
Barata POV
Aku tak menyangka Anita seberani itu untuk mendatangi rumah Mas Reno, almarhum. Wanita yang mencintaiku dengan gilanya. Mengekangku dan membuat aku merasa berada di himpitan batu yang amat besar. Menyesakan!
Untuk kesekian kalinya dia menanyai hal yang sama, hal yang paling aku hindari akhir-akhir ini.
Anita sosok perempuan yang baik sebenarnya, hanya saja obsesinya padaku terlalu besar, bukan menjadikanku nyaman tapi sebaliknya. Aku merasa sangat-sangat di awasi.
Bisa dikatakan gila, namun dia normal. Normal tapi juga gila. Entahlah kata apa yang pantas untuk tuk mendeskripsikan dirinya.
Aku mengenalnya saat sama-sama mendaftar prajurit bintara kala itu. Dia wanita kuat nan tangguh, sangat terobsesi dengan seragam loreng yang aku kenakan saat ini. Awal kita berjumpa dulu saat sedang berlatih Sit up di lapangan parade Kodam jaya. Aku yang saat itu sendiri disapa olehnya hingga akhirnya kami ngobrol panjang kali lebar kali tinggi. Dan itu berlanjut sampai akhirnya kita berpisah, aku melaju ke tahap selanjutnya ke Pantokhir pusat dan dia gugur di akhir pengumuman tes psikologi.
Selama kita mengenal, aku dan dia sama sekali tidak menunjukan ketertarikan. Dalam arti lawan jenis ya, kita hanya sebatas teman ngobrol saja. Hingga akhirnya hubungan kami terputus dan tanpa sengaja kita bertemu kembali di suatu acara yang aku sendiri tak menyangka bahwa itu Anita.
Kulihat saat kita bertemu matanya begitu berbinar, dia memeluku sangat erat, aku yang sedang mengawal Bapak Presiden kala itu tercengang dan kaget bukan kepalang. Rekan-rekan satu letting mengira dia kekasihku. Hingga dia meminta nomor ponselku dan kita saling ber say hello.
__ADS_1
Dan entah bagaimana keadaan menjadi serumit sekarang. Berawal aku yang frustasi di tinggal kekasihku menikah dengan kakakku sendiri, hingga akhirnya aku melampiaskan kepada Anita. Merespon segala perhatiannya dan segala apa yang dia beri. Yang aku harap bisa menyembuhkan rasa sakit.
Namun harapanku tak pernah terjadi. Aku malah terjebak dalam buaian Anita. Seorang pegawai kantoran di salah satu perusahaan pembiayaan kendaraan beroda empat itu menjeratku dalam pesona yang saat ini aku sesali.
Sikapnya yang terlalu pemberani menjadikannya seperti kehilangan beuty dalam dirinya. Entahlah. Hanya saat ini aku benar-benar lelah dengan sikap dia yang terus terusan memintaku untuk lekas menikahinya.
Aku memang pernah berbicara padanya kalau aku akan menikahinya, namun itu hanya jawabanku asal. Jawaban asal yang kukeluarkan manakala aku sudah jenuh dengan segala rentetan tuntutannya padaku jika dia bertanya kapan akan menikahinya. Dan aku yang terlalu lelah dengan berjibun kegiatanku hanya bisa berkata sabar dan mengiyakan segala perkataannya tanpa berfikir.
Bodoh? iya memang aku bodoh. Terserah orang mau menganggapku apa. Yang jelas sejak aku ditinggal Ajeng, duniaku runtuh seketika. Apalagi saat aku mengetahui bahwa dia menikah dengan kakakku. Double shitttt right!!!!
Pengecut? pecundang? iya itulah aku. Aku yang hanya bisa menjadi penonton atas kebahagiaan Ajeng. Aku yang hanya bisa memberikan selamat dengan senyum kamu tanpa suara, yang hanya bisa menerima pelukan kakakku kala itu, tanpa membalasnya. Aku yang hanya berdiri mematung di depannya tanpa sepatah katapun dan melampiaskan segala kemarahanku kepada Anita. Meluapkan hasratku untuk Ajeng kepada Anita. Dimalam yang sama saat Ajeng menyerahkan kesuciannya kepada Mas Reno, akupun melakukannya bersama Anita. Dan sekarang, itu menjadi senjata Anita untuk menjeratku.
Aku si pria bodoh yang hanya bisa menerima takdir tanpa melawan.
Author POV
__ADS_1
"Aku langsung ya Nit, mau menemui komandan di Kodim" Barata membuka suara saat mobil telah berhenti tepat di depan pagar teralis berwarna hitam.
"Gak mau nyapa Mami? " tanyanya.
"Besok lagi kalau waktuku longgar, gak enak lah masa ketemu gak ngobrol langsung main pergi aja" Barata beralasan. Berharap tidak akan sulit meyakinkan perempuan yang sekarang berada di hadapannya itu.
"Yaudah, cepat selesaikan urusanmu. Aku kangen" Dengan sekejap dia merubah mode singanya ke mode kelinci yang menggemaskan.
Namun tak menarik perhatian Barata sama sekali, terbukti pria itu malah sibuk dengan ponselnya yang tiba-tiba saja berdering.
"Iya siap ndan" perkataan pertama yang dia ucapkan saat mengangkat telepon.
Tanpa ingin mendengar perkataan Barata selanjutnya, Anita langsung keluar dari mobil dan membanting pintu sekencang mungkin.
"On the way, ya 10 menit" Barata melirik ke arah Anita yang baru saja keluar dari mobilnya, menuju kedalam rumah. Memastikan bahwa perempuan itu benar-benar memasuki rumahnya.
__ADS_1
Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, dia menginjak gas mobilnya menuju tempat yang sudah di tunjukan temannya lewat goggle maps yang terpampang di layar ponsel pintarnya.