Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
47


__ADS_3

Anita hamil.


Itu yang membuat dia ingin memulai dari awal?


Sudah sadarkah akan perasaannya sendiri? kalau dia sekarang mencintai istrinya?


Tapiiii


Kenapa ujungnya meminta aku untuk tetap tinggal?


Bisakah tanpa cinta tapi menghamili ??


Astagaaa Ajeng!!!! kamu itu tidak tahu kehidupan rumah tangga sebenarnya seperti apa, cukup imajinasi liarmu berhenti sampai di sini!!!!


Aku menghembuskan nafas kasar, dan terlonjak kaget saat ada minuman dingin menempel di pipiku.


"Subhanallah, iiihhh ngagetin aja si!? " Naufal datang bersama sekantong plastik yang entah berisi apa saja itu.


"Beli rokok di Arab? lama banget!!!! "


"Ya elah Jeng, muter dulu kali. Rokok kaya gini susah dapetnya. Lagian Pak Barata jadi bisa ngobrol berdua sama kamu kan yang sedari awal tahu kondisi Ibu Sukma. Capek banget ya? sampe ngemposs gitu. "


Aku meraih minuman dingin yang masih menempel di pipiku dengan cepat.


"Ngobrol sama dia gak pernah ada pangkal ujungnya, selalu terbawa perasaan. Dan aku tidak seprofesional kamu dalam memfokuskan kamera ke objek, aku tidak bisa memfokuskan hatiku keep half lain kecuali dia."


"Iya aku cape, hatiku yang cape"


"Maksudmu? " Naufal duduk kembali di sebelah ku.


"Maksudku sekarang udah larut banget, kamu pulang aja"


"Makasih" Ucapku sembari menunjuk botol minuman isotonik yang akan aku minum ke arahnya.


"Ya sama-sama, eem aku kayaknya besok sorean deh ke sini. Aada job di Hotel Aston, biasa nikahan"


"Pagi, sebelum pengantin kelar, aku udah harus done foto-foto tempatnya, biar nanti cuma fokus ke pengantinnya aja. "


"Oh ya, mana Pak Barata? tuh rokoknya di dalam situ" menunjuk kantong kresek dengan dagunya.


"Biarin situ aja, ntar juga orangnya keluar kok. Dia di dalem nengokin Ibu" Jawabku acuh.


"Yakin nih aku pulang aja?" Dia bertanya, memastikan padaku.


"Ya yakin, kamu kan besok kerja juga. Lancar-lancar ya, inget kalo udah gajian makan-makan " Aku menahan tawa, mengodanya yang terlihat kesal aku merelakan dia pergi.


"Seriusan? "


"Lima rius bocah!! "


"Berani nih sendirian? "


"Tentu"

__ADS_1


Aku tidak bisa lagi menahan tawaku.


"Tidak usah merasa di butuhkan, sudah ada saya yang akan menjaganya"


Eh si galak tiba-tiba nongol. Membuat aku terlonjak kaget mendengar suara beratnya.


"Kan memang saya selalu ada jika Ajeng butuh Pak" Naufal tak mau dikalahkan.


"Aku bukan Bapakmu ya, jadi jangan panggi aku Pak, aku juga belum jadi Bapa.. "


"Calon, sebentar lagi" sarkasku cepat.


"Udah, ntar kelamaman. Besok kesiangan loh " aku berdiri, berharap bocah itu mengikuti gerakanku. Dan benar saja, dia berdiri dari duduknya.


"Cabut dulu ya Jenk" Memandang ke arahku.


"Pamit Pa.. eh Mas Barata" Dia menganggukan kepalanya kepada Bara.


"Langsung jemput aku ya kalo kerjaanmu udah kelar" Ucapku padanya yang hanya di balas dengan acungan jempol.


"Asalamualaikum"


"Walaikumsalam, hati-hati yaa" Jawabku.


Aku berlalu begitu saja melewati Barata yang kini sudah duduk dengan mata yang fokus ke arah ponselnya. Begitu kesal melihat lelaki itu!!


Kenapa hawanya selalu emosi sii jika bersama dia??Menyebalkan !!


Cita-citaku saat ini hanya tidur. Enggan memikirkan hal lain. Apalagi hari esok, yang sepertinya akan semakin berat. Biarlah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini ibu sudah cantik, sudah aku seka badannya, sudah berganti pakaian dan sudah wangi. Aku melakukannya tidak sendiri, dibantu oleh Barata tentu saja. Sementara Mbok War, aku suruh pulang, agar sore nanti bisa menjaga Ibu menggantikanku. Dan sekarang adalah waktunya aku untuk menyuapi Ibu.


Pagi tadi, saat ibu melihat Barata untuk yang pertama kalinya, beliau menangis tersedu. Sementara aku yang melihatnya pun ikut menangis. Tak kuasa menahan haru.


Ibu seperti ingin menyampaikan sesuatu padanya, namun diurungkan. Hanya tangisnya yang semakin menjadi. Saat aku menenangkannya, beliau meraih tanganku, memegangnya erat, hingga kemudian menyatukan tanganku dengan Barata yang digenggam olehnya.


Aku hanya bisa terbengong, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tangan kekarnya menangkup jemari kecilku. Meremasnya dengan pelan.


Rasa hangat menyergap seluruh relung hatiku. Sambil mengingat kembali kapan ya, jemariku bertaut dengannya, kemudian di remas lembut seperti ini?


"Ibu ingin kalian bisa menjadi kakak-adik"


"Yang saling melengkapi dan mendukung"


Suara terbatanya membuatku kembali menangis. Ku gigit keras bibirku, agar isakannya tak semakin menjadi. Sementara tangan ibu mengelus punggung tangan aku dan Barata yang saling bertaut.


Entahlah, akupun bingung aku menangisi apa. Apa yang aku tangisi sebetulnya? Payah sekali!!


Kenapa harus bersama aku? Ada Mbak Runti yang memang anak perempuan beliau. Bagaimana pulang perasaan Anita bila melihat ini? Apa dia tidak merasa terluka? dicurangi?


Apa aku sudah benar di sini? kembali ke keluarga ini? dengan hubungan yang semakin rumit dan tak sehat untuk rumah tangga Barata?

__ADS_1


Aku tahu dan amat sangat tahu kalau Anita sama sekali tidak menyukaiku. Dan aku sama sekali tidak berkuasa atas rasa tak sukanya padaku kan, Bukan begitu?


Aku selalu berbuat baik padanya, tetapi apabila sikap dia yang tidak baik padaku, itu sudah bukan urusanku lagi. Tetapi urusan dia dengan hatinya.


Suasana menjadi canggung.


Sekarang tinggal minum obat ya Bu" Ucapku mengalihkan perhatian, melepas tautan tangan Barata.


Menghapus jejak air mataku dengan cepat.


Aku menyiapkan beberapa obat untuk ibu minum.


Sementara Barata menyibukan diri dengan membereskan bekas seka badan ibu.


"Ibu harus makan yang banyak biar gak lemas ya"


"Biar lekas keluar dari Rumah sakit " ucapku lagi sambil mengarahkan obat ke mulut ibu.


" Done!!! "


" Tinggal menunggu visit dokter. " Ucapku


" Sudah nyaman belum ibu duduknya? " Takut-takut kalau ibu ingin berganti posisi.


"Sudah snap, begini saja" Jawabnya pelan.


Aku sedang membereskan bekas makan Ibu, ketika ponselku berdering nyaring.


Naufal calling??


"Asalamualaikum"


"Buka WA aku Jeng, cepettttt!!! "


tut.. tuuttt... tuuttt


Sambungan telepon terputus.


"Siapa Nak? "


Fokusku terpecah, antara menjawab pertanyaan ibu dengan foto yang sedang aku lihat saat ini.


Seorang perempuan dan laki-laki, berjalan beriringan, dengan si lelaki memeluk perempuannya dengan posesif.


"Seperti di dalam hotel" gumamku pelan.


"Siapa yang di hotel" Ibu kembali bertanya.


" Eh..Gak tahu nih, Naufal mengirim gambar nyasar kali, gak jelas banget. Gak kelihatan wajahnya. " aku menjawab jujur.


"Siapa? "


Satu kata yang aku kirim sebagai pesan singkat kepadanya.

__ADS_1


Sebelum akhirnya aku meletakan ponselku ke atas nakas dan kembali fokus bersama ibu, mengabaikan laki-laki yang sedari tadi hilir-mudik entah melakukan apa.


__ADS_2