Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
92


__ADS_3

Tepat pukul tiga sore, Ajeng sudah sampai di rumah. Ya, selesai menemui Kabid Humas, ia langsung pulang ke rumah setelah mendapat kabar dari Ibu bahwasanya Pak Anto sudah dalam perjalanan menjemput dirinya.


Mulutnya sudah terasa gatal untuk mengomentari keadaan rumah, yang sudah berubah jauh dari saat dia berangkat tadi, kini halamanya sudah disulap dengan aneka mawar yang dirangkai dengan sedemikian rupa. Karangan bunga ucapan selamat dari kesatuan pun sudah menyambut kedatangannya sejak dia turun dari mobil di depan pagar tadi.


Bunga-bunga segar yang sangat cantik berderet di sepanjang jalan dari halaman menuju ke pintu utama.


"Asalamualaikum," ucapnya saat sudah di depan pintu, berjalan dengan kepala yang masih saja mengintai keadaan di dalam rumah yang lebih semarak.


Terlihat beberapa sanak saudara sudah berada di dalam rumah, sibuk mengurus persiapan untuk pengajian.


"Eh, cah ayu? lah wis balik ta?" Bulik Ani menyapanya. "Ra krungu salam e," imbuhnya


(Eh, anak cantik, sudah pulang ta? tidak mendengar salam)


"Bulik sibuk, jadi tidak mendengar salam Ajeng." Ajeng bersalaman dengan Ani, kemudian memeluknya erat.


"Selamat ya, akhirnya Mbak Sukma Ra Mawi wedi-wedi kelangan awakmu." Mencubit pipi Ajeng gemas.


(Selamat ya, akhirnya Mbak Sukma tidak perlu takut-takut kehilangan kamu)


"Wah, gak bener nih Bulik, masa iya istriku dicubit gitu, sama aku aja di sayang-sayang terus kok." Tiba-tiba suara berat yang berasal dari pintu utama berhasil mengalihkan perhatian dua perempuan beda generasi tersebut.


"Lah ini, ini anak bandel juga baru pulang?" Ani langsung saja menjewer telinga Barata.


"Iiihh ampun Bulik.. Ampun," Barata mengaduh, sampai memegang erat tangan Ani agar tidak semakin menarik telinganya.


"Nembe tau roh nek ono nganten kelakuan koyo ngene iki, wis garik ijabe esih pahal wae."


(Baru pernah melihat kalau ada pengantin kelakuannya seperti ini, tinggal ijab masih saja bekerja)


"Wes ndang bersih-bersih, delongkas pengajian e," imbuh Ani yang langsung mengingatkan Ajeng dan Barata (sudah cepat sana bersih-bersih)


"Ibu mana Bulik?" Ajeng bertanya.


"Ibu siram, kowe podo resik-resik ndisit, meh Podo teko ki tamune." Ucapnya dengan melihat jam yang berada di pergelangan tangan kirinya.


(Ibu mandi, kalian bersih-bersih dulu, sudah hampir datang ini tamunya)


"Salim dulu lah, Yank." Barata mengulurkan tangannya, sepertinya dia mengetahui kalau istrinya itu masih menyimpan kesal padanya.


Tanpa membantah Ajeng langsung menerima uluran tangan, yang sedetik kemudian dihadiahi kecupan di dahinya.

__ADS_1


"Yaudah kita naik ya, Bulik. Yuk, Yank." Barata merengkuh pundak Ajeng.


"Aku rindu." Bisiknya di samping telinga Ajeng. "Udah ya, jangan ngambek lagi. Please, ini hari bahagia kita loh." Barata terus berceloteh, sementara Ajeng fokus tetap berjalan tanpa menanggapi.


Barata masih saja mengekori Ajeng, hingga wanita itu masuk ke kamar dan mulai pakaiannya di mulai dari kerudungnya.


"Kamu bersih-bersih dulu gih, nanti sebelum turun kita salat Asar berjamaah." Barata mendekati Ajeng, memeluknya dari belakang. Mengecup kecil-kecil leher yang tak terhalang hijab itu.


"Gimana aku mau bersih-bersih, kamu aja gini!" Ajeng berdecak sebal dengan tangan yang pundak yang sengaja dia gerakan agar Barata menyudahi kegiatannya itu.


"Aku rindu." Dengan suara sendu, mencoba mendapatkan empati Ajeng.


"Jangan diam terus ya, please."


"Hemm."


"Kok Hemm si?" protesnya.


"Iya..iya, yaudah ini lepas, nanti Bulik Ani ngegrebeg kita loh, mau kamu di jewer lagi?" Ajeng berhasil melepas diri dari kungkungan Brata.


"Gimana kalo kita mandi bareng aja? biar cepet?" Barata memberi saran.


"Mandi bareng sama kamu itu bukannya cepet tapi malah tambah lama! dan kamu gak hanya di jewer sama Bulik, tapi di cekik !" Ajeng mengangkat tangannya meniru gerakan mencekik. "Lagian kita gak mandi, nanti 'kan ada siraman juga abis pengajian. Udah akh, cepetan ganti baju!" Ajeng berlari menuju ke kamar mandi.


Mulai membuka pakaiannya.


********


Acara pengajian sudah dimulai. Ajeng duduk diapit oleh Mama Suci dan Bapak Rahmat, sementara Barata duduk dengan Ibu Sukma berhadapan dengannya.


Banyak petuah yang Pak Ustadz sampaikan dalam pengajian, diisi dengan nasihat pernikahan, bagaimana membangun keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah saling menghormati dan menghargai antar suami dan istri, bekerja sama dalam urusan rumah tangga, saling memupuk rasa cinta kasih hingga maut memisahkan, menjalin komunikasi yang baik diantara keduanya.


Terlihat Ajeng begitu serius menyimak nasihat yang diberikan oleh Pak Ustadz. Sementara Barata sama sekali tak melepas pandangan matanya dari sang istri. Mengagumi perempuan yang kini dibalut oleh gamis berwarna putih dengan hijab yang senada dengan gamisnya itu, yang mampu membuat dia semakin jatuh hati, berkali-kali, bertubi-tubi.


"Titip Ajeng ya, Bara. Mama dan Bapak percayakan Ajeng pada kamu, semoga rumah tangga kalian selalu diberikan kebahagiaan, langgeng sampai maut memisahkan, Aamiin." Pak Rahmat menjadi orang pertama yang mereka salami.


"Yang berbakti dengan suami ya, Nduk. Harus patuh, melayani suami dengan baik. Kamu harus bisa jadi air dan udara di dalam rumah tangga, yang menyejukkan dan menenangkan. Harus bisa menjadi pakaian suami, membuat suami bangga karena memilikimu. Apa pun masalahnya, usahakan kalian selesaikan sendiri tanpa campur tangan orang lain. Mama yakin, anak Mama adalah anak solehah yang baik hati."


Suasana haru begitu ketara menyelimuti Saat Ajeng dan Barata saling berdampingan, duduk bersimpuh untuk bersalaman dengan orang-orang tersayang mereka.


Hingga saat pembawa acara menyampaikan bahwa acara siraman akan segera dilakukan, seorang perempuan separuh baya mendatangi Ajeng dan Barata, meminta mereka untuk berganti pakaian, membuat suasana kembali tenang.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, mereka berdua sudah siap untuk melaksanakan prosesi siraman, dimulai dari pihak perempuan.


Ajeng duduk di kursi kayu yang sudah dihiasi dengan bunga, disebelah kanannya terdapat kendil besar berisi air yang sudah dirapalkan doa dan sebuah gayung yang terbuat dari tempurung kelapa sudah siap untuk dipergunakan.


Pak Rahmat menjadi orang pertama yang dipanggil oleh sang perias pengantin untuk melakukan siraman terhadap anak perempuannya itu, sebelum kemudian Mama Suci dan disusul oleh sanak saudara terdekatnya.


Suara pembawa acara yang mengartikan arti dari siraman itu sendiri, kembali mengusik perasaan, hingga tak sedikit orang yang kembali meneteskan air mata haru dan bahagia.


Sepintas, Ajeng melihat sosok Barata yang sedang berdiri menunggu dirinya untuk bergantian melakukan prosesi siraman, dengan hanya mengenakan kain jarik sebagai penutup bagian bawah tubuhnya, Ajeng sedikit tak rela badan suaminya terekspos jelas didepan banyak orang, meskipun yang hadir hanya kerabat dekat dan beberapa rekannya.


Barata yang juga melihat Ajeng sedang menatapnya langsung tersenyum lebar, jelas terlihat sekali binar kebahagian di wajahnya.


Wajahnya langsung memerah, mungkin akan Semerah tomat jika tidak teralihkan oleh sebuah tepukan yang memberitahu jika sesi siraman dirinya sudah selesai, dan saat ini giliran Barata yang akan melakukan sesi siraman.


Ajeng bergegas pergi, mengikuti arahan yang diberikan oleh ibu perias pengantin untuk membersihkan diri di kamarnya, dibantu oleh asisten beliau.


"Tenang Jeng, rileks." Gumamnya pelan pada diri sendiri.


Satrio POV


Sedari pagi ponselku terus saja berbunyi, menandakan ada banyak notifikasi pesan yang berasal dari aplikasi hijau. Tumben-tumbenan, siapa kiranya yang mengirim pesan berjibun, sedikit penasaran aku membuka aplikasi pesan tersebut.


Aku mengernyit heran, saat aku lihat sudah ada puluhan pesan di grup besar pegawai dan tenaga kesehatan rumah sakit tempat aku bekerja.


Tanpa aku buka chat, aku langsung memasukan kembali ponselku ke dalam saku celana dan langsung berjalan menuju ke ruang absensi.


"Pagi, Dokter Satrio." Beberapa pegawai menyapaku dengan hangat.


Aku hanya tersenyum menanggapi, sesekali menganggukkan kepala sebagai jawaban sapaan mereka. Gegas aku melakukan presensi dan langsung melakukan visitasi pasien rawat inap.


"Bareng aja nanti ya, aku belum cari kado buat dr. Ajeng. Sumpah aku gak nyangka kalau beliau sudah jadi istri orang, beruntung banget ya suaminya." Telingaku menangkap dengan jelas perkataan dua orang pegawai perempuan yang sedang berjalan menjauh.


dr. Ajeng? menikah? seketika banyak tanya bersarang di kepalaku.


"Dok," Seseorang memanggilku dari arah samping.


"Dokter Satrio sudah dapat kabar? dokter Ajeng hari ini menikah," Mayang asisten ku di poli mendekat.


Antara kaget, sesal, dongkol perasaan itu menyatu di dalam hatiku.


"Kaget ya? sama, semua orang juga." Diamku ternyata membuat Mayang kembali bersuara, kali ini dia justru tertawa senang.

__ADS_1


"Pasti belum buka grup WA yaah?"


"Seriusan?" tanyaku yang mampu membuat tawa Mayang berhenti dan menatapku bingung.


__ADS_2