TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 37


__ADS_3

"Tuan, tolong turunkan aku." Una menggeliatkan badannya, ia tak nyaman di gendong seperti itu oleh Bian. Mereka sudah sampai kamar tapi pria itu tidak menurunkannya.


"Aku harus menghukummu karena memanggilku Tuan." Ucap Bian merasa tak senang dengan panggilan itu.


"Turunkan aku Tuan." Seolah tak peduli, Una tetap meminta agar Bian segera menurunkannya.


Bian pun menurunkan Una, lalu ia menatap wanita yang berwajah cemberut itu.


"Aw... jidatku Tuan." Una memegangi jidatnya yang disentil Bian.


"Mau lagi?" Bian akan menyentil Una lagi.


Una menggeleng sambil menutup jidatnya. Sentilan pria itu terasa sampai ke tulang.


"Aku mau bicara serius sama kamu."


Una duduk di sofa, ia melihat mata Bian yang sedang menatapnya. Tak bisa ditebak tatapan mata apa itu.


"Kalau nggak ada yang mau dikatakan. Aku akan tidur." Ucap Una.


"Apa kamu menyayangi Mama?" Tanya Bian dengan wajah serius.


Una mengangguk.


"Kamu mau buat Mama bahagia?"


Una mengangguk lagi.


"Apa kamu tahu apa yang membuat Mama bahagia?"


Wanita itu menggeleng.


"Mama mau cucu." Ucap Bian penuh penekanan.


Una mengangguk menyetujui ucapan Bian. "Kalau begitu Tuan, anda harus segera punya anak."


"Apa kamu bersedia?" Tanya Bian yang membuat wajah Una jadi bingung.


"Bersedia? maksud Tuan, anak dari kita?" Una menunjuk Bian dan dirinya. Pria itu mengangguk.

__ADS_1


"Tidak bisa Tuan. Perjanjian kita sebentar lagi berakhir dan kita..."


"Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan Mama jika kita berpisah?" Tanya Bian cepat memotong ucapan Una.


Wanita itu diam dan kelihatan bingung dari raut wajahnya. "Ja-jadi?"


"Kita berikan Mama seorang cucu. Aku juga mau membuat Ibu Suri bahagia." Ucap Bian dengan tatapan tak lepas dari Una.


"Ta-tapi Tuan..."


"Kita mulai semuanya dari awal. Kita jalani pernikahan ini seperti kehidupan pernikahan yang seharusnya."


"Ta-tapi..."


Bian mendengus, dari tadi Una hanya merespon ucapannya dengan kata tapi.


"Apa yang kamu ragukan? aku tampan dan juga kaya. Hidup bersamaku kamu nggak akan pernah kekurangan apapun." Bian mulai dengan mode sombongnya, Una seperti meragukannya. Padahal ia ingin mulai menjalin hubungan baik dengan wanita itu.


"Dan satu lagi, Mama begitu menyayangimu. Bahkan Mama begitu menyayangimu dari pada aku, anaknya sendiri." Ucap Bian meyakinkan kembali.


"Ta-tapi..."


"I-itu... a-apa Tuan nggak merasa malu dengan masa laluku?" Tanya Una menundukkan kepala, ia merasa nggak pantas untuk pria itu.


"Malu kenapa?" Bian masih menatapnya. "Selama ini aku juga tidak mempermasalahkannya, bahkan keluargaku juga. Terus apa masalahnya?"


Una terdiam mendengar ucapan Bian. Ia bingung mau menjawab apa? pria ini tiba-tiba ingin memulai semuanya dari awal.


"Apa kamu mau hidup bersamaku?" Ucap Bian.


Una melihat wajah pria yang sedang menatapnya tersebut. Tatapannya begitu lembut membuat hatinya berdebar kembali.


Bian mengulurkan tangannya dengan tatapan masih melekat pada Una.


"Ya sudah, kalau kamu keberatan." Bian telah menunggu lama, tapi Una tak membalas uluran tangannya. Pria itu mengalihkan wajahnya, merasa kesal pastinya. Wanita itu sudah menolak dirinya.


"Tidurlah, ini sudah malam." Ucapnya kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Melihat Bian bangkit, Una mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Tu-tunggu.."


"Ada apa lagi?" Tanya Bian membalikkan badannya melihat Una yang menundukkan kepala.


"Itu-itu..." Una bingung mau mengatakan apa. Tangannya terulur memegang ibu jari tangan Bian.


Pria itu menahan senyum. "Apa ini?"


"Itu."


"Itu apa?"


"Aku mau."


"Mau apa?"


"Mau itu."


"Mau itu apa?" Bian menahan senyumnya, wanita itu masih menundukkan kepala.


"Aku mau bersamamu." Ucap Una cepat. Ia benar-benar malu.


Bian tersenyum mendengar ucapan Una. Ia pun mengeratkan genggaman tangan mereka.


"Una... lihat aku." Pinta Bian dengan suara yang begitu lembut.


Dengan perlahan Una mengangkat wajahnya. Ia melihat wajah Bian yang tersenyum padanya. Sementara Bian melihat wajah yang begitu merah. Sepertinya wanita bernama Una itu begitu malu dan gugup.


Una tampak gugup dan grogi. Bian mulai mendekatkan wajah kearahnya. Ingin menghindar tapi tubuhnya seperti berat untuk bergerak.


Bian makin mendekatkan wajahnya. Fokusnya menatap bibir Una yang begitu menggoda. Ia ingin menjelajahnya lagi saat Una sedang sadar. Wanita itu tak menunjukkan penolakan membuat Bian makin mendekat lagi. Mengikis jarak diantara mereka.


Saat kedua bibir itu mendekat dan makin mendekat.


Tut...


Una mendorong tubuh Bian menjauh. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu segera berlari menuju ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya.


Sementara Bian masih terdiam melihat tingkah Una. Wanita itu pasti malu bisanya membuang angin di saat seperti ini.

__ADS_1


'Mau tertawa dosa nggak yah?'


__ADS_2