
"Tolong buatkan aku kopi." Pinta Bian ketika mereka sudah sampai apartemen. Una mengangguk dan segera ke dapur.
Tak lama Una membawa secangkir kopi. Ia meletakkan di atas meja. Bian sedang menonton tv.
"Duduklah."
Una pun duduk di sofa.
"Ini untukmu." Bian menyerahkan sebuah paper bag.
Una menerima dan membuka isinya. Wanita itu terkejut melihat isinya.
"Apa ini Tuan?" Tanya Una bingung.
"Kamu hidup di zaman kapan? hp saja tidak tahu." Ledek Bian.
Una menghela nafas. "Aku tahu ini hp Tuan, tapi untuk apa diberikan kepadaku?"
"Memang untuk apalagi kalau bukan untuk menghubungimu." Tak ada yang salah dengan jawaban Bian.
"Aku sudah menyimpan nomorku di hpmu." Timpal Bian kemudian.
"Apa aku boleh mencobanya?" Tanya Una.
Bian mengangguk. Ia tersenyum samar melihat wanita itu berbinar-binar menerima pemberiannya. Seperti baru pertama kali melihat barang seperti itu.
Benar, bagi Una ini pertama kalinya ia memiliki sebuah hp. Dari zaman dulu ia tak bisa membeli barang seperti ini, karena gajinya tiap bulan selalu diambil Bu Ita.
Ziva selalu meminjamkan hp miliknya pada nya. Una diajarkan bagaimana cara menelpon dan menjawab pesan. Tapi Una hanya sekedar tahu saja.
"Kenapa kamu meneleponku?" Tanya Bian yang akan meminum kopinya, melihat hpnya bergetar di atas meja.
"Aku mau menelepon siapa lagi, hanya ada nomor anda di sini." Ucap Una.
"Apa aku harus mengangkatnya?" Tanya Bian memegang hpnya. Una mengangguk.
"Halo Tuan, apa kabar anda?" Tanya Una, Bian menggeleng melihat wanita aneh itu.
"Ada apa?" Walau merasa aneh, masih dijawab juga.
"Aku mau mengucapkan terima kasih." Kemudian Una pun memutuskan panggilan.
"Apa kamu tidak bisa mengucapkan terima kasih secara langsung?" Bian meletakkan hp ke meja.
"Aku hanya mencoba untuk menelepon. Dan ternyata hp ini sangat bagus, suara anda sangat jernih, Tuan."
"Jelaslah, itu hp mahal." Bian kembali dalam mode sombongnya. Ia memang memberikan Una hp keluaran terbaru. Yang bagi sebagian orang harganya bisa membuat kantong jebol.
Ting
Bian melihat satu pesan masuk dari WANITAKU. Itu nama Una di kontaknya.
__ADS_1
"Hai Tuan.." Bian membaca pesan dan menatap Una.
"Aku mencoba mengirim pesan. Ternyata langsung sampai. Padahal baru juga aku tekan kirim." Una sangat kagum pada kecepatan jaringan.
"Ayo kita foto berdua. Aku mau memasang foto kita. Kemarilah." Bian menyuruh Una duduk disampingnya.
Una bangkit dan duduk disamping Bian. Pria itu langsung mendekat.
"Senyumlah." Bian mengambil foto mereka.
Merasa tak nyaman, Bian terlalu dekat dengannya. Wajah mereka juga begitu dekat. Una tak bisa tersenyum. Ia gugup dan merasakan jantungnya berdebar cepat tidak seperti biasanya.
"Apa kamu tidak bisa tersenyum?" Bian melihat foto Una dengan ekspresi sangat tegang. Seperti sangat tertekan.
"Ma-maaf Tuan."
"Tersenyumlah. Tersenyum seperti wanita malam yang menggoda."
"Tapi aku bukan wanita seperti itu Tuan." Sanggah Una melihat Bian. Jarak mereka sangat dekat. Bahkan keduanya dapat merasakan hembusan nafas di wajah mereka.
"I-itu... itu kamu bisa, tersenyumlah seperti sedang berfoto dengan orang yang kamu sayangi. Senyum yang ikhlas, bukan terpaksa seperti itu." Ucap Bian tiba-tiba gugup.
Una mengangguk, ia pun mencoba mengikuti saran Bian. Tersenyum saat mengingat Ayah dan Bundanya. Mengingat setiap kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama, meski kini kenangan itu mulai samar.
"Bagus..." Puji Bian melihat beberapa foto yang di ambilnya. Di foto itu mereka seperti pasangan kekasih yang sangat cocok dan mesra.
Bian mengganti wallpapernya dengan foto-foto mereka. Bahkan foto profil pada aplikasi pesannya. Agar Luna juga melihatnya.
"Apa?" Masih fokus pada layar ponsel.
"Aku kabur ke kota ini dengan temanku bernama Ziva. Sehari sampai di kota ini Mami Lisa menangkapku dan membawaku padamu. Temanku pasti mengkhawatirkanku, bisakah Tuan mencarinya dan menyampaikan padanya kalau aku baik-baik saja. Ia tidak perlu mencemaskanku." Ucap Una. Ia tahu pasti Ziva kebingungan sekarang.
Bian diam dan menatap Una dengan tatapan yang sulit diartikan. Ekspresinya nggak bisa diprediksi. Entah marah atau apa, tak ada yang tahu.
"Aku pulang. Besok bersiaplah jam 10, aku akan menjemputmu. Luna akan wisuda besok dan kamu harus ikut denganku." Ucap Bian bangkit dan melangkah pergi keluar pintu.
Sampai diluar apartemen, ia mengambil hp di saku dan menekan gagang hijau di layar.
"Wan... Bayar orang untuk mengawasi Una 24 jam penuh. Jaga keamanan dirinya. Dan satu lagi..."
Bian pun melangkah pergi, setelah mengatakan perintahnya pada sang asisten.
~
"Bian, apa maksud kamu?"
Baru juga masuk rumah, ia sudah ditanya. Tah maksud apa yang di maksud itu. Papa dan Mama duduk di ruang tamu, sepertinya memang sudah menunggunya.
"Siapa wanita itu?" Tanya Papa meninggikan suaranya.
"Wanitaku Pa." Jawabnya santai.
__ADS_1
Plak
Tangan besar itu mendarat mulus di pipinya. Mama memegangi suaminya yang kembali akan menampar sang anak.
"Berani-beraninya kamu bermain dengan wanita seperti itu." Papa memijat pelipisnya. Luna sudah menceritakan semuanya. Jika Bian bermain dengan seorang wanita malam.
Bian diam saja, meremas tangannya. Ia mencoba tenang, bagaimana pun dihadapannya itu adalah kedua orang tuanya.
"Tinggalkan wanita itu. Minggu depan menikahlah dengan Luna. Ia sangat sedih karena kelakuanmu Bian." Ucap Mama dengan nada lembut seolah sedang membujuk.
"Maaf... aku nggak bisa." Tetap yakin dengan keputusannya. Ia tak akan mau menikah dengan Luna apapun ceritanya.
"Kamu hanya perlu belajar menerima Luna. Jika kamu memberi kesempatan, Mama yakin kamu juga bisa mencintainya. Hanya masalah waktu saja."
"Aku nggak bisa menikah dengan wanita yang tak akan bisa kucintai." Bian hanya menganggap Luna seperti adiknya.
"Kau..." Bentak Papa. "Kita berhutang budi pada keluarganya. Jika saja mereka tidak membantu keluarga kita, kehidupan kita tak akan seperti ini." Papa mulai memelankan suaranya.
"Cukup kembalikan bantuan yang mereka berikan. Tolong jangan jadikan aku sebagai alat pembalas jasa kalian."
"Kau..." Papa mengambil stick golfnya.
"Pa... jangan Pa." Mama memohon memegangi suaminya. Tapi Papa menepis tangan istrinya.
"Dasar anak tak berguna, apa begitu sulit menuruti apa kata Papamu ini?" Papa memukuli tubuh Bian dengan stick golf. Papa memang begitu, jika Bian tak menurut padanya stick golf selalu melayang ke tubuhnya.
"Pa... sudah Pa." Mama menangis melihat sang putra yang diam saja dipukuli suaminya. Seperti sudah kebal dan terbiasa.
"Kamu harus menikahi Luna minggu depan." Ucap Papa setelah memukuli sang anak.
"Aku tidak mau."
"Anak ini." Mendengar jawaban Bian, Papa makin tersulut emosi. Ia akan memukulnya lagi, tapi kali ini Bian menahan stick golf itu.
"Aku tak akan mau menikah dengan Luna. Jika Papa merasa berhutang budi pada keluarganya, maka Papa saja yang menikahinya." Ucap Bian dengan nada datar. Ia menepis stick golf itu, lalu pergi meninggalkan mereka.
Bian berjalan keluar rumah dan menuju mobilnya yang terparkir di bagasi.
"Bian, kamu sudah pulang." Ucap Luna yang menghampirinya. Wajahnya begitu sembab akibat menangisi Bian yang tidak bisa tergapai.
"Menjauh dariku." Bentak Bian membuat Luna meneteskan air mata lagi.
"Bi-Bian maafkan aku. A-aku sangat mencintaimu." Luna memeluk Bian.
"Lepaskan aku." Bentak Bian mendorong Luna lalu masuk ke dalam mobil. Tak peduli Luna yang mengetok-ngetok kaca meminta Bian untuk turun. Ia pun menghidupkan mesin mobil dan melaju pergi.
"Bian... Bian... Aku mencintaimu Bian." Teriak Luna melihat mobil pria itu yang semakin menjauh.
.
.
__ADS_1
.