Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
64


__ADS_3

"Jadi sekarang, katakan padaku. Seberapa dekat kamu denga Barata? aku curiga dengan kalian berdua. Darimana kamu tahu kalau hari ini aku dan Ibu ada jadwal fisio terapi? bisa-bisanya juga kamu tahu Anita sedang cek kandungannya dengan laki-laki tua itu? Jangan bilang hanya kebetulan ya. Aku enggan mendengar hal yang sama dari dua orang yang berbeda!!! " Menatap tajam Naufal.


"Ya Ampun, kamu lupa? malam sebelumnya kan kita chat-an, kamu bilang kan ke aku kalau mau tidur duluan, besok mau ngantar Ibu buat fisio terapi, apa kamu lupa? Perlu aku tunjukin chat nya? Dan tadi aku bener lagi mau nengok temen yang kebetulan di rawat di sana. " Naufal masih bisa mengelak.


"Kamu boleh berfikir aku bodoh, tapi aku gak suka kalo aku di bodohin ya"


"Emang jam besuk pasien dibuka jam berapa sampai-sampai jam 8 kamu udah stay di rumah sakit.? kalo mau ngarang cerita mbok yao di kira-kira, aja asal ndeplak" Ajeng masih saja mencerca Naufal.


"Kamu belum saatnya tau, kadang memang ada hal-hal yang tidak perlu kita ketahui demi menjaga kewarasan diri, percayalah ini semua tidak akan membuat kamu maupun Ibu Sukma di rugikan. Tidak ada sangkut pautnya dengan kamu. Percayalah" Naufal mencoba memberikan pengertian kepadanya.


"Aku sekarang hanya sedang menyelidiki Anita. Tidak lebih. Dan itu tidak merugikan kamu ataupun Ibu kan? " Jawabnya terus terang.


"Untuk apa? Apa ada urusannya Anita denganmu? " Ajeng menyeritkan dahinya dalam. Membuat dua guratan di sana.


"Seperti kurang kerjaan aja, buat apa si kamu ambisius banget menyelidiki mereka? "


"Kamu tahu? ternyata Istri dari bos Anita itu, adalah keponakan dari Budeku, dari pihak paman. Lakinya itu aslinya gak punya apa-apa, jadi istrinya yang kaya raya. Aku ingin tau, bagaimana reaksi mereka kalau sampai suami-istri mereka masing-masing tahu. Mungkin seperti bom atom kali ya. " Naufal beralasan.


"Gak usah berlebihan, selama kita diem, semuanya akan baik-baik saja" Ajeng menghentikan fikiran Naufal yang sudah melanglang buana.


"Sekarang udah clear ya, gak ada lagi pembahasan antara kita tentang Anita. Sungguh aku tidak ingin tahu sama sekali tentang dia. Jadi please mulai sekarang gak usah kirim-kirim foto Anita dengan selingkuhannya ke aku! "


"Aku enggan menyimpani foto mereka. untuk apa? menjadi senjata makan tuan? gimana kalo tiba-tiba Ibu yang lihat. Gak bisa mikir sama sekali aku"


"Aku kan tujuannya biar kamu tau Jeng"


"Dan sayangnya aku engga mau tau" dengusnya sebal.


"Ini ngomong-ngomong kita sedari tadi gak ada waiters dateng ngasih menu apa? " Ajeng melihat sekeliling.


"Kirain kamu udah kenyang, jadi aku gak perlu pesen makan" tertawa jahat.


"Kenyang makan angin!!! "


"Udah gih pesen sana" usirnya pada Naufal.


Naufal beranjak pergi, menuju ke stand makanan.


Alhamdulillah, setidaknya dia sudah tidak ketus lagi, sudah mulai normal menyebut aku-kamu. Maklumin aja Jeng dia masih muda dan egonya tinggi.


Tak berselang lama, Naufal datang dengan senampan penuh makanan, dan dibelakangnya seorang waiters membawa beberapa macam minuman.


Ajeng terbengong, melihat begitu banyak makanan yang Naufal bawa.


"Permisi" waiter tersenyum ke arahnya, meletakan minuman di atas meja.


"Terimakasih Mas" Ucapnya sebelum waiters itu pergi meninggalkan mereka.


"Siapa yang mau ngabisin makanan sebanyak ini? "


"Astaghfirullah"


"Gak kira-kira banget" Takjub dan kesal bercampur menjadi satu.


"Ya kita lah, aku dan kamu" Naufal menjawab di sertai dengan mengerlingkan matanya genit.

__ADS_1


"Kamu aja kali aku engga" meraih sebotol air mineral kemudian meneguknya perlahan.


Berbeda dengan Naufal yang langsung menengak hampir 3/4 bagian airnya.


"Biasakan kalau makan dan minum menggunakan tangan kanan, minumnya 3 kali tegukan, kamu minum kaya Onta!!" Ajeng mengomentari gaya minum Naufal yang baginya sembrono.


"Hah? iya kah? harus gitu apa? "


"Iya lah, semuanya ada adabnya, ada aturannya, emang gak tahu? "


"Engga"


"iidiiihhh, kalah sama anak TK!! "


"Coba tadi kalo kamu tersedak gimana? " mencibir Naufal, dengan tangannya meraih makanan yang yang ada di depannya.


"Itu juga sunah rosul, selain untuk keselamatan, kita juga dapet pahala tau. Dan satu lagi, kalo minum sambil duduk. Beberapa kali aku selalu lihat kamu berdiri kalo minum, apaa lagi kalo pas pemotretan, ini sekalian aja aku bilang mumpung aku ingat dan kita lagi berdua gak ada orang lain. " Memakan rice bowlnya dengan lahap. Tentunya setelah berdoa dengan mengadahkan tangan. Sengaja agar Naufal melihatnya.


"Iya kah? berarti selama ini kamu perhatiin aku nih diam-diam?" Naufal tersenyum melihatnya. "Aku suka kalo kamu cerewet ke aku. "


"Bukan perhatian, tapi memperhatikan lebih tepatnya!! karena aku gak suka lihat nya!!" Ajeng memutar bola matanya malas. Enggan menanggapi lebih panjang lagi.


"Ya elah Jeng, tinggal bilang iya aja napa. Bikin orang seneng gitu, kan dapet pahala juga"


"Dapetnya justru dosa!! karena aku bohong! "


"Udah akh kapan selesainya kalo ngobrol terus. Cepat makan" Ajeng kembali fokus dengan makanan di depannya. Hingga mereka berdua akhirnya makan dalam diam.


Ponsel Ajeng berdering.


"Siapa? " Naufal melirik ponsel Ajeng yang berada di sebelah kirinya. "Barata? aku angkat ya kamu lanjutin makan aja" tanpa menunggu jawaban, Naufal meraih ponsel Ajeng dan menggeser tombol berwarna hijau.


Ajeng yang melihatnya langsung mendelikan matanya tanda tidak setuju.


"Halo Pak komadan, walaikumsalam, gimana-gimana?" Naufal bersikap seolah-olah mereka adalah teman dekat.


"Kenapa ponsel Ajeng ada di kamu? mana dia? " Suara keras Barata terdengar sampai ke telingannya, karena Naufal menyalakan pengeras suaranya.


"Ada yang bisa di bantu pak komandan? " Naufal tidak mengindahkan pertanyaan Barata.


"Aku nyari Ajeng, mana dia? tadi dia sudah janji mau mengabariku" ucapnya ketus.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya saya tidak bisa memyambungkannya, kita sedang kencan Pak. Mohon maaf saya harus mematikan panggilan anda" Naufal semakin membuat hati lawan bicaranya memanas.


"Bere ng sek kau!!! Barata memaki, namun sepertinya Naufal tidak menganggap itu sebagai kemarahan, justru dia membalas dengan tawa yang keras.


" Ya Bar" Memindah posisi ponsel ya tadinya di depan Naufal kini berada di hadapannya.


"Aku nunggin kabar dari Mbak, katanya kalau udah nyampe ngabarin" cercanya.


"Mas, situ oke? gak salah telepon kan? " Naufal dan Ajeng saling lempar pandangan.


"Eh elu bayiii diem!! " sentaknya.


Ajeng mengambil ponsel yang berada di atas meja, meng-non aktifkan pengeras suaranya dan menempelkan ponsel ke telingannya. Mengapitnya dengan bahu. Sementara Naufal beranjak pergi menuju tempat cuci tangan untuk membersihkan tangannya.

__ADS_1


"Hihhh kenapa si, kaya anak kecil tahu gak? sadar diri kamu udah mau jadi bapak-bapak ya!! kelakuan masih aja kaya anak baru gede!! " Ajeng berbicara pelan.


"Iya Mbak, aku tungguin telepon dari kamu yang katanya mau ngabarin aku"


"Subhanallah Baraaaa, gak kira-kira banget. Aku belum pulang, kamu bisa menelpon istrimu kalau mau bicara dengan Ibu" Dengan susah payah, dia memposisikan ponselnya agar tidak terjatuh.


Naufal yang datang langsung mengulurkan tangannya, meminta dia untuk menyerahkan ponselnya, agar dia bisa membersihkan tangan.


"Aku mau ke cuci tangan, sekalian ke toilet" seru Ajeng sebelum beranjak pergi, dan merelakan ponselnya berada di tangan Naufal.


"Perjanjiannya bukan gini kan? Mas Barata janji bakal beri aku kesempatan buat memperjuangkan cintaku. Membiarkan aku buat meyakinkan Ajeng dengan perasaanku. Dan Mas Barata mendapat segala informasi tentang istri Mas. Bukan begitu? "


"Ini aku baru jalan berdua loh, udah di recokin aja"


Naufal membuka suara setelah Ajeng pergi dari hadapannya dan memastikan bahwa Ajeng tidak akan mendengarnya.


Ya, mereka membuat kesepakatan yang menguntungkan masing-masing diri. Barata dengan segala informasinya tentang Anita, dan Naufal dengan restu dari adik ipar Ajeng (Barata) untuk mendekati kakaknya.


Selain dari Naufal, dia juga mendapat banyak informasi dari orang Baskara, sahabatnya yang ikut trlibat dalam pencarian informasi mengenai Anita dan keluarganya. Jadi, dia sudah mendapatkan begitu banyak bukti perilaku Anita selama ini.


"Ada perlu bentar aku sama dia" Jawabnya asal.


"Mas, kalo bisa panjenengan jangan sering hubungin Ajeng, dia udah curiga tentang kerjasama kita. "


"Hampir aja aku kecolongan dan kceplosan"


"Susah ngelak kalo ngomong sama dia" Adunya lancar.


"Berarti kamu yang di kurang-kurangin ngobrol atau ketemu dia Bayi!!. "


"Lah terus gimana aku ngejalanin misiku padanya Mas!! " Suara Naufal terdengar sangat kesal di telinganya.


"Ya itu urusan kamu lah"


"Huh" Naufal membuang nafas kasar, dibarengi dengan datangnya Ajeng ke arahnya.


"Sambung nanti, kita mau kencan, dan jangan ganggu lagi" Ucapnya so ngong sambil memutus panggilan, enggan mendengar teriakan Barata lagi yang pastinya kali ini akan semakin keras.


......................


- Bagi yang masih bingung dan bertanya-tanya, kok bisa si Naufal jadi detektifnya Barata? kapan mereka bertemu? jawabannya ada di bab 55 saat mereka berada di toko buah. Masih ingat?


- Ingat di bab 59 saat telepon Barata berdering? mengabari bahwa "dia sudah pulang?" ya itu Naufal yang mengabari.


- Buat yang tanya apa cerita ini bisa di cepetin? jawaban nya engga😁 maaf sekali, aku menulis sesuai apa yang sudah di rencanakan dan semua tidak tiba-tiba atau ujug-ujug.


- Kenapa tiba-tiba ada orang Baskara juga? kapan ketemunya? Ada di bab 56


- Bagi yang membacanya teliti sejak awal, pasti bisa membaca clue yang dari awal sudah aku berikanšŸ¤—


Terimakasih atas support dan kesabarannya mengikuti cerita Ajengā¤


Mungkin beberapa minggu ini akan jarang sekali update. Dikarenakan sedang mempersiapkan pertemuan tatap muka (PTM).


Terimakasih.

__ADS_1


Sayang kalian sederas hujan sore inišŸ’ž


__ADS_2