
" Tadinya Oma mau ikut, tapi tiba-tiba Oma pusying, jadi boboan ehh keterusan bobo. "
Seperti janji yang dibuat bersama dengan Papanya, Ashila sekarang sudah berada di rumah Ajeng, bersama Barata tentunya.
"Jadi Oma di rumah sendirian? " Ajeng bertanya dengan berjalan mengekori anak itu, yang sudah melangkah jauh masuk ke dalam rumah tanpa sungkan. Merasa bahwa rumah Budhe nya adalah juga rumahnya.
"Sama Pak Anto. "
" Papa, syini Shila tunjukin yougurt yang kemarin Shila sama Budhe bikin, Papa pasti syuka. " Melambaikan tangannya ke arah Barata yang sudah duduk di depan televisi dengan memegang ponsel pintarnya.
"Papa mau coba? "
" Ini enak Papa! " Masih saja recol berbicara meskipun Barata mengacuhkannya.
"Sini, Shila ambil gelas, nanti Shila berikan ke Papa ya."
"Papa lagi fokus sama kerjaan. " Bisiknya di telinga Shila.
Kedatangan Barata dan Ashila yang tiba-tiba, membuat perempuan tersebut tidak melakukan persiapan apapun. Bahkan untuk berpakaian pun dia tidak sempat mengganti baju rumahan yang dibilang minimalis itu.
Dengan memakai mini dress yang di lapisi cardigan, dia yang sedang menyiram tanaman di teras samping, terkejut dengan teriakan Ashila.
Rambut panjangnya yang tergerai indah, seketika mampu membuat mata Barata mendapatkan asupan vitamin I. Hingga laki-laki itu kini lebih memilih memainkan ponselnya ketimbang melihat pemandangan di hadapannya yang sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Kok sore banget ke sininya? gak ngabarin Budhe dulu, tau gitu kan tadi Budhe masakin. " Ajeng berjalan dengan membawa nampan yang berisi 3 gelas youghurt. Kemudian meletakannya di depan Barata yang sama sekali tidak memandangnya.
"Gak usah repot-repot. Tadi sebelum ke sini udah makan kok. " Barata menjawab dengan mata yang masih tertuju ke layar ponselnya.
"Tapi Papa belum makan Budhe. " Ashila mengadu.
Ajeng hanya tersenyum. Melihat Ashila yang kembali meneguk yogurt nya.
" Papa gak ***** makan, kenyang denger tangisan kamu. " Barata mencibir Ashila yang kini terkekeh dengan jawaban Barata.
"Kenapa? nangis? iiii nangis kenapa? " Ajeng yang mendengarnya langsung bertanya.
"Tanya aja tuh. " Barata mendengus sebal, kemudian meraih yogurt dan meminumnya hingga tandas.
"Kenapa? " Tanya Ajeng lagi.
"Ajeng mau sama Budhe. " Ashila beringsut dari duduknya kemudian mendekatkan dirinya ke Ajeng yang duduk tak jauh darinya.
"Shila mau sama Budhe terus. "
"Kan Budhe ibunya Shila, kata Fiano kalo Ibu itu deket-deket terus sama anaknya. Kaya Fiano ke Ibunya, Shila juga mau kaya Fiano. " Ucapnya jujur.
Bahasa anak sekarang terlalu luas, berfikir sudah seperti orang dewasa saja.
"Kita kan juga sering deket-deketan, ini juga lagi deket-deketan. " Ajeng menggoda Ashila, mulai menggelitik perut anak itu dengan gemas.
Suara riuh akan tawa membuat suasana menjadi hangat, kini Ashila mencari perlindungan, Berpindah mendekat ke arah Papanya.
"Ampun Budhe! " terkekeh sambil bergelanyut manja di pangkuan Barata.
__ADS_1
Sedangkan Ajeng yang tadinya semangat sekali menggoda Ashila, kini menyudahi aktivitasnya, sungkan dengan Barata yang kini di peluk Ashila.
"Kok berhenti? " Protesnya saat Ajeng menyudahi menggelitik dirinya,
"Bagaimana kalu kita yang kelitikin Budhe yuk! " Barata semangat sekali menjadi kompor Ashila.
"Hah? iya, ayohh Papa, cepetan" Ashila dengan tidak sabarnya mulai mengajak Barata untuk menggempur Ajeng.
Dengan penuh semangat, Barata mulai menggelitik Ajeng bersama Ashila. Kini keadaan berbalik yang tadinya Ashila menjadi korban, kini giliran dirinya.
"Bar.. Hentikan.. Baraa..Please..." Suara tawa dan permohonan terdengar dari mulut Ajeng, yang sama sekali tak di dengar oleh keduanya. Hingga mereka berdua kelelahan, dan mengakhiri ke isengan mereka.
"Perut Budhe sakit! " Ucapnya dengan merapikan minidress yang tersingkap. Kemudia duduk di tegak di samping Barata, entah sadar atau tidak, kepalnyanya ia senderkan ke bahu Barata, bersamaan dengan hembusan nafas panjangnya yang berat.
"Shila ambilin minum tolong buat Budhe! " Perintah Barata yang langsung di kerjakan oleh Ashila.
"Maaf ya . " Ucapnya sembari mengelus pelan pipi Ajeng menggunakan tangan kirinya.
"Eh.. " Reflek Ajeng menjauh. Memandang Barata kemudian tersenyum kikuk.
"Maaf, Berat ya. " Ucapnya yang kini sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Bukan jawaban yang di dapati, namun rengkuhan yang di lakukan dengan cepat oleh Barata, sehingga tubuh keduanya saling menempel.
"Biarkan seperti ini sebentar saja" Barata berucap sambil menutup matanya erat, menarik nafas dalam-dalam, meraup wangi Ajeng sebanyak-banyaknya untuk dia simpan.
Tanpa berani berekspetasi sebelumnya, Ajeng membalas pelukan Barata dengan sama eratnya.
"Terimakasih masih tetap mencintaiku. "
" Ya, akan ku berikan waktu. Tapi aku mohon, jangan terlalu lama. " Mengurai pelukannya.
"Tidak cukupkah selama ini waktu yang telah terlewat?" Menangkup pipi Ajeng, dengan mata sayu memohon.
Ajeng tersenyum, meraih tangan yang masih menempel erat di pipinya.
"Masih banyak yang harus di selesaikan bukan? " Katanya.
"Tidak ada yang harus di selesaikan karena waktu sudah menyelesaikannya sendiri. "
"Sekarang yang harus di selesaikan justru hatimu, selesaikan untuk diriku. Hanya untuk diriku. "
Deru nafas yang memburu terasa sekali menggelitik wajah Ajeng. Wajah mereka yang sudah tak berjarak membuat Balita kecil yang datang dari arah dapur terpekik.
"Papa sama Budhe lagi apa? "
Reflek Barata melepaskan tangannya dari wajah Ajeng.
"Shila lama sekali." Ajeng mengalihkan perhatian Shila.
"Bukan lama sekali, tapi terlalu sebentar. " Ucapnya Barata ketus.
"Aku belum menyelesaikan apa yang harusnya aku selesaikan! "
__ADS_1
Ajeng yang mendengarnya langsung mendelikan matanya Dan memukul lengan Barata.
"Kamu itu!"
"Terimakasih sayang. " Menerima air putih yang di bawa Ashila.
"Bolehkan tivinya Shila nyalakan? " Ijinnya kepada Ajeng.
"Tentu."
"Bisa tolong ambilkan Budhe remote tivinya di atas nakas itu? " Menunjuk remote tivi yang berada di sebelah Ashila. Kemudian menyalakan tivi.
"Hari ini dia gak tidur loh, nangis terus sejak pulang dari rumah sakit. " Barata berbisik.
"Minta sama kamu, Ibu aja sampe kewalahan. " Melirik Ashila yang kini sedang tiduran di karpet.
"Shil, pakai bantal ini! " Memberikan bantal sofa untuk alas kepalanya.
"Terimakasih."
"Sama-sama sayang. " Beranjak kembali untuk duduk di sebelah Barata.
"Liat aja, 5 menit lagi pasti tidur. " Barata masih memperhatikan Ashila.
"Ya udah biarin aja, dia pasti cape. "
"Mau makan gak? kata Shila kamu belum makan loh. "
"Gak usah repot-repot. Bentar lagi aku piket malam. Aku pingin kita berdua kaya gini dulu, jarang-jarang loh nyante gini. Kamu kalo ada aku kan sukanya sibuk sendiri. Ngehindar, kaya apa yang jijik gitu! "
"Astaghfirullah, ini mulut kalo bicara yaa, masih aja suka semaunya sendiri! " Mencubit-cubit pelan dagu Barata yang terasa kasar.
"Ya memang begitu kan! kamu selalu ngehindar kalo ada aku." Meraih tangan Ajeng kemudian mengecupinya bertubi-tubi.
"Hiiihh jangan gini! " Mencoba menepis tapi tak bisa. Padahal wajah nya sudah merah merona dengan perlakuan Barata.
"Aku kok rasanya seneng banget ya. "
"Kaya gak baru ngerasain rasa kaya gini. "
"Terus kemana aja aku selama ini?" Tertawa sembati mengacak gemas rambut Ajeng.
"Bar!!!! iiihhh kamu ituuuuuuuu! Kaya anak baru gede aja deh! " Ajeng memekik, menahan teriakannyanagar jangan sampai mengganggu Ashila yang baru saja terlelap.
Akhirnyaaaa setelah sekian purnama dia lewati tanpa cinta, rasa yang lama hilang pun kini hadir lagi. Semakin menggebu dan membara. Berbahagialah kalian berdua 🤗
......................
Gimana-gimana?
Uda puas belum mereka bersama😂
End aja kali yaðŸ¤
__ADS_1
Happy Sunday all...
Selamat berkumpul bersama keluarga🤗🤗