
WARNING 21+
\=\=\=\=
"Apa!!!" Pekik Una menjauhkan tangan Bian yang akan memegang celana piyamanya.
"Kenapa?" Tanya Bian dengan wajah bingung.
"Itu itu itu..." Otak Una sudah tak bisa berpikir. Ia tak tahu mau menjawab apa.
"Kalau nunggu sampai besok baru kita ke dokter, takutnya akan jadi bahaya. Aku akan menelepon dokter sekarang untuk menanyakan masalahmu itu. Tapi aku harus melihatnya langsung agar dapat menjelaskan pada dokter." Alasan Bian panjang.
"Tidak usah." Una menolak cepat.
"Sayang..." Bian merangkup wajah Una dengan kedua tangannya. "Apa kamu sedang berbohong padaku? kamu menolakku lagi?" Wajah Bian mulai sedih.
"Ti-tidak." Geleng Una cepat.
"Dengar Unaku sayang, tolong beri aku kesempatan, ya. Aku ingin membangun keluarga kecil bersama kamu. Hidup bahagia bersama anak-anak kita nanti."
"Ma-maaf Mas." Una merasa tak enak hati. Bian sampai memohon seperti itu padanya. Ia merasa selama ini ia sangat keterlaluan.
"Se-sebenarnya a-aku lagi nggak em Mas." Aku Una gugup.
"Hmm?" Wajah Bian bingung.
"Mas, tunggu diluar dulu bentar." Una malah mendorong Bian keluar kamar.
__ADS_1
"Sayang..." Bian mengetok pelan. Ia takut terdengar orang tua dan para pekerja rumah. Mereka pasti akan tertawa melihatnya hanya memakai handuk saja.
krek
Bian langsung masuk saat pintu terbuka. Ia terpaku melihat pemandangan yang disuguhkan. Pemandangan yang menantang jiwa liarnya.
'Wow...' Batin Bian.
Mata Bian menatap nakal wanita yang memakai lingerie berwarna hitam yang begitu kontras dengan warna kulit Una. Hingga membuat lekuk tubuh sipemakai terpampang jelas dan nyata. Membuat sesuatu yang semula tidur jadi terbangun.
"Mas Bian pernah bilang ingin melihatku memakai ini, kan." Una melirik Bian lalu kembali membuang pandangannya. Perasaannya panas dingin sekarang. Ia juga sangat malu.
Bian mengangguk dan mendekati Una. Wanita itu mulai salah tingkah.
'Tapi aku lebih ingin melihatmu tanpa busana!!!'
"Apa kamu sengaja berpakaian seperti ini untuk mengodaku?" Tanya Bian dengan wajah mulai mesum.
"Ti-tidak. Aku-"
Ucapan Una terhenti takkala Bian mendaratkan sebuah ciuman yang begitu lembut. Begitu lembut seperti gula kapas yang membuat Una perlahan harus membalasnya.
Tak mau Una lelah karena menjijit, Bian pun mengangkatnya. Menggendong Una layaknya koala.
Una menyilangkan kakinya di tubuh Bian dengan tangan melingkar di leher suaminya. Mereka saling menatap sejenak. Lalu kembali melanjutkan ciuman yang selalu membuat candu.
Bian membawanya ke ranjang dengan bibir yang masih saling menaut. Meletakkan Una di ranjang lalu tubuhnya juga menidihnya.
__ADS_1
Ciuman yang semula lembut perlahan ngebut dan menuntut. Ada hasrat yang bergelut.
"Mas..." Una menekan dada Bian. Ia menarik nafas berkali-kali, Bian membuatnya tak bisa bernafas.
Bian tersenyum melihat wajah bak kepiting rebus. Benar-benar membuatnya bergairah.
"Sayang... boleh, kan?"
Melihat anggukan Una, pria itu jadi bersemangat. Kembali meresap rasa manis. Perlahan tangan Bian melepas lingerie itu. Membuangnya asal beserta handuk yang melilit juga ikut terbang.
Tubuh Una meremang dengan debaran hati mengiringi. Ia makin mengeratkan tangannya di leher Bian, saat sesuatu mulai menghujam intinya.
Bian tetap menautkan bibir mereka, Mengalihkan rasa sakit itu sejenak. Ia menatap Una yang mulai rileks, lalu memberikan hujaman-hujaman kenikmatan. Membuat Una mendesah dibawah kungkungannya.
"Mas Bianku... aku mencintaimu. Aku mencintaimu sayang." Una mengakui perasaannya dengan tubuh bergetar, ia menatap wajah tampan itu. Pria ini sungguh membuat hati dan pikirannya melayang.
"Terima kasih sayang." Bian mengusap keringat yang membasahi kening Una.
"Aku sangat mencintaimu, Unaku sayang." Ungkap Bian dengan nada sangat lembut.
Mereka kembali memadu kasih dalam ranjang yang bergoyang.
.
.
.
__ADS_1