Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
24


__ADS_3

AUTHOR POV


"Nita hanya tak ingin membebani fikiran ibu setelah kepergian Kak Barata, Barata menjanjikan setelah empat puluh hari nanti, dia akan langsung mengajukan permohonan ijin menikah, tapi sampai sekarang dia masih dengan jawaban dan alasan yang sama, yaitu belum ada waktu dan dia sedang sangat sibuk" Anita berbicara dengan wajah memelasnya.


Anita menceritakan segalanya yang terjadi dengan Barata. Bercerita tentang versi dia yang di tambah dengan bumbu pelengkap, ben cabe dan banyak cuka agar semakin yahuud di dengar oleh calon mertuanya tersebut. Hingga akhirnya Ibu Sukma luluh dengan ceritanya.


"Ya sudah, biar nanti Ibu yang berbicara dengan dia ya, kamu yang sabar dulu. Ibu pastikan Barata segera menikahimu. Itu janji ibu padamu dan kamu bisa pegang janji ibu ini" Bu Sukma menepuk pelan punggung tangan Anita.


Sementara sepasang telinga yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa diam tanpa berkomentar. Ajeng masih di sibukan dengan membereskan piring yang tadi Ibu mertuanya itu jatuhkan ke lantai karena saking terkejutnya mendengar satu rahasia besar, salah satu anaknya yang ternyata memiliki sikap tak terpuji itu.


Ada sudut bagian di tubuhnya yang terasa nyeri, tapi dia segera menampiknya. Tak elok rasanya jika dia tidak ikut berbahagia, mendukung keputusan Ibu untuk segera menikahkan sepasang kekasih itu, yang bahkan sudah melewati batas.


Anita pamit setelah mendapatkan panggilan telepon dari atasnya yang katanya sudah menunggu di luar.


Ibu Sukma mengantar sampai ke halaman, sementara Ajeng masih dengan kain lap pel yang dia pegang.


"Maaf, jadi merepotkan mu Jeng" Bu Sukma mendekati Ajeng, dan duduk di kursi meja makan.


"Tidak sama sekali Bu. " Ucapnya sambil menuju wastafel untuk mencuci tangannya.


Terdengar suara isakan pelan dari Bu Sukma, yang membuat Ajeng tegopoh menuju ke arahnya.


"Ibu" dia berlutut melihat wajah ibunya yang kini berubah menjadi sendu.


"Ibu gak menyangka Barata bisa berbuat sejauh itu dengan anak orang Jeng, ibu merasa gagal mendidik dia, tidak bisa menjaga kehormatan wanita" tanginya pecah sampai akhirnya beliau tidak sadarkan diri. Beruntung Ajeng langsung bisa menangkapnya sehingga Bu Sukma tidak membentur lantai.


Ajeng yang panik dengan kondisi ibu mertuanya merasa buntu dengan situasi yang dia hadapi.


Dia takan mampu menopang berat tubuh ibunya sendirian. Terlalu berat dia lakukan seorang diri. Beruntung tak lama kemudian Mbok War pulang.


Ajeng langsung berteriak mana kala mendengar suara Mbok War yang mengucap salam.


"Mbok War tolong" Ucapnya sekuat tenaga. Disusul dengan kedatangan Mbok War yang langsung meletakan keranjang sayurnya asal.


"Gusti pangeran, Ibu kengin nopo Mbak" (Gusti pangeran, ibu kenapa Mbak? Mbok War merasakan cemas yang sama seperti Ajeng.


"Tolong saya angkat ibu, pindahin ibu ke kamar" pinta Ajeng.


Dan tanpa menunggu, mereka bahu membahu membawa Bu Sukma ke kamar.


"Tolong buatin teh manis hangat Mbok, sepertinya ibu belum sarapan"


Ajeng mencari minyak kayu putih untuk membalur tubuh Ibunya yang terasa dingin itu. Dari mulai hidung, leher, perut hingga telapak kaki.

__ADS_1


"Ya Allah Ibu, kenapa seperti ini si" Ajeng bergumam sendiri. Tak terasa air matanya menetes, semakin mengajak sungai dan tidak bisa terbendung, semakin deras meluncur membasahi pipinya.


"Ajeng mohon bangun Bu" Suaranya terdengar semakin parau.


"Mbak Jeng, ini tehnya" Ucap Mbok War.


"Seniki ibu dados gampil gerah, lemes. Dahare ugi sekedik." (Sekarang ibu gampang sakit, lemas, makannya juga sedikit).


Dia yang hafal betul dengan kondisi psikis seseorang, menampik berfikir kalau ibu depresi. Bisa saja demikian, ketika seseorang merasa tegar manakala kehilangan orang-orang terdekatnya yang sangat dia cintai berturut-turut dan dengan jarak yang berdekatan. seperti saat ini yang ibu alami, belum lagi sikap ibu yang mencoba kuat dengan keadaan, meskipun dia tahu pasti ada rasa yang menghantam luar biasa ke ulu hatinya. dan sekarang? kabar Barata yang sama sekali tidak pernah Ibu fikirkan sebelumnya semakin membuat Ibu seperti berkali-kali terlempar jauh ke dasar jurang. Di saat dia mulai bangkit, namun keadaan memaksanya untuk tetap terpuruk.


Ibu harus benar-benar segera di tangani sebelum kasusnya menjadi lebih serius lagi, hal pertama dan utama adalah mendampingi dirinya sesering mungkin. Agar dia tidak merasa sepi dan sendiri. Agar rohaninya terisi dengan kehangatan-kehangatan perilaku orang di sekelilingnya.


"Maafkan Ajeng yang egois hanya memikirkan diri Ajeng sendiri tanpa memikirkan Ibu" Gumamnya pelan namun masih bisa terdengar jelas oleh Mbok War.


"Telpon Mbal Runti mawon nopo ken mriki? " Mbok sum memberikan saran agar menelpon Mbak Runti, meminta Mbak Runti untuk datang kerumah. Terlihat jelas Mbok War pun bingung.


"Mbak Runti lagi di Hongkong, beda jam sama sini. Disana mungkin sekarang masih pagi mbok. Dan gak mungkin kan kita ngabarin yang bakal jadi pikiran mereka, kita juga gak tau mereka disana banyak pekerjaan atau bagaimana" Jawab Ajeng.


" Mas Barata? " Mbok War memberi opsi lain.


"Jangan, maksud Ajeng jangan dulu takutnya sekarang dia lagi sibuk ngawal.


" Nggih sampun Mbak" Bu War hanya pasrah sajaa, mengikuti arahan Ajeng. Dia selalu merasa senang jika bersama wanita di sebelahnya ini, selain santun dan lembut, menurut Mbok War Ajeng juga begitu perhatian terhadap Ibu mertuanya ini. Meskipun kini bisa dibilang semuanya selesai karena kepergian Reno, tetapi tidak dengan silaturahmi Ajeng dan keluarga Bu Sukma. Ajeng masih sering berkunjung meskipun hanya sebentar. Memastikan kondisi Ibu mertuanya itu baik-baik saja.


Hingga pergerakan tangan wanita itu mengusik tidurnya.


"Ibu" Ucapnya lembut mana kalau melihat ibunya sudah membuka mata.


Dan dia langsung sigap memberikan teh manis yang sudah dingin itu kepada ibunya.


"Terimakasih sayang" ucapnya tulus.


"Sebentar, Ajeng kebelakang dulu ya"


dengan gerakan cepatnya dia beranjak menuju ke dapur, dilihatnya Mbok War yang sedang sibuk memasak.


"Masak apa Mbok? Ibu udah bangun mau saya suapin" Ajeng meraih piring dan sendok, kemudian membuka tudung saji.


"Sop sama oseng hati ampela Mbak" Ucap Mbak War.


"Kesukaan Mas Ren ya Mbok" Ucap Ajeng sendu.


"Dan Mas Barata Mbak" Imbuh Mbok War sambil meraih piring saji.

__ADS_1


"Ibu juga suka ini", mengambil piring kecil dan memberinya sedikit oseng hati ampela cabe hijau itu yang terlihat menggiurkan.


Mbok War mengambil sebuah nampan, yang diisi dengan mangkuk berisi oseng dan sayur sop itu, tak lupa segelas air putih, kemudian menyerahkan kepada Ajeng untuk meletakan nasi di atasnya.


"Makasi ya Mbak Jeng"


"Halah, harusnya saya yang berterimakasih sama Mbok, Mbok bisa aja" Ucapnya seraya menerima nampan itu.


"Nyuapin ibu dulu ya" Ajeng berlalu.


"Bu, makan dulu yuk. Coba Ibu tebak Mbok War masak apa? " Ajeng menyodorkan nampan berisi makanan itu ke Ibunya sementara ibunya masih tetap di atas ranjang, bedanya dia sudah duduk dengan kepala menyender dan di sangga dengan bantal di bagian punggungnya, dan tangannya memegang ponselnya erat.


"Ajeng suapin ya" Ajeng mulai mencampurkan sedikit lauk ke atas piring, dan mulai menyuapinya perlahan. Tidak ada penolakan dari Ibunya, suasana sangat hening. Sesekali terdengar suara gesekan benda atau barang ringan jatuh, namun Ajeng hanya diam enggan bertanya, dia takut jika itu hanya halusinasinya saja.


"Ibu ingin Ajeng tinggal disini dulu ya, nemenin Ibu. Sampai Barata pulang dan menikah dengan Anita" Bu Sukma membuka suara.


"Terimakasih selama ini kamu begitu menyayangi Ibu, selamanya kamu adalah anak Ibu, dan jangan pernah berfikir untuk meninggalkan Ibu ya Jeng" Suasana kembali melow, menangis tersedu.


Ajeng meletakan piring yang dipegangnya ke atas nakas, meletakan ponsel yang Ibu pegang di sebelahnya, kemudian menggenggam erat tangan Ibunya tersebut.


"Selamanya, selamanya Ajeng akan ada untuk Ibu dan Ajeng tidak akan pernah meninggalkan Ibu" Kemudian merengkuh badan Ibunya, yang dirasa tubuh itu semakin lemah dan tak berisi lagi seperti terakhir kali dia memeluknya.


Dan sebuah suara berat kini dia dengar. "Ibu sudah jangan terlalu banyak berfikir. Biarkan.... "


"Bagaimana ibu tidak memikirkan semua ini? kalau bukan ibu yang mikirin siapa lagi? kecuali ibu sudah mati baru ibu tidak berfikir lagi" Bu Sukma meraih ponsel yang berada di sebelahnya, melepas pelukan dari Ajeng.


Dan ternyata sedari tadi Ibu sedang melakukan panggilan vidio dengan Barata.


Pantes saja seperti ada orang lain di sini. Ternyata si biang kerok sedang bertelepon dengan Ibu.


"Bukan begitu bu" Jawab Barata di seberang sana.


"Pokoknya Ibu gak mau tau, secepatnya kamu nikahin Anita. Kalo kamu masih seperti ini terus.... "


"Iya bu, secepatnya Bara ijin ke komandan" Barata enggan mendengar lanjutan perkataan Ibunya yang dipastikan berisi ancaman tersebut. Akhirnya dia menyerah.


"Ya sudah, Bara mau siap-siap menghadap komandan Bu, doakan diberikan kelancaran. Asalamualaikum" Telepon di matikan secara sepihak.


Dan suasana kembali hening.


"Sebenarnya bukan ini yang Ibu inginkan" Ucapnya lemah.


"Sudah bu, lanjut makan lagi ya, setelah ini Ibu istirahat" Ajeng kembali meyuapi Ibu mertuanya tersebut dengan sayang. Mengalihkan fikiran ibunya dengan mengenang cerita-cerita lucu masa lampau.

__ADS_1


__ADS_2