Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
11


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 9.45 WIB. Tepat saat mobil Reno berhenti di sebuah rumah bercat putih coklat, dengan halaman yang luas disertai lampu yang temaram, membuat suasana semakin hangat.


Terlihat dia orang paruh baya sedang duduk mengobrol di sebuah kursi bundar. Memandang kedatangan mobil Reno.


Tak membutuhkan waktu lama Ajeng turun, disambut dengan pelukan hangat perempuan yang sepertinya adalah ibunya. Dan tak berselang lama, Reno ikut turun.


"Dari mana saja? Mama sama Bapak khawatir nyariin kamu" Ibu Suci, ibu dari Ajeng menyambut kedatangan mereka dengan wajah khawatir.


"Asalamualaikum" Reno mulai menginjakan kakinya di lantai teras rumah Ajeng.


"Selamat malam bapak-ibu maaf sebelumnya, saya mengantarkan putri bapak-ibu terlalu malam."


Terlihat raut wajah tak suka saat Pak Rahmat - Bapak Ajeng melihat Reno.


"Perkenalkan saya Reno Pak" Reno memperkenalkan diri.


"Duduk dulu Mas Ren" Ajeng menyilahkan Reno untuk duduk.


Dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Reno, sebelum akhirnya dia menceritakan apa yang telah terjadi pada anaknya.


"Saya menemukan putri Bapak - ibu hampir terseret ombak ketika di laut tadi." Reno menjelaskan kejadiannya secara garis besar. Tentunya dengan menutupi apa-apa yang dia tak berhak beri tahu kepada orang tua Ajeng.


"Subhanallah, lah kok bisa kamu main jauh ke sana? sama siapa nduk? adu gusti" Ibu Suci langsung memeluk kembali anaknya, merengkuhnya dengan kasih. Terlihat air mata mulai meluncur dari kedua matanya.


Sementara Pak Rahmat langsung mencerca Reno dan Ajeng bergantian. Bagaimana bisa terjadi, bagaimana Reno bisa menolong Ajeng hingga akhirnya mereka pulang bersama.


"Terimakasih yang sebesar-besarnya nak Reno, Saya benar-benar berhutang budi dengan nak Reno. Apa jadinya kalo anak bandel ini benar-benar berseret ombak. Wadon-wadon yo ngapa dolan adoh banget ngasik meng Cilacap nganah. Kendel-kendele dewekan. Pokoke mulai ngesuk tek setrap neng Bapak ra olih lunga ngendi-ngendi "


(Anak perempuan kenapa main jauh sekali sampai ke Cilacap sana. Berani-beraninya sendirian. Pokoknya besok Bapak hukum tidak boleh pergi kemana-mana)


Dengan suara menahan marah Pak Rahmat berbicara.


"Bikin minum dulu Ma" Perintah Pak Rahmat.


"Nggih Pak, Nak Reno tunggu sebentar ya, dan kamu Ajeng masuk kedalam bantu ibu" Bu Suci beranjak pergi di susul kemudian oleh Ajeng.


"Ponsel dan tas Ajeng terbawa arus Pak, jadi tidak bisa menghubungi siapapun" Reni kembali menjelaskan.

__ADS_1


"Pantes di hubungi tidak bisa. Nak Reno rumahnya mana? apa kesibukan saat ini? " Suasana mulai mencair, Pak Rahmat juga sudah mulai berbasa-basi.


"Saya di Banyumas Pak, barat alun-alun. Saya kebetulan baru berhenti bekerja. Sekarang kesibukan saya sekarang hanya mondar-mandir cari angin, maka dari itu sering main ke Cilacap, eh tak taunya nemuin anak orang" Reno tersenyum. Dia benar-benar tak menyangka hidupnya begitu rumit.


"Lah Ajeng dulu sekolah di SMA Patikraja. Dari SMA jauh? " Pak Rahmat mulai menikmati alur cerita mereka.


"Ajeng sekolah di SMA Patikraja? jauh sekali dari sini. di laju setiap hari? kalau dari rumah saya ya lumayan lah. Adik saya juga dulu sekolah di sana. Tapi mungkin berbeda jenjang ". kata Reno.


"Iya Ajeng memang anak yang kerasa kepala, tapi dia juga anak yang mandiri sebetulnya. Dulu dia indekost di sebelah SMA, Bapak fikir sekolah di Ajibarang saja sini yang dekat, tapi dia tidak mau. Katanya ingin mandiri. Berat memang melepas dia. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah keinginannya seperti itu. Dan kami orang tua hanya bisa mengarahkan dan mensupport. Apapun yang menurut dia baik kita dukung, selagi itu masih bisa diterima oleh nalar kita. "


"Ayo Nak Reno kita makan malam dahulu. Pasti lapar kan?" Bu Suci tiba-tiba keluar dari dalam rumah.


"Wah tak perlu repot Bu... "


"Alah gak boleh nolak rejeki, Ayo masuk" Pak Rahmat memaksa Reno, mau tak mau mereka bertiga masuk kedalam rumah. Menuju ke ruang makan.


"Makan Mas Ren, seadanya ya" Ajeng yang sudah berganti pakaian, menggunakan kaos rumahan dan celana panjang. Rambutnya sudah diikat rapi.


Memandang dari jarak yang dekat dan keadaan yang terang, membuat Reno dapat melihat dengan jelas wajah cantik Rena. Matanya yang besar hidung yang sedikit mancung karena tertutup pipi gembilnya membuat wajahnya terlihat menggemaskan. Ditambah rambutnya yang diikat ekor kuda menjuntai sampai bahunya.


"Terimakasih" Ucapnya sambil menarik kursi dan mendudukinya. Menikmati santap malam bersama keluarga asing yang tiba-tiba menjadi seperti keluarga sendiri.


"Kalau lewat sini jangan sungkan-sungkan untuk mampir ya nak Reno" Pak Rahmat berpesan saat Reno bersiap untuk pulang.


"Nggih pak, inshaAllah kalau ada waktu saya mampir ke sini. Terimakasih atas makan malamnya. Kamu jaga diri ya sehat-sehat dan hati-hati" Ucapnya memandang Ajeng.


"Iya Mas Ren, terimakasih yaa. Mas Ren juga hati-hati" Ajeng tersenyum melihat Reno yang sekarang menjauh, masuk kedalam mobilnya.


"Asalamualaikum" Ucap Reno sebelum benar-benar melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah Ajeng.


Jalanan yang berkelok dan naik turun, membuat Reno harus berhati-hati saat berkendara. Rumah Ajeng memang jauh dari jalan besar. Butuh lebih dari 30 menit untuk sampai di jalanan besar. Apalagi Reno yang belum mengenal medan sini, harus ekstra hati-hati.


Tepat pukul 1 dini hari, Reno memasuki halaman rumahnya. Tentunya setelah dibukakan pintu gerbang oleh Pak Yono satpam di rumahnya.


"Tolong besok suruh Anto nyuci mobil ya Pak Yono" Sebelum Reno masuk ke rumah, dia menitip pesan keadaan Pak Yono.


"Siap mas, besok saya sampaikan. "

__ADS_1


Reno beranjak pergi, memasuki rumahnya. Langsung menuju kamarnya dan menjatuhkan diri di atas ranjang.


Benar-benar hari yang melelahkan.


Pagi harinya, saat dia masih dibuai oleh mimpi dan hangatnya bergerumul di bawah selimutnya, suara Ibunya terdengar memanggil namanya, sesekali terdengar gedoran di depan pintu kamarnya. Dan mau tak mau dia harus beranjak untuk membuka pintu.


"Apa si Bu...? " ucapnya manakala membuka pintu.


"Apa-apaan kamu? kenapa ada pakaian perempuan di mobilmu? keluyuran kemana aja semalam? dasar anak nakal kamu ya" tanpa ampun Ibu Sukma menjewer telinganya, menyeret dia masuk kedalam kamar dan duduk di ranjang yang baru saja dia tinggalkan.


"Ya ampun Bu sakiiit.. sakit bangeettt Subhanallah ya Allah Buu" Reno memegang tangan ibunya sembari memohon ampun.


Bu Sukma melepaskan jewerannya di telinga Reno. "Sekarang coba jelaskan siapa pemilik baju dan bra wana pink itu, kenapa ada di mobilmu? " Dengan kedua tangan di pinggang, Bu Sukma menanyai anaknya.


Bu Sukma memang orang yang sangat tegas kepada kedua anaknya. Mungkin karena dia single parent yang menjadikan dia dituntut untuk memiliki sikap tegas.


"Ya mana Reno tau, emang Reno pake Bra apa? Ibu aneh-aneh aja" Reno menjawab dengan santai, bahkan masih sempat menggapai ponsel yang berada di atas nakas.


"Eh dasar anak nakal ya, gak mungkin itu milik Pak Anto kan! jawab yang betul" Ibunya semakin meradang.


"Ya Allah Bu, swerr aku gak tau" Reno memandang ibunya lekat.


"Ibu gak mau ya kamu jadi pedofil perempuan, seenaknya masukin burung di sembarang tempat bahkan di mobil, meninggalkan baju sampai basah begitu segala"


"Astaghfirullah, Bu istighfar.. masa iya anak kalem ini dibilang pedofil suka masukin burung" Reno semakin tak bisa mengerti perkataan ibunya.


Ia beranjak keluar kamar, menuruni tangga menuju ke halaman.


"Pak Anto!!! " Kini giliran dia yang berteriak. Rasanya kesal sekali pagi-pagi sudah ribut baju.


"Ya Mas" Pak Anto yang masih mengelap mobilnya dengan kanebo datang menghampiri.


"Itu Ibu ribut baju, baju apa sih? kamu sengaja ya bikin Ibu marah ke aku" dia berbalik menuduh Anto.


"Tunjukin bajunya To" Ternyata Bu Sukma mengikuti anaknya sedari tadi.


Anto berlalu, dan datang kembali lagi membawa dress berwarna navy dengan motif bunga-bunga kecil .

__ADS_1


Dan seketika fikirannya kembali lagi ke kejadian semalam. Dimana dia melihat perempuan sedang memaki lautan dan hampir terseret ombak.


Ajeng.


__ADS_2