TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 6


__ADS_3

Bian berjalan gagah memasuki sebuah restaurant mewah. Ia akan membahas kerja sama dengan rekan bisnisnya di kota kecil ini. Seorang pria mengiringi dari belakang.


Bian duduk sambil matanya fokus menatap pemandangan pantai. Wan meletakkan beberapa berkas penting di meja. Ia adalah kaki tangannya.


"Bagaimana?" Tanya Bian datar.


"Hah?" Wan tampak terkejut. "Maaf tuan bagaimana..." Pria itu berhati-hati berkata.


"Wanita." Ucap Bian mengarahkan pandangan ke arah Wan. "Wanita malam itu."


Wan tampak berpikir. Ia mengira tadi Bian hanya iseng, tapi ternyata pria ini serius mau menyewa wanita malam.


"Wanita malam yang muda dan juga cantik."


"A-apa tuan serius?" Tanya Wan gugup.


"Kapan saya pernah becanda?" Tegasnya dengan tatapan yang tajam. Membuat Wan mengangguk patuh.


~


Una terbangun, matanya bengkak sebab menangis semalaman. Ajudan pria itu mendatanginya. Una disuruh untuk menemui Mami Lisa.


Una keluar dari kamar dan melihat sekeliling club yang sudah sunyi. Ia melihat pria yang berjalan di depannya.


'Aku harus kabur. Kenapa harus aku yang membayar hutang mereka?'


Una berjalan agak lambat, dilihatnya ajudan itu mulai menjauh. Ia bergegas berlari mencari pintu keluar.


Ajudan menyadari dan langsung mengejar Una. Wanita itu berlari ke arah pintu. Dan...


krek


Pintu terbuka.


"Mau kabur kemana? tangkap dia." Mami Lisa menghalanginya kabur.


Una dibawa ke ruangannya. Dengan para ajudan yang menjaga di kanan kiri depan belakangnya. Tak membiarkan wanita itu terlepas.


"Bersiaplah. Malam ini akan ada pelanggan yang memakaimu."


Una meremas tangannya. Apa salahnya kenapa ia harus dipaksa menjadi wanita malam.


"Hutangmu akan lunas dan aku akan melepaskanmu. Cukup melayani 10 pelanggan saja."


"Bukan aku yang berhutang padamu." Una bangkit. Tapi para ajudan langsung maju, membuat Una duduk kembali. Bulu kuduknya merinding melihat ajudan sangar itu.


Malam itu Una dibawa ke sebuah hotel berbintang. Dengan tetap ajudan itu menjaga di sekelilingnya. Ia benar-benar tidak di izinkan kabur.


"Kami akan mentransfer sisanya." Ucap pria itu serah terima pada Mami Lisa.


"Nona mari ikut saya." Ucapnya datar.


Una menghela nafas. Lepas dari kandang harimau, ia masuk ke kandang singa. Ia dikawal ajudan yang begitu banyak. Pasti pelanggan ini adalah pria kaya, Om-om hidung belang atau mungkin pria tua mesum yang suka daun muda. Ntahlah, dalam pikiran Una sekarang. Ia harus segera kabur.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Nona silahkan masuk." Ucapnya setelah pintu terbuka.


"Kenapa anda tidak masuk juga?" Tanya Una menutupi kegugupan dan rasa takut yang mulai merasukinya.


"Maaf Nona. Kami tidak akan mengganggu." Ucapnya memberi isyarat para ajudan untuk pergi.


"Wan..."


"Nona, tuan sudah menunggu anda."


Nampaknya pelanggan itu sudah sangat tidak sabaran sekali ya.


Una menarik nafas panjang, perlahan ia melangkahkan kakinya masuk kamar hotel yang sangat mewah itu.


"Tutup pintunya."


Una menutup pintu, ia menunduk takut. Tangannya gemetaran. Ia pasti akan habis malam ini.


'Cantik.'


Bian menelan salivanya melihat wanita didepannya. Walau sedang menunduk kepala, tapi tak dapat menyembunyikan kecantikannya.


Wanita itu juga memakai pakaian yang cukup terbuka. Bagian dada yang terbuka dan cukup menantang. Ditambah Kaki jenjang putih dan mulus, benar-benar bisa menggoyahkan iman.


'Tahan tahan tahan... aku nggak boleh tergoda.' Berdua dengan wanita cantik dan seksi di kamar hotel, benar-benar cobaan baginya.


"Duduklah." Bian menyuruh Una untuk duduk di sofa. Wanita itu mengangguk dan duduk.


Saat ini perasaan Una sungguh tak tenang. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sementara bus berangkat jam 11 malam. Apa ia akan bisa bebas dari sini? ataukah harus menjadi wanita malam?


"A-apa yang anda lakukan?" Una bergeser saat Bian mendekatinya.


Pria itu menatapnya dan duduk di samping Una. Mulai mendekati wanita itu.


Tubuh Una gemetaran bahkan wajahnya pucat pasih. Pria asing yang itu semakin mendekatinya.


"Tuan, tolong jaga sikap anda." Una menekan dada Bian yang makin mendekat, agar menjauh darinya.


"Aku sudah membokingmu."


"Tuan..." Una pun pingsan.


"Hei hei... kamu kenapa?" Tanyanya mentoel-toel pipi Una. Ia juga mendekatkan telunjuknya ke hidung wanita itu.


'Masih bernafas kok. Apa dia pingsan karena ketakutan?'


Una merasa tubuhnya terangkat. Wanita yang berpura-pura pingsan itu membuka matanya sedikit.

__ADS_1


Pria itu menggendong tubuhnya ke ranjang empuk. Dan menyelimuti Una dengan selimut. Ia juga masuk ke selimut. Mengambil foto sambil memeluk Una.


'Astaga... apa yang dia lakukan? apa aku harus berteriak?'


"Tidurlah, aku akan ke kamar mandi."


Una merasakan pergerakan ranjang. Begitu terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Ia membuka matanya.


'Aku harus kabur.'


Wanita itu akan membuka pintu kamar hotel. Tapi ia berbalik dan melihat dompet di atas meja.


'Aku pinjam uangmu dulu. Jangan-jangan aku minta saja. Anggaplah anda sedang berbuat baik kepadaku. Semoga Tuhan membalas kebaikan anda.'


Una mengambil semua uang cash di dompet Bian. Ia harus punya uang untuk naik taksi ke stasiun bus. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Sekitar 30 menit lagi bus akan berangkat.


Wanita itu harus segera pergi ke Stasiun. Ia tak boleh ketinggalan bus, jika itu terjadi ia pasti tetap dipaksa untuk melayani pria. Itu tidak boleh terjadi.


Una harus cepat kabur, sebelum pria di kamar mandi itu keluar. Ia juga mengambil jas Bian. Pakaiannya terlalu terbuka, bisa memancing kejahatan.


Dengan perlahan Una membuka pintu kamar. Ia mengeluarkan sedikit kepalanya. Melihat apakah ada yang menjaga di depan pintu. Karena sunyi ia pun segera keluar.


'Cepatlah cepatlah.' Rasa gugup dan ketakutan masih terasa. Bahkan lift ini terasa begitu lambat bergerak.


Una bertelanjang kaki. Ia tak memakai hak tinggi yang pasti akan membuatnya sulit berjalan. Wanita itu juga tak peduli dinginnya lantai hotel.


"Pak, tolong segera ke Stasiun bus." Pinta Una pada supir taksi.


"Pak, bisa tolong ngebut sedikit. Saya terburu-buru." Wajah pucat dan memelas membuat supir taksi mengangguk.


"Siap neng. Pegangan ya."


Jantung Una berdetak tak stabil. Waktu sudah pukul 11 malam. Dan ia masih belum sampai.


"Pak... kira-kir berapa menit lagi kita sampai?"


"Sekitar 10 menit Neng."


Una menutup wajahnya frustasi. Air matanya jatuh. Sampai sana mungkin Bus sudah jalan.


Ia melihat beberapa lembar uang yang dipegangnya. Walau nggak bersama Ziva, ia harus meninggalkan kota ini.


Taksi berhenti di depan Stasiun. Una membayar ongkosnya. Dan bergegas berlari memasuki Stasiun.


Bus sudah pada berangkat. Hanya menyisakan beberapa Bus yang terparkir. Una melihat sudah pukul 11.20 malam. 20 menit yang lalu Bus itu sudah pergi.


Una memukuli dadanya yang terasa sesak. Tak ada yang sesuai rencananya.


"Una..."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2