
Reno dan Rosa berpapasan melewati Bian yang sedang menggendong seorang wanita di punggungnya.
"Mas, Bian sangat sayang pada istrinya, ya." Ucap Rosa yang masih melihat Bian dari spion. Ia tak dapat melihat wajah istri Bian, karena wanita itu sedang melihat kearah lain.
"Iya. Luna harus segera move on. Ia tak boleh berharap pada pria yang sudah menikah." Ucap Reno melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Tak lama mereka tiba di Bandara untuk menjemput orang tua Reno. Yakni kakek dan neneknya Luna dan Adit.
"Apa yang terjadi pada cucuku? kenapa dia selalu menangis?" Tanya Nenek menatap Rosa. Luna adalah cucu kesayangannya.
"Itu..." Rosa ingin menjelaskan.
"Pasti masalah Bian lagi. Kenapa anak satu itu nggak bisa menerima cucuku?" potong kakek cepat.
"Bian tidak mencintai Luna, Pa.."
Nenek langsung memotong ucapan Reno. "Kenapa nggak bisa? kenapa dia lebih menyukai wanita malam itu? wanita itu pasti sudah banyak dijamah pria. Apa bagusnya dia." Ucap Nenek. Luna sudah menceritakan semua pada wanita tua itu.
"Kita tidak bisa memaksa Bian." Ucap Rosa kemudian.
Nenek menghela nafas, "Kita harus memaksanya. Bian harus diberi tahu mana yang terbaik untuknya. Setidaknya Luna lebih baik dari pada wanita malam itu."
Wanita tua itu melangkahkan kaki keluar bandara. Ia amat kesal, Bian memilih wanita yang bahkan jauh di bawah cucunya.
Sementara di rumah, Luna hanya duduk di ruang tamu. Setelah pergulatannya dengan Una tadi pagi, ia sengaja tak mau berganti pakaian ataupun mengobati luka-lukanya. Ia tahu kakek dan neneknya akan datang. Mereka berdua pasti tak terima cucunya disiksa seperti ini.
"Kak Lun... biar kuobati." Ucap Adit tak tega melihat kakaknya berantakan.
"Biarkan saja." Bentak Luna.
"Pasti kak Lun yang nyari masalah sama istrinya bang Bian. Sudahlah kak... lupakan bang Bian, macam nggak ada saja pria lain di dunia..."
__ADS_1
Adit tak jadi melanjutkan perkataannya, karena mendapat pelototan Luna yang membuat nyalinya ciut.
"Luna..."
"Nenek..." Rengek Luna menghampiri dan memeluk wanita tua itu.
"Kenapa kamu? bertengkar dengan siapa?" Tanya Nenek melihat penampilan Luna yang berantakan.
"Istrinya Bian Nek. Dia jahat, dia menjambak rambutku, mencakar wajahku bahkan dia juga memukulku, lalu mencubitku. Dia menyiksaku nek. Padahal aku hanya menyapanya." Adu Luna yang berisi kebohongan.
"Kasihannya cucuku ini. Sini biar nenek obati luka kamu. Nanti kita beri perhitungan dengan wanita itu."
Luna mengangguk bahagia. Dengan menggunakan nenek, ia akan menyingkirkan wanita bernama Una tersebut dari Bian.
Tak lama kakek dan nenek tampak bicara serius pada Ayah dan Bunda di ruang tamu.
"Pa, Ma... jangan begitu. Kita tidak bisa memaksa mereka."
"Sudahlah, lebih baik kita kenalkan Luna pada pria lain dari pada mengharapkan Bian terus." Ucap Reno yang tak setuju ucapan kakek.
"Kamu lihat Luna. Kasihan anak kamu itu. Dia cuma mau sama Bian." Nenek tak sampai hati pada sang cucu. Ia ingin melihat Luna bahagia, dan bahagianya Luna adalah menikah dengan Bian.
"Kami dulu memang salah, tak merestui hubungan kalian. Hingga kalian harus kehilangan anak itu untuk selamanya. Apa kalian mau kehilangan anak lagi? Luna bisa saja berbuat nekat." Ucapan nenek membuat Rosa sedih kembali mengingat anaknya yang begitu malang.
"Jadi kita akan bicarakan dengan keluarga Bian. Bian harus menikah dengan Luna dan meninggalkan wanita itu." Ucap kakek yang tak mau berdebat lagi.
###
"Dasar Luna kurang ajar, berani sekali dia bertengkar dengan anakku." Ucap Mama kesal sambil mengobati luka di wajah Una. Tadi Bian yang ingin mengobati, tapi sang Mama tak memperbolehkan.
"Mama..." Una memeluk wanita itu, hatinya terasa hangat mendengar wanita itu mengatakan anakku. Satu kata yang begitu sangat dirindukannya. Yang selama ini tak ada seorang pun yang pernah memanggilnya seperti itu.
__ADS_1
Bian hanya melihat interaksi keduanya yang begitu dekat. Ya, Mama sangat menyayangi Una sama halnya menyayangi dirinya. Tapi jika Mama tahu kebohongan mereka, apa wanita paruh baya itu akan tetap menyayangi Una? atau justru malah membencinya?
Saat di kamar, Una menghampiri Bian yang sedang menonton tv. Ia lalu duduk di Sofa.
"Ada apa?" Tanya Bian dengan mata fokus ke layar kaca.
"A-aku boleh minta nomor mas Dino." Ucap Una berharap.
"Untuk?" Bian melirik Una.
"Untuk berterima kasih, karena tadi ia sudah menolongku." Una akan menjadikan alasan berterima kasih itu untuk mendekati Dino.
"Mau nomor Dino?" Bian memastikan kembali.
Una menggangguk.
"Tapi ada syaratnya."
"Apa Tuan?"
"Jangan panggil aku Tuan."
"Jadi? apa aku harus memanggil bapak atau bos?"
"Panggil aku Mas." Bian menatap Una. "Mas Bian..."
.
.
.
__ADS_1