
Beberapa minggu kemudian, seperti yang sudah di rencanakan sejak awal, akhirnya Reno membawa Ajeng menemui Psikologinya.
Reno menjemput Ajeng di rumahnya, sebetulnya Ajeng merasa tidak enak kepada Reno, selain karena jarak rumahnya yang begitu jauh dengan Reno, alasan sebenarnya adalah jawaban apa yang akan diberikan kepada orang tuanya apabila Reno sering kali mengajaknya pergi. Apalagi di hari weekend seperti ini. Waktu yang biasanya Ajeng habiskan dengan keluarganya setelah 5 hari berkurat dengan kampusnya.
Namun beruntung, saat Reno menjemput, Bapak dan Mama tidak di rumah, mereka sedang ada acara rapat dengan anggota PGRI se-Korwilcam dindik di kecamatan, membuat di sedikit lega. Meskipun pasti nanti saat pulang Mamanya bertanya macam-macam. Dan Mbok Kamti tidak akan membiarkan dia lepas begitu saja dari pengawasannya.
Mereka tiba rumahsakit tepat pada pukul 11 siang, selain untuk memberi suport kepada Reno, Ajeng juga diuntungkan dengan kelancarannya untuk menyelesaikan tugas skripsinya. Sedikit banyak dia bisa mengumpulkan informasi mengenai respondenya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik lagi, selain melakukan assesment, intervensi dan penelitian tentunya.
Seperti simbiosis mutualisme. Mereka saling melengkapi atas nama persahabatan dan keperluan masing-masing. Menaifkan diri tentang rasa yang mulai muncul di antara mereka. Terutama Reno.
Dan hari ini, Reno tampil berbeda, nampak lebih fresh dari biasanya. Rambut yang sengaja dia potong beberapa hari yang lalu semakin membuat tampilan dia lebih macho. Orang yang melihat pasti akan mengira mereka berdua adalah pasangan kekasih.
Ajeng pun tak kalah jelita dengan tampilannya hari ini. Mengenakan celana kulot berwarna putih tulang, dipadukan kemeja berwana salem dan jepitan kecil bermotif bunga yang menghiasi rambut hitam bergelombang sebahunya, membuat dia terlihat sempurna.
Dengan menggunakan flat shoes dan tas kecil yang terpaut di bahunya, Ajeng berjalan di samping Reno, sementara Reno mulai menyatukan jemari mereka menuju ke ruangan Psikolog yang biasa dia kinjungi.
"Biar gak ilang, gandengan ya" Reno berbisik di telinga Ajeng.
"Kaya truk gandeng ya, gandengan" ulangnya sambil terkekeh.
"Ini rumah sakit besar, takutnya kamu nyasar ntar langkah kakimu terlalu jauh denganku"
Sementara Ajeng, hanya memutar matanya malas, sesekali mecibir perkataan Reno yang hanya di balas dengan tawa renyahnya.
"Tiap hari rame gini Mas? " tanyanya saat mereka melewati ruang poli penyakit dalam dan syaraf"
"Ya begitulah" Reno menjawab tanpa menoleh kepadanya.
"Kamu cukup menyimak aja ya" pesannya setelah mereka sampai di depan ruangan yang tertulis Ruang Psikolog dengan nama dokter dan fotonya yang terpampang di dinding sebelah pintu masuk.
Reno sebelumya sudah mendaftar via online, maka tak perlu repot untuk mengantri. Setelah mengetuk pintu, ternyata memang sedang tidak ada pasien. Sehingga Reno langsung bisa memasuki ruangan, yang langsung disambut oleh seorang psikolog laki-laki.
__ADS_1
"Selamat datang Mas Reno"
Sapa sang Psikolog yang ternyata bernama Khayru Rizki Permana, S.Psi, M.SI. Terlihat papan namanya tertulis jelas di atas meja.
"Sepertinya saya ketinggalan informasi nih" Ucap sang psikolog dengan sedikit menggoda.
"Ah anda biasa saja dok" Reno memang selalu memanggil psikolog itu dengan panggilan dokter. Baginya tak ada bedanya antara dokter dan psikolog. Meskipun nyatanya memang berbeda.
"Silahkan duduk" Pintanya
"Jadi, saran saya kemarin kamu jalani? secepat itu menaklukannya" Psikolog itu bertanya.
"Haha anda salah paham dok, ini adik saya, adik ketemu gede" Jawabnya dengan tawanya yang menular.
"Hahah adik ketemu gede ya" Ulang psikolog Khayru.
"So, apa yang sekarang anda rasakan setelah sekian minggu? apa mulai sudah ada perubahan? Sudah di praktekan apa yang saya sarankan? "
"Jadi apakah Mas Reno tidak butuh terapy?" Ajeng bertanya seolah-olah dia tahu segalanya.
"Terapi sudah dia lakukan sesuai anjuran dokter, saya kemarin sarankan dia untuk mencoba berdekatan kembali dengan wanita, mencurahkan rasa sayang dan cintanya. Siapa tahu selain terapi medis, dengan dibarengi terapi hati Mas Reno semakin cepat dalam penyembuhannya. Terus terang, Mas Reno juga harusnya sudah sedikit menjalin hubungan dengan kontak fisik. Saya sudah memberinya masukan, namun sepertinya Mas Reno masih menimbang hal tersebut."
"Saya paham betul, tidak semudah itu anda melakukannya, banyak hal yang harus di fikiran. Ada norma agama dan sosial yang mengikat di negara kita. Kita tidak bisa sembarangan melakukan hal-hal yang memang masih di anggap tabu"
"Belum lagi tentang wanita yang nantinya akan diajak kerja sama untuk proses penyebuhan anda. Dia harus benar-benar tulus. Jangan sampai kejadian yang lalu terulang kembali."
Ajeng seketika memikirkan banyak hal yang tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya. Dirinya yang masih berada disatu ruangan bersama Reno dan sang Psikolog, namun pikirannya sudah terbang melanglang buana tanpa ampun. Itulah kelemahan dirinya, terlalu berlebihan dalam berfikir, menghawatirkan sesuatu yang belum pasti dan terjadi, yang membuat dirinya sering tidak enak hati.
Dia yang sering kali mengorbankan perasaan sendiri untuk orang lain. Yang terkadang orang lain pun malah seenak jidatnya memanfaatkan kebaikan Ajeng, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, yang mungkin tidak akan pernah di sadari dirinya. Karena dia sesungguhnya orang yang benar-benar polos.
Dan sayangnya, fikiran yang seringkali dia fikir secara berlebihan, benar-benar terjadi dalam kehidupannya. Seperti ungkapan perkataan adalah doa, mungkin ini juga bisa di ungkapkan seperti pemikiran adalah kenyataan yang akan terjadi. Entahlah..
__ADS_1
"Jadi kesimpulannya ya, mau tidak mau kamu harus benar-benar terapi bersama orang yang kamu anggap bisa membantumu. Karena itu adalah termasuk sugesti. Dan sugesti itu sedikit banyak berdampak pada psikis seseorang." Samar-samar Ajeng mendengar suara dokter Khayru. Yang sepertinya sudah berbincang panjang lebar.
"Saya berharap untuk pertemuan selanjutnya saya mendapat kabar baik dari anda Mas Reno" sambungnya sambil tersenyum dan menjabat tangan Reno.
"Baiklah dok, terimakasih atas waktunya hari ini, saya pamit dulu" Reno beranjak dari duduknya. Sementara Ajeng masih duduk termenung di sebelahnya.
"Jeng" Panggil Reno sambil menepuk pundaknya.
"Eh.. iya.. Ya? "
"Ayok" Ajak Reno.
"Terapi" Tanyanya yang langsung di sambut tawa dua lelaki di hadapan dan sebelahnya.
"Ya nanti kalo sudah berdua, gak enak dilihatin dokter Khayru" Reno mengkerlingkan matanya.
Sementara Ajeng hanya memasang wajah bingungnya.
"Oke dok, permisi dulu ya.. Selamat siang" Reno berjalan mendahului Ajeng, membukakan pintu untuknya, sebelum kemudian menutupnya secara perlahan.
"Jadi? gimana? Apa yang bisa kamu analisia? apa yang kamu dapat? " Reno mencerca Ajeng di sepanjang perjalanan merek menuju ke parkiran.
"Eemm.. entahlah Mas, sepertinya.. emm.. gini, akhh aku bingung mau ngomong dari mana"
Ajeng mengeluhkan kesulitannya dalam mengutarakan pikirannya dalam bentuk ucapan.
"Fetish? Mas Ren? begitu? ada... sesuatu yang? emm mungkin.. bisa bikin Mas berdiri? " Dengan susah payah dan menahan malu Ajeng bersuara.
Seharusnya dia tidak perlu bertingkah bahkan merasa lidahnya kelu seperti itu, dia bisa saja berbicara biasa saja, menganggap Reno sama seperti responden lainnya, tapi entahlah. Dengan Reno, sepertinya dia harus banyak menyusun kata yang tepat. Pengalamannya selama di bangku kuliah seharusnya bisa menjadi modal dirinya untuk lebih profesional lagi dalam sikap dan bertutur kata.
"Belum, aku belum tau apa yang bisa bikin aku berdiri. Selama ini 'dia' masih asyik dengan tidur panjangnya" Reno menjawab tanpa menolehkan wajahnya ke arah Ajeng. Benar-benar membuat Ajeng merasa bersalah.
__ADS_1
Terimakasih untuk tidak lupa menekan like dan menambahkan komentar🤗🤗