Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
67


__ADS_3

" Tungguin Budhe, Ashila! " Seorang wanita dengan pakaian dinas harian berwarna khaki itu berlari menyusul balita berusia 4 tahun, yang sudah meninggalkan dirinya menuju ke mobil.


Frazeta Ashila Humaira. Anak dari almarhumah Anita itu kini tumbuh menjadi anak yang begitu cantik dan menggemaskan. Perlu perjuangan untuk meyakinkan keluarga Barata agar menerimanya menjadi seorang cucu.


Kala itu, 4 tahun yang lalu, Barata menolak keras akan kepulangan Ashila dari rumah sakit ke rumahnya. Keluarga sudah tahu apa yang selama ini terjadi, sikap Anita, perbuatan dia bersama Bosnya sendiri, hingga melahirkan seorang Ashila, kebohongan-kebohongan Anita, sampai dengan tragedi kecelakaan yang merenggut nyawanya.


Barata tidak ingin Ashila bersamanya, baginya melihat wajah bayi tersebut, sama saja menoreh lukanya kembali, mengingat bagaimana Anita yang sudah mencuranginya, dia yang mengorbankan cinta nya sendiri untuk wanita yang menurutnya tidak tahu diri itu.


"Jangan memaksaku, aku mohon" pintanya berkali-kali kepada orang di sekitarnya.


Ibu Anita sendiri sudah angkat tangan, pasrah terhadap keputusan keluarga Barata. Dia tidak akan mungkin sanggup mengurus Ashila, mengurus dirinya sendiri saja, dia kerepotan. Belum lagi dua anak lelakinya yang tidak ada guna.


Dan untuk Rafi, jangan tanya nasib dia bagaimana, dia pun sama, sudah 'cuci tangan' dengan masalah tersebut. Dia tidak ingin lagi menambah panjang masalah dengan istrinya, konsekwensi yang akan dia terima, dia akan langsung di cutat menjadi kepala keluarga oleh istrinya.


Dan harapan satu-satunya adalah keluarga Ibu Sukma. Mau tidak mau, suka tidak suka, Barata harus mau menerima anak tersebut. Akan sangat tidak elok jika komandan dan kesatuan tahu tentang kisruh rumah tangganya ini. Pasti akan menambah masalah baru yang panjang, dan bukan hanya itu, dia pun akan di berikan sanksi, meskipun bukan dia yang melakukan kesalahan. Karena pada saat kejadian, posisi Anita masih isteri sah nya dan masih menjadi tanggung jawab atas dirinya.


Namun, setelah melakukan diskusi yang panjang, menimbang baik buruknya, akhirnya dia bersedia menerima Ashila. Meskipun awal-awal dia enggan menyentuhnya.


Kebencian tersirat jelas di wajahnya kala itu, hingga suatu saat dia tertampar oleh perkataan Ajeng padanya.


" Kamu boleh membenci anak ini, itu hak kamu. Tapi ingat satu hal, bayi ini gak tau apa-apa, bahkan mungkin dia pun tidak mau dilahirkan dengan cara seperti ini, dia tidak bisa memilih kepada orang tua mana dia di lahirkan, dia tidak bisa menolak dari rahim siapa dia tumbuh. Dia suci, bayi tak berdosa. Tinggal bagaimana kita mendidik dan mengasuhnya. Dia hanya perlu itu. Tidak lebih!! "


Tak hanya itu, Ajeng mendiamkannya berbulan-bulan bahkan enggan untuk hanya sekedar menerima telepon darinya. Semua itu berakhir, tepat di hari ulang tahun Ashila yang pertama. Di mana Barata memberikan kejutan kepulangannya, membawakan begitu banyak hadiah. Memeluk bayi yang beranjak besar itu untuk yang pertama kalinya, mengucapkan maaf berkali-kali yang justru di balas dengan panggilan "Papa" dari Ashila untuk pertama kalinya.


Tidak ada yang bisa melewatkan moment tersebut, tidak ada yang tidak menitikan air mata di sana. Suasana haru biru dan suka cita bercampur menjadi satu. Dan itu lah awal dari segala kisah mereka.


Empat tahun sudah terlewati, suka, duka, tangis, bahagia sudah di lalui dengan sangat baik. Barata yang akhirnya mendapat surat mutasi dari kesatuannya, kini berdinas di Kodim setempat. Sedangkan Ajeng, dia menjadi seorang Psikolog di rumah sakit daerah, terbawa saat pendaftaran CPNS tiga tahun yang lalu.


Kehidupan percintaan mereka masih jalan di tempat. Tidak ada ikatan apapun di antara mereka. Bedanya, mereka kini lebih didekatkan oleh Ashila. Ajeng dengan segala rutinitasnya dan Barata pun begitu.


Berbeda dengan Naufal yang sekarang sudah menemukan tambatan hati, perempuan yang selama ini mengaguminya dalam diam. Bisakah kalian tebak?Ya, dia adalah Risa.


Setelah berkali-kali Ajeng meminta Naufal untuk sadar diri, menyadari bahwa semua yang laki-laki itu lakukan untuk dirinya akan sia-sia. Mengingatkan agar Naufal tidak membuang waktu hanya untuk mengejar cintanya, akhirnya Naufal menyerah.


Sungguh hal yang sangat menggembirakan adalah melihat Naufal bisa move on dan melanjutkan kisah cintanya meski tidak bersama dengan Ajeng. Dia percaya, ada wanita lain yang layak untuk mendapatkan cinta Naufal selain dirinya.


Dengan demikian, Ajeng lebih dari sekedar lega, dia tidak lagi merasa terbebani dengan keadaannya, sekarang fokusnya hanya satu. Yaitu pekerjaannya, pekerjaan yang membuat dirinya lebih tabah, kuat dan percaya diri dalam melewati hidup. Apalagi dengan profesinya sekarang yang mengharuskan dia bertemu dengan banyak orang, semakin menambah pengalaman hidupnya terutama dengan masalah orang-orang yang datang padanya, baik hanya untuk berkonsultasi maupun untuk dia obati.


Sejak Barata pindah tugas, Ajeng kembali menempati rumah peninggalan Reno, memang waktu tempuh ke rumah sakit lebih lama, namun hal itu sebanding dengan ketenangan hatinya. Yang membuat dia lebih nyaman, ya meskipun dia kesepian. Paling rame jika Ada Mbak Ani yang sekarang di pekerjakan lagi olehnya, untuk membersihkan rumah. Terkecuali juga di waktu weekend, Ashila pasti akan menginap di rumahnya, membuat suasana menjadi hidup.


Seperti Senin ini, Ajeng dan Ashila sudah bersiap untuk berangkat bersama ke tujuan berbeda. Ajeng berangkat untuk dinas ke rumah sakit, dan Ashila berangkat ke sekolah. Ya, anak itu sekarang sudah masuk ke Kelompok Bermain sejak berusia 2 tahun, selain membuat Ashila lebih mandiri, ternyata kemampuan perkembangan dia, berkembang melesat dengan sangat baik, terutama perkembangan sosial emosional dan bahasanya.


Meskipun tanpa seorang Ibu, namun cinta kasih yang dia dapatkan dari orang sekitarnya sudah lebih dari cukup. Ajeng yang selalu memantau perkembangan Ashila juga sangat takjub kepada balita itu.


"Besok lagi, kalau Budhe belum membukakan pintu untuk Ashila, Ashila tidak boleh lari dulu ke mobil ya? " Ucapnya ketika sudah berhadapan.

__ADS_1


Budhe adalah panggilan dirinya untuk Ashila yang dia ajarkan sejak anak tersebut sudah dapat berbicara.


"Tapi Budhe lama"


"Harus sabar ya, anak baik harus sabar" ucapnya tersenyum sembari membukakan pintu mobil. Kemudian dirinya berjalan menuju ke sisi lain bagian mobil.


Ajeng menaiki mobilnya, menghidupkan mesin dan membantu Ashila memasang seatbelt.


Baru saja dia akan melajukan mobilnya, ponselnya berdering.


Papa Ashila calling


"Shil, Papa telepon" ucapnya.


"Angkat Budhe.. Angkat... " berteriak kegirangan.


"Hallo Papa, Asalamualaikum" Meraih ponsel yang di berikan oleh Ajeng dengan tidak sabar.


"Hallo Sayang, Walaikumsalam. Waah sudah mau jalan ya? udah cantik begitu emmm? " Wajah Barata memenuhi layar ponsel.


"Iya, Budhe mengantar Shila dulu ke sekolah, Papa nanti jemput? " harapnya.


"Emmm, sepertinya Oma yang jemput hari ini. "


"Iya sudah Papa hati-hati ya "


"Sampai jumpa"


Ucapnya datar kemudian memutuskan panggilan.


"Loh? udah? " Ajeng bertanya. Karena tumbenan Ashila berbincang dengan Papinya sesingkat itu.


"Papa sibuk, tidak bisa menjemput Shila. " Ucapnya sendu.


"Papa kan sedang bertugas, nanti kalau sudah selesai juga kan pulang? " Hibur Ajeng sembari menjalankan mobil.


"Gak boleh sedih yaaa, sudah cantik gini"


"Shila pingin sekali-kali di jemput sama Papa, semua teman-teman Shila di jemput sama Papa"


Ashila semakin menundukan kepalanya.


"Oke, nanti kita bicarakan dengan Papa ya"


"Nanti Budhe coba bilang ke Papa Shila, tapi Shila juga janji ya, harus sabar" ucapnya tersenyum.

__ADS_1


"Sekarang senyum dong, kalau sedih terus nanti cantiknya pergi gimana? "


"Terimakasih Budhe" ucapnya sambil begelanyut manja di lengan Ajeng.


"Sama-sama anak manis. " Ucapnya sembari mengecup puncak kepala Ashila.


................


Jarum jam menunjukan pukul 12 kurang beberapa menit, hari ini hanya ada beberapa pasien yang berkonsultasi padanya, namun cukup menguras energinya. Ia membereskan mejanya sebelum pergi untuk beristirahat.


tok.. tok.. tok


Suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya.


"Ya, silahkan masuk" ucapnya dari dalam.


"Haii Jenk. " Seorang lelaki tampan, nampak berjalan memasuki ruangannya.


"Eh.. Iya Dokk, haii. " Balasnya gugup.


"Silakan, bagaimana, ada apa? "


Satrio, dokter muda spesialis Anak itu duduk di hadapannya.


"Udah gak ada pasien kan? " Tanyanya.


"Iya Dok, mau keluar ini. " Jawabnya.


"Yuk, Bareng. " Tersenyum seraya beranjak dari duduknya.


"Sengaja banget nih ke sini ngajakin keluar? " Tanyanya sembari menarik handle pintu.


"Iya, aku mau konsultasi nih " Ucapnynya


"Ya Allah, jam istirahat ini Dok, yang bener aja " Ajeng yang sudah berada di luar ruangannya berbalik menghadap Dokter Satrio dengan wajah di kesalnya.


Namun, tawa dari sang Dokter yang dia dapati.


"Canda konsul, canda " ucapnya di tengah tawa saat melihat ekspresi Ajeng.


"Iiihhh " Ucapnya berlalu meninggalkan Dokter anak itu di belakang.


Ajeng dengan segala pesonanya, yang tidak ada satu pun lelaki yang mampu menaklukannya. Menanggapi setiap lelaki yang mendekatinya hanya teman, hingga banyak lelaki yang akhirnya mundur teratur. Entahlah, entah apa yang dia cari, ataukah kenyamanan kesendirian yang membuat dirinya seperti ini?


Cinta, tidak ada yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2