Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
73


__ADS_3

" Harus secepatnya aku iket nih, biar gak sembarangan jalan sama orang lain!!!.


" Gak bisa kaya gini terus, lama-lama aku juga gak bakalan kuat kalo cuma kayak gini-gini aja. "


Barata menjalankan mobil nya dengan pelan. Rasanya sia-sia dia menyelesaikan pekerjannya kalau hal yang dituju tidak bisa di temui. Sebenarnya bisa saja di temui, hanya dia sudah terlewat kesal. Mendengar bahwa Ajeng akan jalan bersama rekannya.


"Kenapa aku harus marah?"


"Ya marah lah, harus nya dia kan bisa menolak, sedari pagi juga aku udah ngabarin dia!! "


Barata yang terlihat kesal itu berbicara sendiri.


Lucunya kamu Bar


Bukan Ajeng namanya kalau tak menghantui pikirannya, atau mungkin dia saja yang terlalu memporoskan wanita itu di pikirannya.


"Aku tidak pernah suka jika ada laki-laki yang mendekati dia. Kalau pantas saja, aku akan beri dia stempel di tubuhnya, kalau dia sudah sold out. Biar para lelaki tidak seenak jidatnya mendekati dia. " Racaunya.


"Atau mungkin dengan stempel alami aja ? " Tersenyum dengan pemikirannya yang absurd itu.


"Huaaahhhh kau membuatku gila Jeng! "


Kini, dia memacukan mobilnya cepat. Tiba-tiba bayangan kasurnya melambai-lambai meminta untuk di rebahi. Kepalanya berdenyut. Mungkin efek tidak makan sejak semalam dan belum sempat sarapan. Dan sekarang sudah memasuki santap siang seharusnya.


Sementara di tempat lain, Ajeng yang baru saja keluar dari sebuah toko alat kesehatan di bilangan jalan Gerilya bersama Satrio, langsung menaiki mobil Satrio.


"Ada pasien gak hari ini Jeng? " Satrio membuka obrolan saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Em? engga, kamu langsung balik?" Jawabnya.


"Aku antar ke rumah aja kalo gitu ya? " Tawarnya.


"Ah? ehh gak usah, aku mau ke tempat Shila nih. Ngrepotin gak kalo aku minta tolong? " Ajeng terlihat sungkan.


"Tenang aja. " Satrio berucap.


Mereka bersikap santai jika berdua, namun masih saling menghargai jika di depan banyak orang. Memposisikan diri secara professional kerja.


"Itu Papanya Ashila dinas di mana?"


Satrio membuka percakapan.


"Kodam 0701." Ajeng masih sibuk dengan ponselnya, sedari tadi mengubungi Barata namun tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Kenapa cemas gitu? "


"Eh.. a.. emm engga! " Tersenyum kaku. Kemudian memasukan ponselnya ke dalam tas.


"Ini alamatnya di mana Jeng? aku belum tau loh rumah Ashila. "


"Astaghfirullah, ya maaf. " menepuk kepalanya pelan.


"Itu nanti dari alun-alun Banyumas ambil kanan masuk ke perumahan Garden City. "


"Kamu kayak lagi banyak pikiran gitu? kenapa? "


"Ah? e.. enggak. "


"Perasaanmu aja kali. "

__ADS_1


Ajeng mencoba menepis tebakan Satrio.


"Hahah iya mungkin, bisa aja" Tertawa sumbang.


Keheningan kembali terjadi, sampai akhirnya Satrio memarkirkan kendaraannya di depan rumah Ibu Sukma.


"Makasi ya Sat, jadi bikin repot. "


"Ini rumah neneknya Ashila. Ibu mertua aku Sat, mau mampir? " Tawar Ajeng basa-basi. Padahal di dalam hatinya dia berdoa agar jangan sampai dokter Satrio bersedia untuk ikut masuk ke dalam rumah.


"Aku ingin banget, tapi sayang aku ada urusan lain lagi ini. Salam aja buat Ashila dan neneknya ya. "


"Next time aku mampir. " Jawabnya sambil tersenyum.


Ajeng menghembuskan nafas lega,


"Ya udah, aku turun ya. "


"Makasih loh. " Ucapnya kembali sebelum turun.


Ajeng melambaikan tangannya saat mobil mewah Satrio pergi dari hadapannya. Kemudian beranjak masuk ke dalam rumah.


"Asalamu'alaikum." Ajeng memasuki rumah yang terlihat sepi itu.


"Mbak Jeng. " Suara dari arah dapur mengagetkannya, seperti seorang pencuri yang kepergok.


"Iiihh Mbok Warr. " Ajeng mendengus sebal.


"Kasih salam dong Mbok. "


"Ehh, mboten kesliru niku."


"Mbak Jeng yang harusnya beri salam. "


"Mau pulang Mbok? Rumah sepi banget? "


"Lagi pada kemana?"


Ajeng berjalan ke arah mena makan, meraih gelas kemudian mengisinya dengan air bening.


"Mas Bara di atas, Ibu tadi njemput dek Ashila terus katanya mau mampir ke butik."


"Ini Mbok pulang dulu ya, takut hujan. Sudah mendung sekali. "


Mbok War berjalan mendekat.


"Ya udah ati-ati ya Mbok. " Ucap Ajeng.


Mbok War pulang, meninggalkan Ajeng seorang diri di rumah, bukan, tidak seorang diri, ada Barata di lantai atas.


Mungkin sedang tidur


Batinnya.


Ajeng membuka tudung saji yang berada di meja makan. Terlihat ikan goreng beserta sambal dan lalapan sudah tersedia. Namun tidak membuat dia merasa lapar. Justru kepalanya di bayang-bayangi dengan mie instan dengan asap mengepul, yang dia atasnya di taburi bawang goreng dan dengan pelengkap telor setengah matang.


"Heemm membayangkan saja membuat air liurku keluar! " Gerutunya.


Tanpa berganti baju dahulu, dan hanya melepas jilbab yang dia kenakan, Ajeng langsung membuka almari yang biasa Mbok War gunakan untuk menyimpan stok makanan kering di dapur. Kemudian menyiapkan panci kecil dan menyalakan kompor. Menyiapkan bahan yang akan di gunakan dengan serius, dan saat sedang memotong cabai, sebuah tangan kekar merengkuhnya dari belakang, membuat dia terpekik kaget, beruntung pisau yang dia pegang tidak sampai melukai jari telunjuknya.

__ADS_1


Seperti deja vu, ya dia pernah mengalami seperti ini. Dan dia sudah hafal betul siapa yang berani melakukannya kecuali Barata.


"Aku mau. " Ucapnya serak khas bangun tidur.


"Jangan seperti ini, lepas..... "


Dia tidak melanjutkan perkataannya, saat dia mencoba melepakan tangan kekar yang membelit perutnya itu terasa panas.


"Kamu sakit? " Membalikan badan tanpa memperdulikan belitan tangan yang masih melingkar di perutnya, yang membuat tubuhnya semakin menempel ke tubuh Barata. Memegang dahi Barata dan leher lelaki itu.


Sementara Barata hanya bisa memejamkan matanya, sembari menikmati sentuhan Ajeng. Kemudian justru memeluknya erat.


"Udah minimum obat belum? "


"Iiii jangan gini, aku gak bisa nafas!!!! "


Ajeng meronta.


"Aku mau. " Ulang Barata.


"Ya udah duduk dulu aja, aku selesein ini dulu ya. "


"Udah minum obat belum? jangan makan mie dulu deh, nasi aja yaa." Ajeng mencoba melepaskan pelukan Barata yang seperti lem itu.


"Kamu sekarang makin berani ya sama aku! "


Mencubut keras pinggang Barata hingga lelaki itu melepaskan pelukannya dan mengaduh kesakitan.


"Astaga Jeng, sakiit banget ! " Membungkukan perutnya dan memeganginya erat.


"Eh, seriusan? Ya Allah. Maaf.. maaf.. " Mengusap-usap perut Barata dengan rasa bersalah saat melihat raut muka Barata yang langsung memerah menahan sakit.


Ajeng membimbing Barata untuk rebahan di sofa panjang. Menata bantal agar nyaman untuk menyangga kepala. Kemudian cepat-cepat berlari untuk mematikan kompor dan mengambil air bening hangat untuk Barata.


" Perasaan gak keras kok nyubitnya, kok jadi sakit gitu, maaf ya. Ini minum dulu. "


Ajeng memberikan air putih untuk di minum Barata. "Badan kamu panas banget, udah makan belum? minum obat dulu ya? "


"Aku dari semalam lupa gak makan nasi sampe sekarang. " Jawabnya jujur.


"Nyiksa diri tuh namanya! " Beranjak pergi untuk mengambil obat Magh di kotak obat, namun sebelumnya dia memesan bubur via Online untuk Barata.


Gak mungkin kan aku kasi dia mie instan, apa lagi sambal dan ikan goreng.


Ajeng kembali dengan membawa obat Magh.


"Minum dulu nih, biar gak keterusan sakitnya. " Memberikan obat tablet untuk di kunyah.


"Jadi itu sakitnya bukan karena aku nyubit! tapi karena asam lambungmu naik.! "


"Bisa-bisanya yah, makan kok sampe lupa. "


"Segitu udah.... "


Dengan cepat, Barata menangkup pipi Ajeng kemudian melu mat bi bir yang sedari tadi berbicara tanpa henti itu dengan lembut.


Untuk beberapa saat, Ajeng hanya diam menerima perlakuan Barata yang tidak dia sangka akan seberani itu. Namun Barata justru menelisik lidahnya semakin dalam, membuat aroma mint dan rasa sedikit pahit bercampur menjadi satu di mulutnya. Dan membuat Ajeng kehabisan nafas.


"Bernafas bo doh! " Barata mengakhiri aktifitasnya, menyadarkan Ajeng dengan begitu kesal!

__ADS_1


Ajeng meraup udara di sekitarnya, menghapus jejak di bi bir nya yang baru saja di sabotase oleh Barata.


"Sungguh aku tak tahan lagi. Menikahlah denganku segera! " Tatapan mata sayu itu, terlihat sangat mengiba. Beradu pandang dengan Ajeng yang kini menatapnya dengan rasa kesal!!!!.


__ADS_2