku suamimu!!!" Hentakan suaranya masuk ke kamar Ibu.
"Ooh jadi sekarang kamu mulai mengaturku? posesif padaku? "
Ajeng yang sedang membantu ibu berbaring, mulai terusik dengan suara di luar.
"Panggil mereka Jeng" Ibu memberikan perintah padaya.
Padahal niatan Ajeng, setelah Ibu melakukan fisoterapi tadi, dia akan langsung menidurkan Ibu. Nyatanya gangguan berada di depan sana.
"Nitip Ibu Mbok" pesannya pada Mbok War.
"Tolong jangan membuat keributan di sini, dan jaga perasaan ibu atas kalian. Suami istri seharusnya saling mendukung, bukan menyalahkan satu sama lain, apalagi di tempat umum seperti ini" Dengan begitu kesalnya, dia keluar dari kamar Ibu dan melerai pasangan yang sedang berseteru itu.
"Ibu ingin berbicara" Imbuhnya sambil berjalan ke arah mereka.
"Tolong katakan pada ibu kalau saya ingin ke kantin" Ucapnya sambil belalu.
Ajeng berjalan menyusuri lorong rumah sakit, menuju ke arah kantin untuk sekedar melepas penat, sembari menikmati secangkir espresso mungkin bisa meredakan kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
"Mbak, espresso satu ya" Ucapnya saat sudah berada di depan kasir, sembari meraih satu bungkus roti untuk mengganjal perutnya.
"Tambah ini, berapa? " tanyanya.
Setelah melakukan transaksi, Ajeng memilih tempat duduk di pojokan, agar tidak begitu terganggu dengan pengunjung kantin yang hilir-mudik .
Sembari menunggu, dia membuka ponselnya, menscroll sosial medianya. Namun tiba-tiba dia teringat Naufal.
"Udah kelar belum ya kerjaannya? " gumamnya.
Matanya terhenti saat membuka chat dengan Naufal, membuka kembali pesan yang dia terima dan terfokus dengan foto yang pagi tadi Naufal kirim.
"Kaya pernah lihat orang pakai baju ini"
"Dimana ya? kayak gak asing"
"Permisi" suara pramusaji yang membawa secangkir espresso untuknya membuyarkan fikiran yang sedang coba dia kembangkan.
"Oh ya, Makasi Mas" ucapnya sesaat sebelum pramusaji itu beranjak pergi.
Cukup lama dia berada di kantin, menikmati secangkir espresso dan sebungkus roti membuat dia kenyang.
Ponselnya berbunyi, Ada panggilan masuk dari Ningrum.
"Asalamualaikum, iya Dek"
" Walaikumsalam. Aku di parkiran nih, antar baju Mbak, sama bawa puding buat Ibu Sukma"
"Mbak lagi di kantin nih, bentar Mbak jemput. Parkir di mana? "
"Pintu masuk samping"
__ADS_1
"Yaudah tunggu bentar" Ajeng mematikan panggilan tersebut. Segera menjemput adiknya yang sudah menunggu.
Senyumnya mengembang manakala melihat adiknya yang menenteng tas jinjing, yang mungkin berisi pakaian dia.
"Bawa apa aja si banyak banget" Dahinya mengerut dalam.
"Peralatan Mbak nih, semalam harusnya di titipin Pak Anto, tapi kata ibu gak usah, Mbak mau pulang. Ehh malem-malem Mas Barata telpon, minta ijin Mbak untuk beberapa hari tinggal, nemenin Ibu Sukma. Katanya istrinya lagi di luar kota belum pulang. Yaudinn aku yang di suruh nganterin. Udah aku bawa sampai ke kampus nihh, aku tadi masuk pagi banget. Ribett bawani kek gini. " Muka cemberutnya terpasang di wajah cantik Ningrum.
"Masha Allah, baik bener adekku ini.. uluuu... uluuu" Godanya.
"Yuk, ketemu Ibu Sukma dulu jangan langsung pulang, gak sopan. " Ajeng menarik tangan adiknya, mendekap lengan Ningrum di tangan kirinyaa. Sementara tangan kananya membawa tas yang Ningrum bawa tadi.
"Berat banget si Dek? "
"Semua perlengkapan Mbak Ada di situ. Udah mirip kaya kantong doraemon tau"
"Niatnya hari ini Mbak mau pulang, minta antar Naufal, istrinya Mas Barata udah balik tadi. "
Mereka sampai di depan kamar Ibu Sukma. Dari dalam, samar-samar terdengar suara orang sedang berbicara, karena pintu yang sedikit terbuka, percakapan semakin terdengar jelas.
"Iya, Bara memang masih mencintai Ajeng. Sampai sekarang semua tidak berubah"
"Bara gak tau apa yang membuat Ajeng menikah dengan Mas Ren dan meninggalkan Bara. Yang jelas meskipun Bara tau Ajeng tidak mencintai Bara lagi, Setidaknya kita sudah sepakat menjalani ini semua dari awal. Tidak akan melibatkan perasaan. Terlebih Barata sendiri"
Ningrum yang mendengar itu semua langsung pucat pasi. Ternyata apa yang di fikirkannya selama ini adalah benar, Barata mencintai kakaknya.
Ajeng yang melihat kondisi adiknya, langsung menarik tangannya dan mendudukannya di kursi tunggu di depan kamar Ibu.
"Mbak janji akan cerita semuanya asal kamu diam, jangan pernah berani cerita apapun ke Mama atau Bapak. Apa yang kamu dengar tidak seperti apa yang kamu fikir. Mengerti Dek? " Ajeng menenangkan adiknya yang terlihat shock.
"Semua gak seperti yang adek fikir ya, Mbak mohon jangan berfikir macam-macam. Plis beri waktu Mbak untuk menjelaskan. Tapi tidak sekarang. Ini di luar kendali Mbak. "
Ajeng masih saja terus mencoba memberikan pengertian kepada adiknya yang terlihat sangat kaget.
"Aku sudah menduganya sejak awal. Sorot mata yang memandang Mbak dengan cara lain, binar matanya yang terlihat sangat menyedihkan. Sampai dengan percekcokan Mbak dan Mas Bara di depanku, saat aku Tanpa sengaja berucap cariin pacar yang kaya Mas Bara, dan Mbak langsung ngegas kaya motor remnya blong" Ningrum berkata tanpa memandang kakaknya.
"Sudah, kita lupakan dulu tentang ini, Mbak janji bakalan cerita semuanya. Tapi nanti. Sekarang kita masuk, anggap kita tidak pernah mendengar apapun. " Ajeng beranjak, mengulurkan tangannya untuk di raih Ningrum.
Mereka berdua menghembuskan nafas panjang, menetralkan perasaan, terutama Ningrum.
"Asalamualaikum" Ajeng membuka pintu. Membuat kedua orang yang sedang di dalam memghentikan obrolannya.
Mata sembab Bu Sukma bisa di lihat jelas oleh mereka berdua.
Ibu Sukma langsung merentangkan tangannya, meminta Ajeng untuk memeluknya. Mengerti akan kode tersebut, Ajeng langsung menyambutnya. Memeluk Ibu Sukma dengan hamgat.
"Seharusnya kamu, kamu satu-satumya. Maafkan ibu"
Menangis tersedu di pelukan Ajeng.
"Ibu, Ajeng di sini. Tidak akan pergi. Ajeng di sini bersama Ibu. " Ajeng masih dengan mode pura-pura tidak tahunnya.
"Mbak Anita mana? " Tanyanya kemudian, melepas pelukan Ibu Sukma dan merapihkan rambut Ibu yang sedikit berantakan.
"Duduk Rum" Barata menyapa Ningrum.
"Anita tadi katanya menyusul kamu ke kantin. Gak ketemu? " Menatap Ajeng sesaat.
"Nggih Mas" Ningrum tersenyum kaku.
__ADS_1
"Tidak, mungkin tadi pas aku jemput Ningrum Kali, kita gak bertemu. "
"Oya Bu, Ningrum datang bawa puding kesukaan Ibu nih, mau coba? " Ajeng memperlihatkan puding mangga kesukaan Ibu Sukma.
"Waah Dek Ningrum bikin seneng Ibu saja, terimakasih ya"
"Emm, tapi Ningrum ke sini tidak untuk menjemput Mbak Ajeng kan? " Raut wajah Ibu Sukma berubah.
"Tidak Ibu, tenang saja, nihh malah Ningrum nganter baju buat Ajeng" Ajeng menenangkan hati Ibu Sukma.
" Mbok War mana" Ajeng yang sedari tadi tidak melihat mbok War, langsung merasa kehilangan.
" Pulang dulu tadi di jemput Pak Anto ambil ponsel Ibu. " Kali ini Ibu yang menjawab, mendahului Jawaban Barata.
"Iya kemarin Ajeng juga gak liat ponsel Ibu" Mulai menyuapi Ibu dengan telaten.
Barata yang melihat pemandangan di depannya itu merasa tersentil. Ajeng yang sedang berdiri menyuapi Ibu dan dia duduk di samping yang lain, menjadikan mereka seperti sepasang suami istri yang sedang merawat orang tua yang sakit.
Bagimana bisa Ajeng yang sudah bukan siapa-siapa di keluarga ku menjadi orang yang sangat perpengaruh terhadap Ibu?
Sementara Anita? bisakah dia menjadi Ajeng? sedikit saja mencontoh, bagimana Ajeng memperlakukan Ibu?
Barata Asyik dengan fikirannya sendiri.
Ketika sentuhan halus mendarat di lengannya, dia langsung terlonjak.
"Di panggil dari tadi kok diem aja?" Anita sudah berdiri di sampingnya.
"Maaf, lagi fokus lihat Ibu" Jawabnya.
"Udah? dapat apa dari kantin?"
"Pingin makan bakmi, tapi gak ada." Rengeknya manja.
"Sudah, antar sana dari pada cucu Ibu nanti ileren" Bu Sukma langsung menyuruh Barata mendampingi Istrinya.
Melihat mereka berdua di sini akan semakin membuat Ajeng tak nyaman. Lebih baik mereka pergi.
"Gak papa ya bu tinggal bentar? " Dengan senyumnya dan tanpa tahu diri, Anita mengacuhkan semua orang yang berada di dalam kamar.
Ibu Sukma hanya tersenyum.
"Hati-hati Bar" Imbuh ibunya.
"Ningrum nitip apa? " Barata bertanya kepada ningrum.
"Gak usah Mas, makasih" Jawab Ningrum.
"Yaudah, tinggal dulu ya, nitip Ibu" Barata beranjak dari duduknya.
"Asalamualaikum, wah rame sekali? kumpul keluarga kah? Loh Mbak Anita? perasaan tadi aku lihat di hotel? sudah di sini? "
Belum sempat mereka keluar, pintu terbuka bersamaan dengan masuknya sesorang yang Barata tak sukai.
Sementara yang lainnya hanya saling pandang tak mengerti.
Namun berbeda dengan Ajeng, yang fikirannya langsung terbang, mengingat pesan gambar yang Naufal kirim.
Jadi? orang yang ada di foto itu? pakaian itu?
__ADS_1
Seketika perasaan tegang menghampirinya.
Apa ini ya Allah? jangan dulu, aku mohon. Jangan. Jangan..