
"Wow..." Wanita itu tercengang melihat dari dalam kamar hotel itu yang langsung menghadap pemandangan laut. Yang begitu sangat indah ciptaan Tuhan.
"Kamu suka?"
"Su-suka." Una mulai gugup karena Bian memeluknya dari belakang.
Kecupan dan hembusan nafas Bian di leher membuat tubuh Una kembali meremang. Detak jantungnya berpacu cepat seperti orang yang sedang berlari kencang.
"Sayang... aku ngantuk. Ayo kita tidur." Bian pun menggendong Una, meletakkan wanita berwajah merah itu di tempat tidur.
Pria itu juga ikut berbaring dan memeluk Una erat. Dan tak lama dengkuran halus terdengar.
Una bernafas lega, tadi ia sudah pasrah saja. Melihat pria itu sudah tertidur lelap. Bian pasti sangat mengantuk. Pria itu tadi malam tak tidur hanya untuk menjaga dirinya yang sedang sakit.
Waktu pun berlalu.Bian terbangun dan mendapati Una terlelap di sampingnya. Ia pun mengusap wajahnya dan melihat jam dinding.
"Jam 5." Mata Bian terbelalak melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5.
"Una, bangun... sudah jam 5 sore." Bian menepuk-nepuk pelan pipi Una.
Una malah makin mengeratkan pelukannya. Ia sangat malas bangun. Posisinya begitu sangat nyaman dan membuatnya tenang.
"Kamu sudah makan siang?" Tanya Bian memastikan.
Una menggeleng dengan mata yang masih enggan terbuka.
Bian memijat pelipisnya. Rencananya ia hanya akan tidur sebentar. Lalu mereka akan makan siang bersama. Setelah itu mereka akan menghabiskan waktu di pantai. Dengan berbagai fasilitas yang di sediakan pihak hotel.
Tapi realitanya, mereka hanya menghabiskan waktu dengan tidur. Ia melirik Una yang masih terpejam.
"Sayang... mau lihat sunset?" Ajak Bian. Mereka datang ke tempat itu untuk liburan, bukan tiduran.
"Apa? manset?" Una setengah sadar.
__ADS_1
Bian pun menarik hidung Una gemas, untuk menyadarkan Una. "Ayo bangun. Kita jalan-jalan sayang."
Una tak bereaksi, ia masih memeluk tubuh yang membuatnya enggan bergerak.
"Kalau kamu tidak juga bangun. Apa kita lakukan saja malam pertama kita sekarang?"
"Aku sudah lama tidur." Una langsung bangkit dan merenggangkan tubuhnya. Matanya melirik Bian yang tersenyum penuh arti.
"Ayo kita jalan-jalan. Aku akan bersiap-siap." Una pun mengambil langkah seribu menuju kamar mandi.
'Aku akan bersabar.' Bian tak akan memaksakan kehendaknya. Ia tak mau membuat Una tak nyaman.
###
Udara sore di tepi pantai begitu sejuk. Angin laut berhembus sedang. Deburan ombak saling bersahutan. Membuat hati dan pikiran terasa tentram.
"Dingin?" Tanya Bian akan melepas jaketnya. Ia melihat Una hanya memakai baju tangan panjang.
"Nggak, Mas." Geleng Una cepat. "Kalau dingin aku kan bisa peluk Mas Bianku."
"Mas tahu, saat aku terdampar dulu, mereka bilang tubuhku sangat biru. Mereka mengira aku sudah tak bernyawa." Una mengingat ucapan keluarga Bu Ita yang pernah menyelamatkannya. Walaupun mereka sangat kejam, tapi mereka juga yang menyelamatkan Una saat terdampar di pantai.
"Kenapa kamu bisa terdampar?" Tanya Bian mengelus pelan kepala Una yang bersender padanya. Mereka duduk di tepi pantai menunggu matahari akan tenggelam.
"Saat itu aku diculik, Mas."
Bian mengerutkan dahinya. "Coba kamu cerita dari awal. Aku akan mendengarkanmu." Bujuk Bian lembut. Ia sangat penasaran.
Una menatap mata Bian. Lalu menceritakan kisahnya.
"Sayang..." Bian memeluk Una. Wanita itu kembali menangis menceritakan kisah hidupnya yang begitu malang.
"Maaf, aku belum bisa mencari orang tuamu." Bian merasa kesal.
__ADS_1
"Mas, apa menurutmu mereka membuangku?" Pandangan mata Una begitu sendu, menyiratkan kesedihan yang terpendam.
"Mereka pasti punya alasan sendiri."
"Aku sudah menemukan mereka Mas."
Bian menatap Una.
"Tapi sepertinya aku salah. Mungkin aku yang terlalu berharap. Sepertinya mereka bukan orang tuaku Aku sudah tak bisa mengingat wajah mereka. Pasti aku salah orang." Una menutup wajah dengan kedua tangannya. Perasaannya begitu pilu.
"Apa aku boleh tahu siapa mereka? aku akan membantumu mencari tahu." Tawar Bian.
Una menggeleng pelan." Tak usah Mas, jika mereka memang orang tuaku, berarti mereka memang meninggalkanku. Mereka hidup dalam kemewahan tapi kenapa tak pernah mencariku?"
Melihat Una menenteskan air mata, tangan Bian terulur mengusap air mata itu.
"Mungkin mereka juga sama sepertiku, sulit untuk menemukan informasi tentangmu."
Una terdiam, ucapan Bian ada benarnya. Pria itu saja mengatakan, ia tak mendapat informasi apapun tentang latar belakang dirinya. Mungkin saja kedua orang tuanya juga mengalami hal serupa. Mereka tidak mendapat informasi tentang dirinya, hingga tak dapat menemukannya.
'Aku akan memastikan.' Una menghela nafas panjang.
"Mas, ayo kita pulang." Ajak Una.
"Tapi sunsetnya-" Bian menunjuk matahari yang mulai akan tenggelam.
"Ayo Mas. Aku akan bertanya langsung apa mereka orang tuaku atau bukan!" Una menarik tangan Bian.
"Baiklah."
.
.
__ADS_1
.