Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
29


__ADS_3

"Beleken tuh Mba Ajeng dateng pake kacamata item gitu? " Siti menowel Dita yang sedang serius mengecek stok barang.


"Apaan si kamu, kan jadi berapa tadi kelupaan ahhh" Dita yang memang rada loading itu menampik tangan Siti.


"Itu liat dulu Mba Ajeng" Siti menyikutnya cukup keras.


"Apa si Sit, ahhh kamu... " Dita yang kesal dengan situ berdecak sebal, namun terhenti seketika, manakala melihat Ajeng membuka pintu dengan kacamata hitamnya.


Seperti biasa, setiap pagi butik di riuhkan oleh tingkah Dita dan Siti. Dan Ajeng yang pagi hari ini tak luput dari riuhan obrolan mereka.


"Asalamualaikum" Ajeng membungkam kedua pegawainya yang rusuh itu.


"Walaikumsalam" Jawab mereka serempak.


"Aku ngerasa niih pada ngomongin aku, Kupingku panas soalnya" Ajeng mencibir dia orang di depannya


Dita terkikik.


"Mbak Ajeng kenapa? belekan? Tumben pake kacamata segede gaban itu. "


"Iya nih, beleken makanya aku tutupin, takut nular ke kalian! " Ajeng menjawab ketus sembari meletakan Tasnya di rak sebelah meja kasir.


"Padahal niatnya memang mau nularin si, biar ada temennya" candanya.


"Istirahat aja harusnya Mbak, kecapean pasti tuh Mbak Ajeng" Dita masih berusaha menimpali sembari menghitung stok baju gamis.


"Kurang tidur aja, nanti siang juga kempes sendiri" Ajeng mulai menghidupkan komputer yang berada di depannya, langsung membuka data stok barang dengan menyingkronkan barang yang terjual.


Bukan tanpa alasan pagi ini dia datang dengan mengenakan kacamata hitam, yang menjadi pelindung matanya dari para pegawai ibunya itu, dia yang menangis semalaman, meratapi nasibnya hingga matanya membengkak. Tidak kurang-kurang usahanya untuk mengompres dengan air dingin. Tapi tetap saja tak luput dari perhatian mereka, bahkan malah terlihat mencolok dengan memakai kacamata hitamnya.


Salah staregi pagi ini


"Oya, Vika belum berangkat? " Tanya Ajeng pada mereka.


"Udah kok, tadi ke belakang. Nggantiin baju si cantik manekin dengan model baru" Siti terkikik.


"Coba tolong panggilin dong Dit" Pintanya pada Dita.


Vika adalah salah satu desainer andalan Bu Sukma, rencananya hari ini Ajeng ingin meminta pendapatnya tentang pemikiran dia, untuk mendatangkan seorang photograper profesional guna mengambil gambar produk hasil butik ibunya.

__ADS_1


"Yak Mbak Jeng" Vika mendekat sembari menggotong manekin yang sudah rapih dengan tunik berwarna tosca yang berlengan 3/4 dan berhiaskan pita di lengan sisi kanan kirinya.


"Lagi sibuk ya" tanyanya


"Gak gitu si, ada apa Mbak?"


"Jadi Gini, gimana kalo kita ngedatengin Photograper buat fotoin produk-produk kita yang nantinya akan kita pasarkan lewat online, biar kesannya bagus dan dapet sisi yang lebih oke gitu kalo di tangani sama ahlinya. Gimana menurutmu? Nantinya kan kita bikin Website untuk prodak dan harganya sekalian. Jadi jangkauan kita semakin luas. Gak hanya di kota ini aja. Siapa tau dari luar kota bahkan negri biasa tertarik dengan prodak kita" Ajeng mengutarakan pendapatnya.


"Wah ide bagus tuh Mbak" Vika menjawab antusias.


"Aku punya kenalan Fotografer, dia jebolan kampus ungu jurusan fotografi. Jam terbangnya udah tinggi dia, gak perlu diragukan lagi soal pengambilan gambar yang bagus"


"Oke, kebetulan kalo gitu. Coba kamu langsung hubungi ya, kalo ada waktu suruh langsung ke sini aja. Biar prosesnya cepat." Ajeng memberikan saran.


"Wah Mbak Ajeng memang the best lah, wawasannya luas pengalamannya banyak idenya cemerlang" Siti yang mendengar pembicaraan mereka langsung menghampiri.


"Hemm lu Sit" Ajeng hanya mencibir. Tak memperdulikan pujian Siti.


Sedari pagi dia sudah bertekat akan menyibukan diri, berusaha membuang fikiran jauh tentang apa yang ia temukan di kamar Barata. Nanti sepulang dari butik, ia juga akan segera ke kampus biru untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa pascasarjana.


"Coba ntar aku hubungin dia ya Mbak, soalnya dia jadwalnya padat. Semoga bisa nyempil ya" Vika berucap.


Mereka kembali di sibukan dengan tugas mereka masing-masing, Tidak ada suara yang mengusik. Hingga tak beselang lama dering telepon butik terdengar, Siti yang paling dekat dengan telepon kabel itu bergegas mengangkatnya.


"Walaikumsalam, Mas Barata? Iya ini Siti Mas, pripun? oh iya ada, sebentar ya" Siti memandang Ajeng yang kebetulan menolehkan ke arahnya saat mendengar nama Barata yang masih saja membuat hatinya bergetar.


"Mas Barata Mbak Jeng, mau ngomong" Siti berkata tanpa suara.


Dengan ragu, akhirnya dia memberanikan diri, menerima telepon.


"Ya"


Satu kata yang bisa lolos dari mulutnya.


Selama dia menjadi kakak ipar, dia belum pernah memanggil Barata. Dia sendiri bahkan bingung akan memanggilnya dengan sebutan apa. Adek? Mas? dik? entahlah. Semuanya berkecamuk di dadanya saat ini.


Ia memandang beberapa orang yang sedari tadi di sekelilingnya. Siti sedang asyik memasukan beberapa pakaian pesanan kedalam plastik, Dita yang sedang asyik menyetok barang, sedangkan Fika sibuk dengan ponselnya, mungkin sedang menghubungi photograper yang tadi mereka bicarakan.


"Handphone ibu tertinggal. Apa kamu sudah menemukannya? " Barata langsung bertanya tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Ya, HPnya mati, sedang aku cas" Ajeng membohongi lawan bicaranya. Padahal HP itu sengaja dia matikan. Dia enggan untuk berkomunikasi dengan siapapun saat ini. Apalagi menyangkut pernikahan Barata.


"Aku baru saja keluar dari kompi, beserta Anita. Hasil kesehatannya juga baik. Aku hanya mengabarkan kalau kita akan segera menikah"


"........ "


"Kau mendengarku? "


Dengan bodohnya Ajeng menganggukan kepalanya. Dadanya seperti mengeluarkan suara deruan yang sangat kencang. Seakan telinganya sendiri bisa mendengarnya.


"Aku bisa batalkan ini kalau kamu meminta. " Dengan tidak warasnya Barata berucap.


"Selamat" Hanya satu kata yang berhasil lolos dari mulut Ajeng, sementara hatinya sudah remuk redam.


"Kamu membiarkan ini semua terjadi? " Tanyanya.


"Kau merelakan aku? " ulangnya.


Kepalanya menggeleng kencang, air matanya berderai. Namun tidak ada sahutan satu kata pun dari mulutnya.


Apa yang bisa aku harapkan lagi darimu? kamu harus bertanggung jawab atas kelakuanmu itu, Anitas sangat mencintaimu. Tak setega itu aku memintamu untuk membatalkan ini semua, mengakhiri ini semua. Sedangkan katamu saja semuanya sudah selesai.


Tidak ada yang terucap, semua perkataan itu tetahan di kerongkongannya. Hanya deraian air mata yang semakin mengajak sungai. Deras.


"Satu bulan lagi resepsi akan di adakan. Aku harap kau bersedia membantu Anita. Tolong perlakukan dia dengan baik. Setidaknya agar dia merasa nyaman dan betah tinggal bersama Ibu."


Apakah selama ini aku memperlakukan Anita dengan tidak baik?


Pertanyaan itu muncul begitu saja di benaknya.


Dengan sekuat tenaga dia menahan suara isak tangisnya. Dia membungkam erat bibirnya, menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya meremas telepon yang sedang dia pegang, hingga jari-jarinya memutih. Berharap Barata tidak akan mendengarnya.


"Baiklah Jenk, sebenarnya aku hanya ingin memastikan sebelum semuanya benar-benar aku jalani. Aku sudah cukup tahu dengan jawaban diammu. Mungkin aku yang masih terlalu berharap, terlalu percaya diri, dan aku yang terlalu bodoh masih mengharapkanmu. Mungkin memang Anita-lah yang terbaik untuku. Selamat tinggal"


Tut.. tuutt.. tuttt.. tuuutttt


Suara panggilan terputus memenuhi telinganya. Dia hanya bisa meluruhkan badannya ke lantai. Menyenderkan kepalnya ke kaki meja. Dengan isakan dan rasa sakit yang begitu dalam.


Sesakit inikah? atas ketidak mampuannya mengendalikan rasa? atas ketidak mampuan untuk mengutarakan apa yang di sangga hati? Beginilah rasanya? memendam rasa yang sejatinya masih berada di permukaan?

__ADS_1


Tolong, siapapun, bantu aku untuk bangkit.


__ADS_2