
"Mas Bianku, ayo cepat dimakan." Una meletakkan piring berisi nasi goreng buatannya. Ia juga segera menyuapi suaminya itu.
Bian tersenyum senang mendapati perhatian sang istri.
"Minum." Una menyodorkan segelas teh.
"Ayo, cepat berangkat Mas." Una menggandeng Bian segera bangkit. Ia memakaikan jas dan membawakan tas suaminya itu.
"Sayang, masih jam 7." Ucap Bian saat telah sampai di teras rumah.
"Jalanan macet, nanti Mas Bianku bisa telat. Bisa dimarahi bosnya." Ucap Una sambil senyum.
"Siapa yang berani memarahiku?" Tanya Bian, mau ia datang jam 10 pun tak ada yang berani menegurnya.
"Sudah ayo pergi." Una seolah tak peduli. Ia mencium tangan pria itu. Dengan menjinjit ia juga menkecup kening dan kedua pipi suaminya.
Bian menatap aneh tingkah Una, seharusnya ia yang melakukan itu. Tapi kenapa istrinya berinisiatif duluan.
"Baiklah, aku pergi." Bian tetap pada ritualnya. Menkecup kening dan kedua pipi Una.
Bian celingak celinguk melihat kanan dan kiri. Dengan cepat ia menkecup bibir kemerahan yang selalu begitu seksi di matanya.
"Aku mencintaimu..." Ucap Bian.
Wajah Una langsung merona, pagi-pagi Bian sudah membuatnya panas.
"Hati-hati Mas Bianku." Una berusaha menutupi kegugupannya.
Una melambaikan tangan mengiringi laju mobil yang perlahan mulai menjauh. Setelah dirasa Bian sudah jauh, Una pun segera meluncur ke rumah Bundanya.
Sampai sana ia membantu Bunda di dapur. Menyiapkan sarapan.
"Luna, belum bangun Bun?" Tanyanya.
"Belum-"
__ADS_1
"Una bangunkan ya Bun." Una segera melangkah menuju kamar adiknya. Ia ingin memulai hubungan baik dengan Luna. Makanya tadi ia menyuruh Bian untuk cepat berangkat bekerja. Jika ada Bian, Luna mungkin akan merasa canggung.
"Dek bangun." Una membangunkan Luna.
"Apa sih?" Luna menutup dirinya dengan selimut.
"Ayo bangun... Bunda sudah buat sarapan?"
Mendengar suara berbeda dari biasanya, Luna membuka mata dan menatap Una sejenak. Mengumpulkan jiwa dan raga, serta kesadarannya.
"Temani kakak shoping ya." Una menarik tangan Luna untuk segera bangkit. Dengan malas Luna pun mengikutinya.
Una menunggu di ruang makan dengan Bunda. Menunggu Luna yang sedang mandi.
"Bun, jangan kasih izin Luna pergi ya." Pinta Una dengan suara sedikit bergetar.
"Ia hanya ingin bekerja. Ia akan tinggal dengan kakek dan nenek. Mungkin setahun sekali akan pulang." Jelas Bunda. Sebenarnya Bunda tak rela, tapi Luna tetap bersikeras.
"Jika dia mau bekerja, ia kan bisa bekerja dengan Ayah saja."
Luna yang berdiri di balik tembok mendengar pembicaraan keduanya. Ia sadar akan posisinya sekarang. Ia ingin bekerja di luar negeri hanya untuk menjauh dari keluarga ini.
Luna menarik nafas, ia segera masuk ke ruang makan.
"Mana sarapanku?" Tanyanya.
Luna hanya menatap Una yang dengan semangat menyodorkan sarapan beserta segelas air minum.
"Terima kasih kak." Ucapnya pelan. Perlahan Luna mulai melahap sarapannya.
"Aku dengar kalian akan segera mengadakan resepsi pernikahan. Kapan itu?" Tanya Luna.
Una tampak bingung menjawab, ia tak mau membuat Luna sakit hati.
"2 minggu lagi." Bunda pun menjawab, karena Bian sudah membicarakan dengan mereka.
__ADS_1
Luna mengangguk paham. "Setelah pesta pernikahan, aku akan pergi."
Una menatap Luna dengan tatapan sendu.
"Aku harus ada di foto keluargakan."
"Kamu harus ada di foto keluarga. Tapi, Lun..." Una memegang tangan Luna.
"Untuk apa bekerja disana, kamu kan bisa bekerja disini membantu Ayah." Una mulai memelas, matanya sengaja dibuat berkaca-kaca.
"Nantikan ada Adit." Alasan Luna.
"Apa kamu belum mengikhlaskan Bian?" Tanya Una menatap tajam.
"Astaga.." Luna menepuk jidatnya. Sebenarnya ia belum sepenuhnya melupakan pria itu, tapi ia sudah bertekad akan perlahan mengikhlaskannya.
"Dia itu suamimu kak, tak ada-"
"Kalau begitu kamu harus tetap disini. Bantulah Ayah." Potong Una cepat.
"Aku tak punya hubungan apapun dengan kalian." Kali ini mata Luna mulai berkaca-kaca.
"Sudah Bunda bilang, kamu bagian keluarga ini. Kamu tetaplah anak Bunda dan Ayah." Jelas Bunda yang sedih mendengar penuturan Luna.
"Ayah dan Bunda, kami sangat menyayangimu Luna. Apa selama ini kamu berbuat buruk padamu?" Air mata Bunda berlinang.
"Bunda..." Luna langsung memeluk wanita paruh baya itu. Ia sangat sedih membuat Bunda menangis.
"Baiklah, aku akan tetap tinggal disini. Aku akan membantu Ayah." Ucap Luna akhirnya. Ayah dan Bunda selama ini menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri. Ia tak boleh egois. Ia juga harus menyayangi mereka seperti menyayangi orang tua kandungnya.
Una sangat senang mendengarnya. Ia sekarang mempunyai keluarga yang utuh. Ia juga berharap Luna menemukan pria yang akan mencintai adiknya itu dengan setulus hati.
.
.
__ADS_1
.