
"Tuan, aku capek." Ucap Una yang tak sanggup lagi berlari. Tadi Bian memaksanya untuk berjogging, mengingat Una jarang berolah raga.
"Dasar payah, begitu saja sudah lelah. Si Dinosaurus itu rajin berolah raga lho."
"Oh ya. Besok ajak dia jogging bersama kita." Una kembali bersemangat membuat Bian jadi menggeleng.
"Malas."
"Tuan.." Rengek Una.
"Kamu saja baru sebentar sudah capek."
"Nggak kok, tadi kan cuma pemanasan. Lihat aku sudah bersemangat lagi." Una pun kembali bersemangat.
Bian mengacuhkan, pria itu kembali berlari kecil meninggalkan Una.
Una berjalan pulang ke rumah, karena Bian sudah tak nampak lagi di taman. Tah masih olah raga tah sudah pulang, ia juga tidak tahu dimana pria itu.
"Hei... ******."
Karena merasa tak dipanggil Una mengacuhkannya. Sekarang ia harus segera pulang, membayangkan minum jus atau maka es krim terasa begitu nikmat.
"Hei... aku memanggilmu." Luna yang kesal menarik rambut Una. Wanita itu juga sedang jogging.
"Aw... sakit." Una menepis tangan Luna yang menarik rambutnya.
"Sadarlah wanita sepertimu tak cocok dengan Bian." Ucap Luna, ia tak pernah rela Bian menikah.
"Jika kau lebih cocok, kenapa dia tidak memilihmu?" Tanya Una dengan nada mengejek.
"Seharusnya kau mundur saja, Bian itu milikku. Apa kau tahu Bian itu tak bisa tidur tanpa belaianku." Ucap Una dengan nada menggoda. Ia sengaja mengedipkan mata genitnya.
Luna meremas tangannya, ucapan Una membuatnya kesal.
"Kau hanya wanita murahan. Kau tak pantas bersama Bian." Luna pun murka. Ia kembali menjambak rambut Una.
Tak terima dengan perbuatan Luna, Una juga tak mau kalah. Ia juga menjambak rambut Luna. Hingga jambak-jambakan pun terjadi.
Una menimpa Luna, bukan hanya menjambak. Wanita itu bahkan meremat muka juga menepuk-nepuk mulut wanita itu. Mulut yang terlalu sering menghinanya. Mereka bertengkar hingga guling-guling di tanah.
__ADS_1
"Kurang ajar, lepaskan aku."
"Aku tak mau." Una mengulurkan lidahnya, ia kembali menghajar Luna. Mengeluarkan segala kekesalannya.
"Sudah-sudah... kenapa kalian berdua bertengkar?" Seorang pria menengahi keduanya.
Una melihat siapa pria yang menariknya menjauh dari Luna.
Una terjatuh. "Kakiku sakit, dia menjengal kakiku."
Luna tercengang, ia sama sekali tak ada menjengal kaki Una. "Apa yang kau katakan?"
"Kau juga selalu berkata kasar padaku." Una mengeluarkan jurus air mata kesedihan, untuk mendapat simpati pria itu.
"Luna, apa yang kamu lakukan?" Tanya pria itu.
"Dia cuma berpura-pura Dino.." Tunjuk Luna pada Una yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu tidak boleh seperti itu Lun. Dia ini istrinya Bian. Seharusnya kamu menerima kenyataan." Dino pun membantu Una berdiri.
Dengan cepat Una mengalungkan tangannya, hatinya berdebar kencang dekat pria itu.
"Kamu nggak apa? sebentar aku telepon Bian dulu." Ucap Dino setelah mendudukkan Una di kursi taman.
Dari jauh terlihat seorang pria meremas tangannya. Ia melihat saat Dino memapah istrinya. Dan wanita itu begitu tampak nyaman dan bahagia.
"Ada apa ini?" Tanya Bian memilih menghampiri mereka. Ia tak mau Una dekat dengan Dino.
"Tadi istrimu bertengkar dengan Luna. Sepertinya kaki istrimu sakit, katanya dijegal Luna." Jelas Dino pada Bian.
Una memberi isyarat pada Bian untuk pergi.
"Mana yang sakit?" Tanya Bian dengan nada dingin. Bahkan tatapannya juga.
"Tuan, cepatlah pergi. Jangan mengganggu PDKT ku." Bisik Una.
"Bian, aku pergi ya." Lah malah Dino yang pergi.
"Iya, terima kasih Din."
__ADS_1
Wajah Una langsung kecewa melihat Dino pergi. Padahal ini waktu yang tepat agar mereka saling mengenal. Bian mengganggunya saja.
"Naiklah." Bian menyuruh Una naik ke punggungnya.
"Tidak usah Tuan. Aku tidak apa-apa." Tolak Una akan berdiri.
"Jika kamu bisa berjalan, Luna akan mengatakan kalau kamu sedang berbohong. Ia pasti akan mengadu pada orang tuanya."
Una tampak berpikir, ia pun naik ke punggung Bian. Pria itu lalu menggendong Una pulang.
"Tuan, comblangi aku dengan mas Dino." Pinta Una dengan nada manja.
"Aku tidak punya waktu." Balas Bian tak senang.
"Tuan..."
"Una..." Panggil pria itu.
"Ya..."
"Kita masih terikat pernikahan sekarang. Tolong jaga sikapmu. Aku tak mau mendengar kabar perselingkuhanmu. Biar aku saja yang selingkuh darimu."
"Tuan... anda mana boleh seperti itu." Una yang kesal menggigit leher Bian.
Una melihat wajah Bian yang tidak kesakitan. Pria itu tampak sangat tenang menggendongnya.
"Tu-Tuan, bibir anda kenapa?" Una melihat bibir Bian yang luka.
"Digigit."
"Digigit? siapa yang menggigit anda sampai seganas itu?"
"Kamu..."
"Kok aku? jangan fitnah aku Tuan. Aku hanya menggigit lehermu, kenapa malah bibirmu yang terluka?"
"Namanya kamu virus-virus yang menyebar."
"Tuan, tolong jaga perkataan anda.
__ADS_1
Bian malah tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Una... Una..."