TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 17


__ADS_3

"Tuan, anda sangat licik." Una meremas tangannya memegang surat perjanjian itu. Wajahnya sudah merah menahan amarah.


Pihak kedua wajib menuruti semua perintah pihak pertama. Jika pihak kedua menolak, maka dengan terpaksa pihak pertama akan mengembalikan pihak kedua ke tempat asalnya.


'Kenapa saat menandatanganinya aku tidak melihat tulisan ini.' Una sedikit menyesal tak membaca semua isi perjanjian itu secara rinci. Saat itu pikirannya hanya bagaimana cara untuk lepas dari jerat Mami Lisa.


"Kita akan menikah 2 hari ke depan."


Una terpelongo, ia akan menikah dengan Bian 2 hari lagi.


"Tuan, apa tidak ada cara lain lagi? kenapa harus menikah?"


"Hanya dengan menikahimu Luna tak akan mengejarku lagi." Jelas Bian yakin.


"Ta-tapi..." Una bingung. Disatu sisi ia tak setuju dengan rencana Bian, tapi jika ia menolak, Bian akan mengembalikannya ke Mami Lisa. Kenapa ia seperti barang yang di oper sana oper sini sih?


"Bagaimana? jika kau menolak, aku akan mengantarmu malam ini juga ke Club itu." Ucapan penuh intimidasi Bian membuat Una jadi ciut.


"Berapa lama pernikahan itu?" Tanya Una pasrah.


"Sesuai perjanjian, sampai Luna meninggalkanku.Tapi kurasa 2 bulan cukup. Apa bisa wanita terus menyukai pria yang sudah beristri?"


Una tampak berpikir, sejujurnya ia juga bingung. Andai ia punya uang yang banyak, ia pasti akan membayar semua hutang Bu Ita. Dan ia juga tak perlu sampai seperti ini.


~


"Bian..." Teriak seorang wanita membuka pintu sangat kuat, hingga ruangan itu terasa bergetar.


"Ada apa?" Tanya Bian ketus, Luna selalu suka seenaknya. Inilah yang membuatnya tak bisa menerima wanita itu. Luna terlalu bar-bar dan kasar.


"Kenapa kamu menghamili wanita itu?" Tangisnya mulai terisak. Ia tak pernah membayangkan Bian akan setega ini padanya.


"Kami melakukannya karena cinta. Wajar jika ia sekarang hamil." Ucap Bian bicara dengan santai dan penuh keyakinan.


"Bian, kenapa kamu begitu tega?" Luna memukuli tubuh Bian, pria itu pun menahan tangan Luna.


"Cukup Lun. Hentikan semuanya. Carilah pria yang mencintaimu. Tolong lepaskan aku." Ucap tegas Bian yang sudah terlalu muak pada Luna.


"Aku tidak mau." Teriak Luna frustasi. "Kenapa kamu nggak pernah melihatku? apa kurangnya aku?" Tangis Luna melemah menahan sesak di dadanya.


"Aku nggak mau tahu. Dia harus menggugurkan anak itu." Ucap Luna kemudian dengan sorot mata membara.

__ADS_1


"Itu anakku dan aku tak akan menyuruhnya untuk menggugurkan anak kami." Bian menatap tajam Luna, wanita yang terlalu keras kepala.


"Bian... aku membencimu. Kenapa kau tidak bisa mencintaiku?" Luna kembali mengamuk. Ia mencampakkan barang-barang di ruangan Bian. Melampiaskan kekesalannya pada barang-badang itu. Ia membuat ruangan Bian, hancur berantakan.


Sementara di parkiran mini market. Seorang pria berkaca di spion. Melihat apa penampilannya sudah oke. Adit turun dari mobilnya dan duduk di kursi yang berada di teras mini market. Ia kemari sengaja untuk bertemu dengan kakak cantik. Berharap wanita cantik itu juga ada di mini market.


'Kalau kita bertemu lagi, berarti kita jodoh kak.' Adit tersenyum sendiri membayangkan ia dan wanita itu akan berjodoh. Ia tak peduli walau Una lebih tua darinya. Banyak pasangan yang bahagia dengan pria yang lebih muda dari wanitanya.


Adit mendengus melihat panggilan masuk di hpnya. mengganggu khayalannya saja.


"Kenapa Bang?" Tanyanya dengan nada sedikit kesal.


"Kamu dimana?"


"A-aku masih di sekolah, ada les hari ini." Bohongnya. "Ada masalah Bang?"


"Biasa kakakmu. Ia mengamuk dan menghancurkan ruanganku."


"Astaga..." Adit menepuk jidatnya. Tak ada cerita lain, selain Luna yang mengejar-ngejar Bian.


"Adit... Luna pergi. Sepertinya ia akan ke Apartemenku. Aku ada rapat penting. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku." Pinta Bian.


"Oh baiklah. Kebetulan aku juga ada di sekitar sini."


"Ah itu... lesnya daerah sekitar apartemennya bang Bian." Adit memberikan alasan.


Dan selang beberapa waktu, Adit melihat mobil Luna memasuki pelataran apartemen Bian. Mobil itu terlihat asal tancap saja. Bisa membahayakan pengemudi bahkan orang lain.


'Kak Lun kak Lun... mau apa lagi sih?' Dengan terpaksa Adit mengikuti Luna.


Luna menggedor-gedor pintu kuat. Sambil berteriak-teriak. Ia tahu wanita itu pasti ada di dalam apartemen.


"Buka pintunya. Keluar kau wanita murahan..." Makian keluar dari mulut Luna sambil menggedor pintu.


"Kak... ayo kita pulang." Adit akan menarik tangan sang kakak. Tapi Luna tetap menggedor-gedor pintu. Hingga membuat beberapa pemilik apartemen lain keluar. Merasa terganggu dengan suara yang sangat berisik itu.


"Ayo kak." Adit terpaksa menarik kakaknya dengan kuat. Sambil menganggukkan kepala seraya meminta maaf pada orang disekitar.


Adit berhasil juga membawa Luna, walau Luna terus menolak dan berusaha melepaskan tarikan Adit. Karena ia laki-laki jadi tenaganya cukup kuat dari Luna.


"Kau adik durhaka." Bentak Luna ketika Adit telah mengunci pintu mobil. Hingga Luna tidak bisa membukanya.

__ADS_1


Adit diam saja, ia mengambil hp dan menelepon Bian.


"Halo... tak ada siapapun di apartemenmu Bang." Adu Adit.


"Benar, tak ada siapapun. Wanitaku sedang keluar."


"Terus kenapa bang menyuruhku kemari?"


"Apa lagi coba? untuk menjaga kakakmu lah." Jawab Bian tenang.


Adit kesal, Bian juga memutuskan panggilan teleponnya begitu saja. Tadi ia mengira akan menjadi penengah diantara Luna dengan wanitanya Bian. Karena ia juga penasaran melihat wanitanya Bian seperti apa. Karena namanya sama dengan kakak cantik itu.


Jika tahu seperti ini, biarkan saja Luna menggedor-gedor apartemen Bian. Palingan juga security yang akan bertindak.


Ia menghela nafas, gagal sudah ia mencari wanita cantik itu, hanya demi sang kakak yang keras kepala. Sudah ditolak sampai begitu, masih juga dikejar-kejar si Bian.


Sementara di sebuah toko perhiasan. Pegawai toko menyodorkan cincin pesanan Bian.


'Astaga.... mataku.' Batin Una silau akan kilauan pancaran dari benda kecil itu.


"Tanganmu..."


Una melihat Bian dengan tatapan aneh.


"Kebanyakan mikir kamu." Bian meraih tangan Una dan memakaikan cincin itu di jari manis Una. Ia pun tersenyum. Cincin itu sangat cocok di jari Una.


Una menatap cincin itu, merasakan perasaan aneh yang menghinggapinya, tapi ia tak tahu perasaan apa itu.


"Tuan, siapa yang akan menjadi waliku?" Tanya Una.


"Wali hakim."


"Ta-tapi..."


"Wan sudah mencari info tentangmu atau orang tuamu. Tak ada menemukan apapun sebelum kamu terdampar di pantai."


Wajah Una sedih. Bian tak bisa menemukan informasi tentang orang tuanya. Padahal ia sangat berharap bisa bertemu dengan mereka. Ia begitu sangat merindukan orang tuanya.


Apa mungkin ia tak akan bisa bertemu mereka lagi?


Mungkin saja bahkan bayang-bayang wajah mereka mulai samar di ingatan Una.

__ADS_1


"Kamu bisa terdampar di pantai. Apa jangan-jangan kamu sejenis ikan duyung?"


__ADS_2