
"Bunda, Una mau yang itu." Ucapnya manja menunjuk makanan dalam piring.
Bunda menyendokkan makanan yang ditunjuk Una lalu menyuapinya.
Senyuman Una begitu bahagia di suapi sang Bunda. Hal yang selama ini begitu sangat dirindukannya.
"Kamu makan berselemak." Ayah mengelap mulut Una dengan tisu, hal tersebut membuat mata Una kembali berkaca-kaca.
Sementara Bian hanya jadi penonton. Una seperti anak kecil yang makan masih disuapi dan wanita itu tak memperdulikan sekitarnya.
Bian merasa wajar, selama ini Una besar tanpa sosok mereka. Jadi wajar saja ia haus kasih sayang orang tua.
"Ayah, Bunda... terima kasih." Ucapnya menatap bergantian.
"kami yang seharusnya berterima kasih. Kamu mau memaafkan kesalahan-"
"Bunda, tolong jangan bicara seperti itu." Sanggah Una merasa sedih karena orang tuanya selalu menyalahkan diri mereka masing-masing.
"Yang penting sekarang kita sudah berkumpul. Una harap Ayah dan Bunda, nggak akan pernah pergi lagi."
"Pasti, nak." Bunda mengangguk dan kembali memeluk sang putri. Hatinya begitu lega dan bahagia.
Ayah ikut tersenyum bahagia melihat istri dan anaknya telah bersama. Ia begitu bersyukur diberi kesempatan bertemu dengan putri kecilnya itu.
"Una sayang, nanti kamu tinggal di rumah ya."
"Biar saja Una tinggal di rumah Bian dahulu. Setelah hasil tes DNA keluar, kita akan memberitahu keluarga kita." Ucap Ayah.
"Tapi Mas, tak perlu tes DNa lagi. Una memang anak kandung kita." Rosa tak terima perkataan Reno, seolah masih tak percaya Una anaknya.
"Bukan begitu maksudku. Una memang anakku, anak kita. Tapi kita butuh bukti untuk keluarga kita. Agar mereka tak meragukan Una." Jelas Reno akan maksud ucapannya.
Bian mengangguk menyetujui ucapan Ayah.
__ADS_1
"Ayah, Bunda. Lakukan saja tes DNa." Ucap Una menatap kedua orang tuanya.
"Sudah sayang, kita akan menunggu dalam beberapa hari ke depan." Kata Ayah.
"Kapan Ayah melakukannya?" Una juga tampak bingung.
"Tadi. Dokter sudah mengambil sampel darah Ayah dan kamu."
"Jadi tadi.." Una menatap Bian, pria itu malah tersenyum tipis.
"Mas, sudah tahu?" Tanya Una dengan nada setengah kesal.
"Ya-ya-ya gitulah." Bian jadi gugup ditatap wanita cantik itu.
###
"Mas, kenapa tidak memberitahuku?" Una yang bersandar di ranjang menatap Bian yang juga bersandar sambil memegang hpnya.
"Aku juga baru tahu karena tadi pagi Mama yang memberitahu. Mama meminta merahasiakan ini dari kamu, karena Mama takut jika hasil tes tidak sesuai nanti kamu akan kecewa. Aku kan cuma nurut saja." Jelas Bian panjang. Ia mengatakan itu tapi matanya masih menatap layar ponsel.
"Mas, lihat apa sih?" Una yang tampak penasaran ingin merampas hp Bian, tapi pria itu langsung menutup apa yang sedang dilihatnya.
Una menekan-nekan ponsel Bian, tapi ponsel itu meminta password.
"Buka, Mas." Una menyodorkan hp Bian.
"Untuk apa? apa yang mau kamu lihat di hpku?" Tanya Bian santai.
"Makanya buka dulu, agar aku bisa melihat apa yang bisa dilihat di hp Mas."
Bian tampak berpikir. "Apa kamu yakin mau melihat hpku?" Tanya Bian dengan wajah tersenyum miring.
Una mengangguk, meski ia merasa aneh pada senyuman itu. "Mas, sedang berkirim pesan dengan seorang wanita, kan?" Tuduh Una.
__ADS_1
"Apa aku akan menjadi janda?" Wajah itu kembali sendu.
"Kamu itu bicara sembarang saja!" Bian menarik Una padanya. Membuat wanita itu duduk di pangkuannya. Tangan Bian melingkar dengan mata yang menatap Una dalam.
"Setelah keluargamu tahu tentangmu. Mari kita adakan resepsi pernikahan."
"Tapi...?"
"Apa kamu tidak ingin memakai gaun pengantin?"
Una menatap mata lembut yang selalu membuatnya berdebar.
Karena wajah yang sudah merona, Una pun menyembunyikan wajahnya di tubuh pria itu.
"Gimana sayang? mau, kan?" Bian memeluk tubuh yang selalu membuat otaknya berkelana.
"Ada syaratnya, Mas!"
"Syarat?"
"Syaratnya berikan aku 100 mall beserta isinya."
Bian menghela nafas. "Baiklah, aku akan memberikan semua padamu. Asal... kamu katakan perasaanmu."
Una melonggarkan pelukan Bian, menatap wajah yang mulai nakal.
"Aku-aku..."
Bian masih menunggu.
"Aku-aku, aku... lapar Mas."
.
__ADS_1
.
.