
Di ruang rapat, dari kursinya Bian menatap dan mendengarkan dengan serius kinerja bulanan yang dilaporkan para manajer.
Fokusnya terganggu pada getaran hp panggilan masuk. Ia tersenyum pada nama kontak yang tertera.
"Ada apa? aku sedang rapat." Jawabnya pelan agar tak menganggu rapat.
...
"Apa kamu mau menyuapku?"
...
"Hmm... kalau begitu berterima kasihlah dengan cara lain." Bian tersenyum smirk.
...
"Aku ingin lihat kamu pakai baju di lemari itu."
...
"Kamu membeli pakaian seperti itu, akan sangat mubajir jika tak dipakai. Atau kamu sengaja menghambur-hamburkan uangku?"
...
"Aku tidak mungkin bangkrut." Bian menaikkan satu oktaf suaranya, membuat yang berada di ruangan rapat menatap dirinya.
"Kenapa kalian melihatku?" Tanyanya dengan tatapan datar. Membuat mereka mengalihkan pandangan dan melanjutkan kembali.
Di ruangannya, Bian fokus menatap layar hp. Ia melihat CCTV apartemen. Terlihat Una sedang sibuk memasak.
'Dia benar-benar memasak untukku? apa aku harus pulang cepat?'
Bian menghela nafas, ternyata masih pukul 2 siang. Belum waktunya untuk pulang.
"Bian..."
Pria itu kaget saat suara berat menggema masuk. Seharusnya mengetok pintu dahulu sebelum masuk, tapi sepertinya itu tak berlaku pada yang mulia Raja. Siapa lagi kalau bukan papanya.
"Apa kamu tak bisa menuruti perkataan Papamu ini?" Tanya pria paruh baya itu seraya mendudukkan diri di sofa.
"Tergantung apa yang harus saya turuti. Saya tidak bisa menuruti semua perkataan anda yang mulia." Ucap Bian formal sambil membungkukkan badan.
"Bian..." Ucap Papa dengan nada tinggi. Benar-benar, anaknya satu ini buat sakit kepala saja.
"Kami akan mengadakan pesta pernikahan untukmu 2 minggu lagi. Menikahlah kamu dengan Luna." Pinta Papa dengan tatapan tajam.
"Dari pada menikah dengan Luna, lebih baik yang mulia hukum saja hamba."
Bantal sofa pun melayang terbang. Bian mengelak saat bantal itu akan mengenai wajahnya yang tampan.
"Sudahlah Pa, jangan paksa aku terus." Bian pun kembali ke mode normal.
"Papa nggak memaksa kamu. Kami menyarankan saja." Papa mengecilkan suaranya.
"Tapi aku nggak mau saran seperti itu, Pa." Bian tetap pada prinsipnya. Menolak menikah dengan Luna.
"Jadi kamu mau apa sekarang?"
__ADS_1
"Saya butuh kebebasan yang mulia." Ucap Bian sambil melirik sang Papa yang sudah memasang wajah kesal.
"2 minggu lagi akan diadakan pesta pernikahan kamu yang super mewah. Jika kamu nggak mau membuat keluarga kita malu, jadilah pengantin prianya."
"Papa..."
Pria paruh baya itu berlalu pergi keluar ruangannya. Tanpa peduli Bian yang memanggilnya. Papa yakin Bian nggak akan mungkin tega pada keluarganya. Itu akan menjadi satu-satunya cara tersadis menikahkan Bian dengan Luna.
Bian menghembus nafasnya kasar lalu mengusap wajahnya. Ini benar-benar pemaksaan.
Di perjalanan pulang. Wan melajukan mobilnya sedang. Bian duduk sambil menatap jalanan.
'Apa yang dia lakukan sekarang?'
Pria itu penasaran dan mengambil hpnya. Bian mengkerutkan keningnya saat tak mendapati Una di dalam apartemennya. Padahal ia meletakkan CCTV di semua tempat. Kecuali di kamar mandi.
'Apa ia sedang pergi?'
"Wan... apa Una masih diluar?" Tanyanya pada Wan.
Pria yang sedang menyetir itu menekan-nekan alat yang terpasang di telinganya. Langsung terhubung dengan para pengawal yang mengawasi Una.
"Setelah pulang menemui temannya tadi, nona Una hanya berada di Apartemen anda Tuan."
'Apa besok aku harus pasang CCTV di kamar mandi? mana tahu ia pingsan disana.' Bian melihat layar ponsel lama, Una nggak keluar-keluar dari kamar mandi.
Glek
Bian menelan salivanya susah, saat rekaman itu memperlihatkan Una keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya ditutupi handuk. Memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus.
Bian senyum-senyum melihat tingkah Una. Wanita itu takut sendiri memakai pakaian seperti itu. Wan dari spion menatap aneh Bian yang senyum pada layar hp.
~
Una keluar dari kamar dan terkejut melihat Bian duduk di ruang tamu sambil menonton tv.
"Tu-Tuan kenapa anda disini?"
Bian menatapnya aneh. "Apa aku tidak boleh kemari?"
"Anda sudah melanggar perjanjian Tuan."
"Maafkan aku. Aku ada masalah di rumah. Bolehkah aku menumpang disini?" Bian menunjukkan wajah sedihnya.
"Ke-kenapa anda berkata seperti itu. Ini kan apartemen anda Tuan."
"Aku lapar."
Tak lama Una menyajikan masakan yang sudah dipelajarinya dari video tutorial. Ia juga mengambil piring lalu diisi nasi dan lauk lainnya.
"Apa kamu merasa kita seperti pasangan suami istri?" Goda Bian.
Mendengar pertanyaan Bian, Una tak jadi menyodorkan piring berisi makanan itu.
"Ini piring anda Tuan." Una menyerahkan piring kosong.
Bian malah mengambil piring berisi makanan tersebut. " Kenapa kamu jadi baper." Ledek Bian menatap Una dengan wajah setengah mengejek.
__ADS_1
"Bagaimana Tuan rasanya?"
"Biasa saja."
Una melihat Bian melahap masakannya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Una kembali.
"Aku bilang biasa saja."
"Jika biasa saja, kenapa anda menghabiskan semuanya?"
Bian pun melihat meja makan, masakan Una sudah habis dilahapnya.
"Kamu sudah memasaknya, akan sangat mubajir jika dibuang." Alasan Bian, padahal ia sebenarnya sangat suka makan masakan Una.
"Tapi aku belum makan Tuan."
Mulut Bian berhenti mengunyah dan melihat Una. Benar wanita ini belum memakan masakannya dan ia sudah menghabiskan semua.
Tak lama Una tersenyum di ruang tamu. Ia melahap ayam kriuk yang dicocol dengan saus. Karena masakannya ludes dimakan Bian, pria itu menggantinya dengan memesan ayam kriuk.
"Tuan... apa aku bisa bekerja?" Tanya Una disela makannya.
Bian menggeleng kepala.
"Aku bosan disini."
"Apa uang yang kuberi kurang? apa perlu ditambah?"
Una mengkibaskan tangannya tanda tidak.
"Kamu sewaktu-waktu harus berada di sampingku. Jika kamu bekerja itu akan sangat menyusahkan. Kamu bisa bekerja jika perjanjian kita berakhir."
Una pun diam. "Tuan, apa anda bisa membantuku?"
Bian melirik Una. "Kamu semakin banyak maunya ya."
"Bu-bukan begitu. Anda sangat kaya dan berkuasa. Pasti anda tidak sulit membantuku."
"Apa?"
"Tolong bantu aku mencari orang tuaku."
Bian pun berpikir. Menurut info Wan, Una hanya anak yang ditemukan terdampar dipinggir pantai. Mungkin ia terpisah dari orang tuanya.
"Orang tuaku meninggalkanku karena mereka mengalami kesusahan. Aku ingin tahu kabar mereka dan ingin membantu mereka." Una akan menyerahkan uang hasil tabungan itu untuk membantu kedua orang tuanya.
Saat mulai dewasa, Una mulai tahu jika ia ditinggalkan bukan karena masalah ia minum susu. Tapi karena kedua orang tuanya terhimpit faktor ekonomi.
"Tuan... tolong bantu aku." Ucap Una mengkedip-kedipkan matanya seolah sedang memohon.
.
.
.
__ADS_1