
Una pamit pada Mama untuk kembali ke kamar, alasannya karena gerah ingin segera mandi. Ia pun setengah berlari menuju kamarnya.
Ia tak ingin Mama khawatir dan melihatnya menangis. Ia akan mencoba memahami kenyataan ini.
'Mereka meninggalkanku? mereka memang meninggalkanku!!!'
Cairan bening mengalir membasahi wajahnya. Ia bergelut dengan pikirannya. Sudah 20 tahun lebih berlalu, tak ada yang mencarinya. Ayah dan Bunda tak pernah mencari dirinya.
Selama ini ia berpikir kedua orang tuanya hidup sangat susah hingga pergi meninggalkannya untuk sementara. Dan akan kembali menjemputnya. Tapi melihat kenyataan ini, hatinya begitu kecewa. Ternyata selama ini Ayah dan Bundanya hidup dalam kemewahan, tapi kenapa mereka tidak pernah mencari dirinya?
Apa dia anak yang menyusahkan?
Atau mungkin dia anak sial?
Hingga mereka begitu tega meninggalkannya sebatang kara...
Una menarik nafasnya panjang. Tangannya mengusap air mata yang terus mengalir. Pandangannya mulai kabur. Dan dengan langkah lemah ia naik ke ranjang. Menutupi dirinya dengan selimut. Isak tangis pun terdengar dari dalam selimut tersebut.
###
"Wan, tolong menepi." Pinta Bian.
"Baik Tuan." Wan menepikan mobil di pinggir jalan. Melihat Bian keluar dari mobil dan ia pun mengikuti pria itu di belakangnya.
__ADS_1
Bian masuk ke sebuah toko bunga. Ia ingin membelikan Una seikat bunga. Wajahnya mulai bingung, ia sama sekali tak tahu wanita cantik itu menyukai bunga apa. Ia ternyata bukan pria romantis.
"Wan, Una menyukai bunga apa?" Tanya Bian menatap sang tangan kanannya.
"A-apa Tuan?" Wan jadi gugup. Ia mana mungkin tahu apa bunga kesukaan istri atasannya itu.
"Sa-saya tidak tahu Tuan." Jawab Wan menundukkan kepala.
"Maksudku, biasanya wanita menyukai bunga apa?" Bian membenarkan pertanyaanya melihat ekspresi Wan.
"Mawar Tuan." Jawab Wan cepat.
Bian mengangguk. "Yang mana?" Tanya Bian bingung melihat bunga mawar merah dan putih.
"Kalau merah putih?"
"Cinta dan kasih yang tulus dan suci." Jawab Wan cepat sambil tersenyum. Hal baru melihat Bian akan memberikan wanita bunga. Padahal saat masih berpacaran, Bian hanya tahu memberikan kartu ATM pada kekasihnya. Sejak kapan pria itu jadi romantis?
"Kenapa tersenyum?" Tanya Bian menatap tajam Wan, sepertinya orang kepercayaannya ini sedang mengata-mengatai dirinya dalam hati.
"Maaf Tuan. Mungkin karena berada di toko bunga, membuat perasaan saya seolah berbunga-bunga." Wan tersenyum penuh arti.
Bian menaikkan alisnya mendengar ucapan Wan. Tampaknya Wan saat ini kurang sehat.
__ADS_1
###
Bian berjalan masuk ke rumah sambil membawa seikat mawar merah dan putih yang di rangkai begitu sangat cantik dan indah.
Pikirannya mulai berkelana membayangkan wajah Una yang akan merona menerima bunga itu. Lalu sang istri akan memeluknya. Mereka akan saling berciuman hingga akhirnya melakukan adegan ranjang.
"Di mana Una, Ma?" Tanyanya pada Mama. Biasanya saat masuk rumah ia langsung mendapat senyuman manis sang istri.
"Una di kamar. Dia..."
Bian dengan semangat membara berlari menuju kamarnya tanpa mendengarkan apa yang mau dikatakan Mamanya.
Pria tampan nan rupawan itu berhenti di depan pintu kamar. Menarik dan membuang nafasnya berkali-kali. Berusaha menetralkan wajah dan hatinya.
Tapi ia tak dapat menetralkan wajahnya yang setengah mesum. Otak pria ini sudah menjelajah dan mendaki gunung. Melakukan adegan ahh uhh ahh uhh yang sangat panas dan menguras keringat.
'Malam ini harus gol.' Bian memegang handle pintu dan membukanya.
"Sayang... Unaku sayang!!!"
.
.
__ADS_1
.