
"Aku beli sesuatu buat mas Bianku." Una bangkit dan tangannya menekan perut Bian.
"Aw..." Ringis Bian.
"Aduh, maaf Mas. Aku nggak sengaja." Una jadi tampak panik.
"Aduh perutku sakit." Rengek Bian memegang perutnya.
"Maaf ya Mas." Una merasa bersalah.
"Cium dulu. Baru aku maafin." Bian memajukan bibirnya membuat Una mendengus. Pria itu sepertinya berpura-pura kesakitan.
Wanita itu pun juga memajukan bibirnya dan perlahan mendekat pada Bian.
"Cium nih bantal." Tawa Una menutup wajah Bian dengan bantal. Una pun bangkit dan mengambil tas belanja di meja nakas.
"Mas, ini untukmu." Una memberikan sebuah kotak pada Bian.
Wajah Bian masih cemberut melihat Una. Ia hanya memegang kotak itu.
"Dibuka Mas." Pinta Una.
"Apanya yang dibuka?" Tanya Bian.
"Kotak ini dibuka, terus lihat isinya. Aku yang pilih lho."
"Oh, aku kira tadi kamu menyuruh aku buka baju kamu." Ledek Bian dengan wajah setengah mesum.
Mata Una terbelalak mendengar ucapan Bian.
"Kamu beli jam tangan?" Bian membuka kotak yang ternyata isinya jam tangan.
Una mengangguk sambil memasangkan jam tangan pada Bian. "Gimana Mas, suka?"
__ADS_1
Pria itu dengan wajah masih senyum pun mengangguk. "Iya aku suka..."
Bian menjeda ucapannya, ia memandang wajah Una. "Kamu.." Sambungnya lagi.
Hati Una kembali berdesir, sepertinya ia memang mudah baperan pada Bian.
Bian mendekatkan jarak mereka, kembali merasakan rasa yang membuat candu.
Ciuman yang semula lembut, perlahan seakan mulai menuntut. Una sudah terbaring di bawah kungkungan Bian.
"Mas..." Ucap Una lirih. Hembusan nafas dan kecupan-kecupan yang diberikan Bian di lehernya, membuat tubuhnya meremang. Seperti banyak kupu-kupu menggetilik.
Kruk
Kruk
Kruk
Bian menyembunyikan wajahnya di leher Una, ia jadi malu. Di saat seperti ini malah perutnya bernyanyi sumbang. Wajar sih ia dari tadi belum makan siang.
###
"Tadi kamu pulang naik apa?" Tanya Bian sambil melahap makanannya. Ia akan berpura-pura tidak tahu saja.
"Mas Dino." Jawab Una, ia meletakkan sayur di piring Bian.
"Dino?" Tanya Bian bingung.
"Iya, Mas Dino. Tadi kami kebetulan ketemu di Mall, ia lagi cari kado untuk anak temannya. Jadi sekalian aku bantu pilihkan. Terus ia mentraktir makan dan mengantar aku dan Ziva pulang." Jelas Una mengatakan semua.
Bian menganggukkan kepala, ia sudah salah sangka pada istrinya sendiri.
"Oh ya Mas Bianku. Mas Dino itu orangnya gimana?" Tanya Una melipat tangan.
__ADS_1
Bian melihat Una dalam. "Kenapa?" Tiba-tiba ia merasa kesal.
"Itu, ia bercerai dengan istrinya karena apa?"
"Kenapa kamu ingin tahu?" Bian malah balik bertanya, wajah pria tampan itu mulai masam.
"Hanya ingin tahu."
"Kamu masih menyukainya?" Tebak Bian cepat. "Kamu mau punya suami berapa sih, Una?"
Una menarik hidung Bian, ia kesal mendengar pertanyaan itu.
"Dengar ya Mas Bianku, aku mau menjodohkan dengan temanku, Ziva. Aku harus tahu bagaimana mas Dino itu. Apa dia pria baik atau tidak? jadi aku nggak salah comblangi orang. Ziva itu teman baikku, jadi aku mau yang terbaik juga untuknya." Jelas Una menarik-narik pipi Bian dengan gemas.
Pria tampan itu jadi tertawa, ia menepuk jidatnya. Kenapa ia bisa berpikirkan dangkal. Semua memang harus dibicarakan agar tak ada kesalah pahaman.
"Menurut Mas, apa mas Dino bisa cocok sama Ziva?"
"Hmm... kita dekatkan saja mereka dulu, setelah itu terserah mereka lah. Tapi Dino itu sangat membenci perselingkuhan."
"Wah, apa mantan istrinya berselingkuh?" Tebak Una antusias.
Bian mengangguk. "Iya, istrinya selingkuh dengan tetangga sebelah rumahnya."
"Oh..." Una mengangguk paham lalu ia menatap Bian.
"Mas kok tahu? jangan-jangan Mas Bian tukang gosip ya." Ledek Una dengan wajah setengah mengejek.
"Sudah di kasih tahu terus aku dibilang tukang gosip lagi." Bian menghela nafas.
Una malah tertawa melihat wajah Bian yang kesal padanya.
.
__ADS_1
.
.