TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 84


__ADS_3

Seorang pria dengan langkah lebar memasuki area rumah sakit. Ia berjalan begitu terburu-buru. Tak peduli pada orang-orang yang tak sengaja ditabraknya.


"Sayang..." Bian membuka pintu kamar pasien, didalam sana ada keluarga Una dan juga Mama Papanya.


"Apa yang terjadi?" Bian langsung menghampiri, hatinya terenyuh melihat kondisi Una. Terbaring lemah dengan infus yang menggantung.


"Aku akan membuatnya mendekam di penjara." Bian bangkit dari kursi dan akan bergegas mendatang Luna. Ia sangat tidak suka dengan sikap Luna yang mencelakai istrinya.


"Nak, tenanglah." Mama mengusap punggung pria itu.


"Ma, aku harus memberinya pelajaran-"


"Tenanglah Bian." Mama masih menenangkan. Ia melihat kedua orang tua Una yang menatap sendu sang putri yang belum sadarkan diri. Tatapan mereka kosong.


"Kapan istriku akan sadar?" Bian kesal, ia pun kembali duduk di kursi.


Bian menggenggam tangan mungil itu. Memberi kecupan pada punggung tangannya.


'Una sayang, aku sudah pulang. Cepatlah bangun. Apa kamu tidak merindukanku?'


Bian menghela nafas panjang, ia kembali teringat Una yang begitu manja padanya sebelum ia dinas luar kota, seolah tak memperbolehkannya pergi. Ia menyesal saat pulang, ia melihat Una terbaring tak berdaya.


"Apa kak Una akan kehilangan ingatannya?" Tanya Adit yang langsung mendapat pelototan tajam dari Bian.


"Kalau tiba-tiba kak Una bangun dan melupakan keluarganya. Bagaimana ini?" Adit tampak khawatir. Ia baru saja bertemu dengan kakak kandungnya, masa secepat itu ia dilupakan.


"Kalian pulanglah, aku akan menjaganya." Bian menyuruh para orang tua termasuk Adit untuk pulang.


"Kalian istirahat. Jika Una sadar aku akan menelepon kalian."


Para orang tua dan Adit pun beranjak pergi. Mereka menitipkan Una pada Bian. Pria itu mengangguk paham, ia pasti akan menjaga Una dengan sebaik-baiknya.


Hari sudah gelap, dokter datang untuk memeriksa keadaan pasien bersama beberapa perawat.


"Sampai kapan istriku akan bangun?" Tanya Bian tak senang menatap dokter.


"Kita akan menunggu pasien sadar. Jika sampai besok belum sadar akan dilakukan pengecekkan selanjutnya." Jelas dokter pada pria yamg sudah memasang wajah menakutkan.


Setelah melakukan pengecekan, dokter pun segera pamit.

__ADS_1


Bian mengelap wajah Una dengan handuk basah. Dengan hati-hati ia mengelap sambil menatap wajah pucat. Hati Bian tak menentu melihat Una seperti ini.


Setelah itu Bian mengelap kedua tangan Una. Lalu meletakkan mangkuk berisi air tersebut di atas meja.


'Sayang, aku kangen kamu. Cepat sadar dong. Apa kamu tidak ingin memelukku?'


"Sayang, aku mencintaimu." Bisik Bian tepat ditelinga Una. Saat ia akan mendongakkan kepala ia amat terkejut..


"Astaga, sayang." Bian kaget melihat mata yang menatapnya. Ia segera menekan tombol yang berada di dinding untuk memanggil dokter yang berjaga.


"Sayang... kamu baik-baik saja? apa yang sakit?" Tanya Bian khawatir. Ia makin bertambah khawatir saat Una hanya menatapnya. Tiba-tiba ia mengingat perkataan Adit soal hilang ingatan.


'Apa dia lupa padaku?' Batin Bian tak rela dilupakan.


"Sayang, aku Bian. Suami kamu." Ucap Bian memberitahu segera. Una menatap Bian dengan pandangan yang sulit diartikan.


Tak lama dokter datang dan memeriksa pasien. Bian terus menatap Una. Wajah istrinya itu tanpa ekspresi.


"Bagaimana dok?" Tanyanya serius.


"Baik-"


"Kenapa istriku diam saja? apa dia hilang ingatan?" Sela Bian cepat.


Wajah Bian terlihat masam, ia tak terima dengan penuturan dokter.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter pun pamit.


"Sayang.." Panggil Bian lirih.


Una masih menatap Bian tanpa ekspresi. Hal tersebut membuat Bian tidak tenang.


"Sayang, katakan sesuatu." Paksa Bian.


Una melebarkan tangannya, membuat Bian menautkan alisnya.


"Peluk." Ucap Una sambil tersenyum.


Bian bernafas lega mendengar itu. Ia bersyukur Una tidak amnesia.

__ADS_1


Pria itu ikut naik ke ranjang pasien. Ia membiarkan Una menyandar didadanya.


"Kenapa tadi diam saja? kamu membuatku takut." Ucap Bian seraya mengelus pucuk kepala Una dengan sayang.


"Tadi aku masih bingung kenapa ada disini, aku juga bingung saat melihat mas Bianku." Una tadi masih mengumpulkan jiwa raganya. Ia baru mengingat saat terguling-guling di tangga, karena Luna mendorongnya.


"Mas.."


"Hmm."


"Tadi aku bangun karena mendengar ungkapan cinta seseorang." Ucap Una melirik Bian.


"Mungkin kamu sedang mimpi." Ucap Bian yang tahu Una sedang menggodanya.


"Apa bukan Mas Bianku yang mengatakannya?" Tanya Una dengan wajah sedih.


"Iya, aku yang mengatakannya. Ternyata ampuh membuat kamu bangun."


Una tersenyum sesaat, ia pun memajukan bibirnya. Bian mengerti maksud Una, tapi wanita itu masih sakit.


"Mas..."


Melihat wajah merengek itu, Bian pun tak dapat menolak. Ia kembali menjelajah bibir manis tersebut. Menjelajah dengan lembut. Memberikan gigitan kecil pada benda kenyal itu.


"Kamu makan dulu." Bian menghentikan aksinya. Una lama tertidur, ia pasti sangat lapar. Ia duduk di ranjang dan perlahan membantu Una buat bersandar di ranjang.


Bukannya duduk dengan benar, Una malah duduk di atas paha Bian. Pria itu menarik nafas dalam.


"Kamu merindukanku?" Tanya Bian dengan sorot mata lembut.


Una mengangguk, malam itu ia bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena merindukan pria itu.


Kini Una yang mendaratkan bibirnya. Meresap rasa yang selalu membuatnya tak dapat berpikir jernih.


Bian mulai membalas pergulatan bibir mereka. Lidah mereka saling menari mengikuti detakan jantung yang berpacu.


'Mereka saling mencintai.' Batin seseorang yang mengintip dari balik pintu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2