TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 1


__ADS_3

"Aku sudah berusaha..."


"Berusaha apa? sudah 3 bulan kita menunggak. Bahkan untuk membeli susu Una saja kita sudah nggak sanggup."


"Aku..." Mengusap wajahnya frustasi.


"Mau sampai kapan kita begini? aku nggak bisa tetap seperti ini. Kita berpisah saja.."


"Nggak bisa..."


Seorang gadis kecil berusia 5 tahun bernama Una, melihat dan mendengar pertengkaran kedua orang tuanya dari balik tembok. Ia mengusap air matanya, tiap hari kedua orang tuanya selalu saja bertengkar.


"Ayah, Bunda... Una nggak mau minum susu lagi, rasanya nggak enak." Ucap pelan bocah cilik itu. Kedua orang tuanya setiap bertengkar selalu membahas perkara susu. Menurutnya jika ia tak meminum susu lagi, kedua orang tuanya pasti tidak akan bertengkar, kan.


Begitulah pemikiran gadis kecil itu, padahal kedua orang tuanya bertengkar karena terhimpit masalah ekonomi.


"Sayang... kamu sudah bangun?" Tanya Reno menghampiri sang anak. Berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Una.


"Kamu pasti mimpi buruk ya." Rosa pun menghampirinya. Sudah pasti anaknya terbangun karena suara pertengkaran mereka.


Reno menggendong Una. "Kamu pasti mau tidur sama Ayah, kan?"


Una mengangguk. Ayah menggelitikinya, membuat kedua tertawa.


Pagi harinya Reno bersiap untuk pergi. Ia pekerja serabutan, hari ini temannya akan mengajaknya untuk menjadi kenek buruh bangunan.


Dulunya Reno adalah anak pengusaha kaya di kotanya. Ia jatuh cinta pada Rosa. Tapi cinta mereka tak direstui orang tua Reno, bahkan orang tua Rosa juga tak merestui lantaran orang tua Reno yang tak segan-segan menghina orang tua Rosa, bahkan mempermalukan mereka.


Rosa memilih mundur, tapi Reno tak mau melepaskan Rosa. Hingga singkat cerita mereka akhirnya kawin lari. Memulai hidup baru dari awal di kota yang baru.


Tapi ternyata keluarga Reno tak tinggal diam. Dengan kekuasaan dan uang, keluarganya menutup semua akses untuk Reno. Hingga tak ada perusahaan yang mau menerimanya.


Reno juga pernah mencoba membuka usaha sendiri dan usahanya dibakar orang yang tak dikenal, padahal itu adalah modal satu-satunya. Ia pun terpaksa bekerja serabutan untuk menghidupi istri dan anaknya.


"Aku pergi dulu." Pamit Reno, melihat Rosa diam saja, pria itu pun memeluknya.


"A-aku takut Bu Siska datang lagi menagih." Rosa pun menangis di pelukan sang suami. Bu siska terkenal pemilik kontrakan yang sangat galak, setiap menagih ia akan memaki bahkan tak segan untuk menghinanya.


"Maaf... aku akan carikan uangnya. Doakan hari ini aku dapat uang." Reno menenangkan sang istri. Reno sangat tahu keluarganya tetap memantau dirinya. Walau sampai lembur bekerja tetap saja pendapatannya rendah. Selalu dibawah dari pekerja lain.


"Aku pulang ke rumah orang tuaku saja ya?"


Mendengar ucapan Rosa, Reno melonggarkan pelukannya. Menatap lekat sang istri.


"Tidak. Kamu sabar ya. Aku akan berusaha demi keluarga kita." Janji Reno.

__ADS_1


Rosa diam, mengalihkan pandangannya. Ia juga tahu mertuanya selalu memantau mereka, Reno selalu cerita padanya, tentang bagaimana sulitnya ia mencari pekerjaan.


"Ya..?"


Rosa akhirnya menggangguk. Reno bernafas lega. Ia pun bisa pergi kerja dengan tenang.


Setelah Reno pergi, ia kembali ke kamar. Tersenyum melihat Una yang masih tertidur pulas. Walaupun hanya dengan kasur tipis, anaknya itu bisa tidur dengan pulas. Wajah polosnya membuatnya tersenyum.


Rosa menciumi pipi buah hatinya. Anugrah terindah dalam pernikahannya.


Tok


Tok


Tok


Suara ketokan pintu yang cukup kuat mengagetkan Rosa. Ia sudah tahu siapa yang mengetok pintu. Siapa lagi kalau bukan pemilik kontrakkan.


Rosa membuka pintu, ia melihat Bu Siska memasang wajah sangar.


"Cepat bayar uang sewa?" Tagihnya dengan suara menggelegar.


"Mas Reno lagi kerja. Nanti sore pasti dibayar.."


"Sore sore sore, sore kapan? kalian sudah nunggak 3 bulan. Kalian kira saya orang dermawan, saya juga butuh uang untuk anak-anak saya."


"Kamu janji-janji saja. Kalau suamimu nggak bisa menghidupimu, jual tubuhmu. Aku bisa mencarikanmu tubang kaya."


Wajah Rosa memerah mendengar ucapan Bu Siska. "Nanti sore Mas Reno akan membayarnya, sekaligus dengan bunganya Bu."


"Hmm." Bu Siska melihat Rosa malas. Wanita muda itu hanya bisa berjanji-janji saja.


"Ku beri waktu sampai sore, kalau nanti sore nggak ada juga uangnya. Kalian harus meninggalkan kontrakan ini. Dasar orang miskin. Jika nggak sanggup bayar kontrakan tinggal saja di kolong jembatan."


Bu Siska pergi dengan sombongnya. Rosa hanya mampu mengusap air matanya.


"Bunda..."


Rosa menutup pintu, ia kaget melihat Una sudah bangun. Wajar terbangun, pasti karena teriakan wanita galak itu.


"Kamu sudah bangun. Mandi kita yuk, setelah itu sarapan." Ajak Rosa menahan kesedihannya. Ia tak mau menangis di depan Una.


Setelah mandi, Rosa menemani Una makan. Hanya nasi dan telur ceplok, tapi bocah kecil itu makan dengan lahap.


"Makannya pelan-pelan ya." Bunda mengambil nasi yang berserakan di mulut bocah kecil itu.

__ADS_1


"Bunda sudah sarapan?"


Rosa mengangguk. "Sudah tadi sama Ayah." Bohongnya. Ia dan Reno tak sarapan. Nasinya hanya cukup buat Una. Anak kecil itu harus tetap makan untuk pertumbuhannya.


'Kalau nggak ada aku, mereka pasti menyayangi Una.'


"Bunda sudah.." Bocah kecil itu sudah menghabiskan sarapannya.


"Kita tidur yuk. Bunda ngantuk."


Bunda menepuk-nepuk punggung sang anak pelan. Ia berpikir selama ini kehidupan mereka makin terpuruk. Bahkan uang yang Reno cari hanya mampu membeli beras dan telur. Itu hanya untuk mereka makan sekali. Mereka mengalah agar Una tetap bisa makan 3 kali, karena Una jarang diberi susu.


Rosa menggenggam tangan kurus Una, tubuh sang putri tak seperti anak-anak seusia dirinya.


'Bunda, sangat menyayangimu. Bunda harap kamu bahagia sama Ayah. Jangan marah sama Bunda ya, Bunda hanya mau kamu bahagia.'


Rosa menciumi bocah cilik yang sudah tertidur. Sambil mengusap air matanya, ia sudah bertekad akan kembali ke rumah orang tuanya. Membiarkan Una bersama Ayahnya. Ia percaya Reno pasti bakal kembali ke keluarganya. Mereka pasti akan menerima Reno dan Una tanpa dirinya. Reno anak mereka dan Una darah daging Reno.


Rosa meletakkan surat yang telah ditulisnya untuk Reno. Dalam suratnya ia meyakinkan Reno untuk kembali ke keluarganya, memikirkan masa depan Una jika mereka tetap memaksa bersama.


Rosa menghela nafas panjang, ia terpaksa harus pergi tanpa pamitan. Sejujurnya ia juga nggak bisa berpisah dari Reno secara langsung. Hatinya nggak pernah sanggup untuk berpisah.


Sore itu Una bangun, ia tak melihat Bunda di sampingnya. Ia bangkit dan berjalan keluar kamar.


"Bunda... Bunda..."


Tak ada sahutan. Ia mencari seluruh rumah, dapur, kamar mandi tapi tak menemukan Bundanya. Mencari keluar rumah tetap tak menemukannya.


"Bunda pergi kemana ya?" Ia masuk ke dalam rumah.


Hari sudah malam, baik Bunda dan Ayah tak ada yang pulang. Una kecil gelisah. Bocah itu menunggu di depan pintu, berharap kedua orang tuanya segera pulang.


Una menguap, ia mulai mengantuk. "Aku tidur saja. Pasti mereka akan pulang."


Bocah kecil itu menutup pintu dan menguncinya. Mengambil selimut dari kamar dan memilih tidur di ruang tamu yang hanya ada tikar saja. Ia nggak mau tidur di kamar, takut nggak dengar saat mereka mengetok pintu.


Pagi telah tiba, Una tersentak. Ia masih diruang tamu. Ia pun bangkit dan mencari kedua orang tuanya.


"Ayah, Bunda... kalian dimana? Una sudah nggak mau minum susu lagi..." Bocah cilik itu terisak-isak. Berjongkok di depan rumah. Setelah mencari dan tak menemukan kedua orang tuanya.


"Hei... anak kecil."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2