
Sudah sepekan Ibu Sukma berada di rumah sakit, dan hari ini Ibu sudah diperbolehkan untuk pulang. Ajeng mengurus segalanya sendiri. Dari mulai urusan administrasi sampai dengan konsultasi dengan dokter Saraf dan dokter fisioterapi.
Ajeng sengaja melarang mbok War datang ke rumah sakit untuk membantunya, bukan tanpa alasan Ajeng melakukannya, dia sudah merencanakan untuk mengadakan acara syukuran kecil-kecilan, dalam rangka kepulangan ibu hari ini. Alhamdulillah keadaan sudah membaik, hanya saja masih harus memakai kursi roda dan masih harus melakukan beberapa kali terapi lagi.
Dia sengaja mengumpulkan orang-orang terdekat, dari mulai pegawai butik, keluarganya, keluarga Anita dan Mbak Runti tentu saja yang setiap hari rajin melakukan Video call. Untuk Barata sendiri, dia beberapa hari ini menjadi motivator yang baik untuk Ibunya.
Berbicara mengenai Barata, hubungan Ajeng dengan Barbata semakin intens, setiap hari mereka saling bertukar kabar tentang ibu, meskipun akhir-akhir ini mulai lebih menjurus ke ranah pribadi. Namun masih bisa di atasi oleh Ajeng. Terkadang mereka menghabiskan waktu untuk berbincang, berawal menelpon untuk menanyakan kabar Ibu dan berbincang sebentar, berakhir dengan obrolan panjang mereka berdua sampai salah satu ponsel mereka mati sendiri akibat kehabisan daya baterai.
Untuk Anita sendiri, masih sama. Sesekali manyempatkan diri datang menengok ibu meski hanya sebentar, sekedar mampir saat pulang kerja. Masih saja di sibukan dengan pekerjaannya. Semalam Ajeng sudah mengirimkan pesan kepadanya bahwa esok Ibu sudah diperbolehkan pulang, dan berharap jika Anita bisa ijin untuk tidak berangkat ke kantor dan juga minta Anita untuk mengabari ibunya, karena selama Ibu Sukma di rawat, Ibunya Anita, Bu Tiwi yang notabene adalah sang besan, sama sekali belum menengok Ibu Sukma.
Setelah menyelesaikan proses administrasi, Ajeng yang di bantu oleh Pak Anto, membantu Ibu Sukma memasuki mobil.
"Langsung pulang ya Pak Anto" Ajeng memberikan perintah.
"Njih Mbak"
Jarak dari rumah sakit kerumah tidaklah jauh, hanya butuh 10 menit berkendara, mereka sudah sampai di depan rumah.
"Pelan-pelan ya pak" Ajeng mengingatkan.
"Nuwunsewu Bu" Ucap Pak Anto saat membantu menurunkan bosnya itu dari mobil, dan menaikannya ke kursi roda.
"Terimakasih"
Ajeng mendorong kursi roda pelan, sebelum memasuki rumah, Ajeng memastikan baju dan jilbab yang ibu kenakan sudah rapih.
__ADS_1
"Ibu sudah kangen banget tidur di kamar sendiri, kangen masak bareng kamu di dapur, kangen ngurusin angrek-anggrek itu" tersenyum menatap Ajeng yang sedang membungkuk di depannya.
"Nanti kita lakukan bersama-sama yaa, yang penting Ibu harus sehat dulu" Ajeng meraih jemari ibunya, menggenggamnya erat. "yuk kita masuk" melepas tautan jemarinya dan kembali ke belakang kursi roda untuk mendorongnya.
Dengan hati-hati Ajeng membuka pitu rumah, dan berakhir dengan teriakan dari semua orang yang berada di dalam rumah.
"Surpriseeeee"
Terlihat banyak orang yang berkumpul di ruang tamu, ada Siti, Dita, Fika, Ningrum, Ibu dan Bapak Ajeng, dan Naufal yang tidak Ajeng fikir sedikitpun akan ikut hadir.
Sementara Runti, anak perempuan Ibu Sukma langsung menghampiri, memeluk erat dan menangis. Meminta maaf atas keabsenannya dalam menjaga ibunya tersebut. Tak tertinggal Felly, cucu kesayangan Ibu Sukma yang membawa bunga Anggrek bulan kesukaan omanya beserta dengan pot kecilnya.
"Sudah, ibu sudah sehat, tidak usah terlalu di fikirkan" Ibu Sukma menenangkan. Sejak mendapat kabar dari Ajeng tentang ibunya yang di rawat di Rumah sakit, Runti memang berniat untuk pulang, namun Ajeng memastikan bahwa ibu tidak apa-apa, sudah ada Barata yang mewakili. Bahkan Runti diminta untuk fokus dengan urusannya agar tidak semakin menjadikan beban fikiran. Namun meskipun begitu, setiap ada kesempatan, Runti selalu melakukan panggilan telepon.
"Kamu memang bisa di andalkan dek, Terimakasih ya" Pelukan dari Runti membuat hatinya menghangat.
Naufal menghampiri Ibu Sukma dengan senyum khasnya. " Semoga sehat selamanya Ibu, lekas pulih agar jobku lancar lagi" ucapnya yang dibalas dengan tawa Ibu Sukma.
"Aamiin, aahh kamu gak tulus doain ibunya, ada udang di balik peyek nii" Bu Sukma tak mau kalah dengan candaan Naufal. Sementara Ajeng yang masih berada di belakang Ibunya hanya terdiam. Enggan ikut menanggapi.
"Ibu, ngapunten mboten saged nderek jemput, di tugasi Mbak Ajeng ken damel supris tirose" Mbok War mendekat ke Bosnya itu, mengucap maaf atas ketidak ikut serta dia menjemput karena diminta untuk membuat surprise oleh Ajeng.
"Surprise Mbok" Ajeng membetulkan.
"Iya Supis" ulangnya lagi yang membuat semua orang yang berada di ruangan itu tertawa.
__ADS_1
"Semuanya sudah siap Mbok?" Tanya Ajeng.
"Reeebeeess pokok e Mbak" mengacungkan jempolnya kepada Ajeng.
"Emm Mbak Runti silahkan memberikan sambutan perwakilan tuan rumah"
"Aku? " tanyanya pada Ajeng. Yang hanya di balas dengan anggukan kepala oleh Ajeng.
Runti membuka acara dengan singkat, yang diawali dengan ucapan syukur, terimakasih di tutup oleh doa bersama atas kesembuhan Ibunya yang di bacakan oleh Pak Rahmat. Kemudian acara inti yaitu makan bersama di tandai dengan ibu yang memotong tumpeng. Mereka semua larut dengan suka cita, membaur menjadi satu.
"Dek Suci, bisa minta waktunya sebentar? " Ibu Suci yang memang sedang ingin berbicara secara khusus berdua dengan Ibu Sukma, menyambut keinginan beliau dengan senang hati.
"Tentu Mbak, mari kita menepi, cari tempat yang enak untuk ngobrol santai" Meraih handle kursi roda dan mendorongnya menuju ke halaman samping yang sepi.
"Sebelumnya saya minta maaf sekali ya atas keegoisan saya terhadap Ajeng" Bu Sukma membuka obrolan. "Saya masih saya menginginkan Ajeng untuk tetap bersama saya, saya tidak pernah menganggap Ajeng sebagai menantu saya. Tapi menganggap dia sebagai anak perempuan saya, yang saya sayangi. Bahkan mungkin rasa sayang saya padanya melebihi rasa sayang saya pada Runti dan Barata. "
"Dek Suci tahu? saat dia memilih pergi untuk pulang ke rumah dia, meninggalkan segala fasilitas yang Reno tinggalkan, meninggalkan saya sendiri apa yang saya rasakan?. "
"Sakit, sesakit saat kehilangan Reno. Bedanya dia masih bisa aku lihat, meskipun waktu itu sangat sulit. Aku begitu terluka saat dia menolakku, mengajaknya untuk kembali ke rumahnya sendiri. " Buliran cairan bening mulai memupuk di sudut matanya.
"Semua berubah, saya sama sekali tidak punya gairah hidup, Runti yang begitu sibuk dengan bisnisnya dan suaminya, Barata yang sibuk dengan tugas negaranya dan tak berbeda jauh dengan istrinya. Saya merasa sendiri. Dan hatiku lebih hancur, saat tahu alasan Ajeng menikah dengan Reno. Anak itu, mereka berdua melakukan pernikahannya atas dasar perjanjian" Kini air matanya lolos tak terbendung, terisak tanpa malu di depan Bu Suci.
"Dia benar-benar anak yang baik, begitu tulus hingga mampu menutup aib Reno selama ini. Dia yang selama ini menjadi bulan-bulanan saudara-saudaranya karena tak kunjung hamil, tidak pernah sekalipun menceritakan aib suaminya, bahkan denganku sekalipun. "
Ibu Suci mendekat, mengusap pelan lengan Bu Sukma. Dia sendiri begitu shock dengan apa yang Bu Sukma ceritakan, berusaha sekuat hati untuk mengontrol diri, menyikapi apa yang dia dengar. Ajeng sama sekali tidak pernah bercerita apapun kepadanya selama ini. Yang dia lihat selama ini, Reno dan Ajeng baik-baik saja, mereka bahagia dengan pernikahan mereka. Ajeng sama sekali tidak pernah mengeluh dalam kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1
"Hingga akhirnya, saya menemukan dia kembali, merawat saya di rumah sakit. Saya begitu bahagia. Nyatanya dia masih begitu menyayangi orang tua ini. Perlakuannya terhadap saya tidak berkurang sedikitpun, Saya bisa merasakan itu. Sungguh. "
"Dan kali ini, Saya meminta secara khusus kepada panjenengan Dek Suci, bolehkah Ajeng tinggal di sini bersama saya? menjadi tanggungjawab saya? "