TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 72


__ADS_3

Bian melipat tangan di dada sambil berdiri di depan ruangannya. Ia sedang menunggu Una yang katanya sudah sampai lobi. Tapi sudah hampir setengah jam berlalu, wanita itu belum juga menampakkan batang hidungnya.


'Kemana dia?'


Bian akan menjemput Una di lobi saja, tapi langkah kakinya terhenti saat melihat dua orang yang sedang berjalan ke arahnya mengobrol berhaha hihi. Kelihatan begitu akrab dan dekat.


"Sayang, kenapa begitu lama?" Bian pun masuk ke tengah-tengah mereka. Memberi penghalang agar Dino dan Una tak terlalu dekat.


"Tadi ketemu Mas Dino di bawah. Mas Dino ada urusan sama Mas Bian, jadi kami barengan." Ucap Una jujur.


Bian hanya berwajah dingin dan datar. Ia tak senang melihat Una tersenyum pada pria lain.


"Ada apa?" Tanya Bian tak senang.


Dino tersenyum samar melihat Bian. Sepupunya ini memang sangat pencemburu.


"Aku datang mau membahas kerja sama kita."


"Bukannya besok. Hari ini aku sibuk Din. Aku mau kencan dengan istriku." Bian sengaja mendekatkan pinggang Una padanya.


"Selesaikan saja pekerjaan Mas dahulu."


"Tapi-"


Una meletakkan telunjuk di bibir Bian. "Aku akan menunggu, Mas."


Tak lama Bian di dampingi Wan membahas kerja sama mereka dengan Dino di ruangan Bian. Mereka duduk di sofa. Sementara Una, wanita itu duduk menunggu di kursi kebesaran Bian.


'Apa itu suamiku?' Una mengulum senyum melihat Bian. Pria itu saat serius tampak begitu berwibawa. Benar-benar tipe pria idaman.


Una melihat sebuah bingkai foto dirinya di meja kerja. Senyumnya mengembang, selama ini berarti Bian selalu melihat dirinya.


Ia meletakkan tangan di dada, merasakan hatinya yang mulai berdebar tak menentu. Menghela nafas berkali-kali.


'Dia kenapa?' Bian melihat Una . Saat Una melihatnya, pria itu kembali fokus pada pekerjaannya.


'Wah, kursi ini bisa berputar.'


Una berputar pelan sambil senyum. Kini ia asyik sendiri berputar-putar di kursi itu.

__ADS_1


Bian, Dino dan Wan menggeleng kepala melihat tingkah Una.


Merasa di perhatikan Una melihat ke arah mereka. Dan dengan cepat ia bangkit dari kursi itu.


"A-aku cuma iseng." Tawa Una menahan malu. Namun tubuh Una perlahan mulai miring dan akan tumbang.


Bian bangkit dan menahan tubuh Una agar tidak jatuh.


"Mas Bianku, kepalaku pusing." Una memegangi kepala yang pusing karena berputar-putar di kursi itu.


"Makanya jangan berputar-putar, kamu kayak bocah." Ledek Bian dengan memelankan suaranya, agar tak didengar Dino dan Wan. Una yang mendengar pun cemberut.


"Mas, turuni aku."


Bian menggendong Una dan membawa Una duduk di sofa. Duduk di sampingnya.


"Duduklah yang tenang, sebentar lagi aku akan selesai." Pinta Bian.


Una sangat malu melihat Dino dan Wan tersenyum padanya. Mereka pasti berpikiran yang tidak-tidak.


Tak berapa lama Bian mengantar Dino dan Wan keluar dari ruangannya.


"Sepertinya istrimu begitu sangat kelelahan, ya." Ledek Dino melihat Una tertidur lelap di sandaran sofa.


"Wan, nanti kamu selesaikan semuanya."


"Baik Tuan. Saya permisi." Wan pun pamit di ikuti Dino.


'Kurang tidur? dia itu putri tidur.' Bian menggeleng, Una hobi tidur.


Bian mengunci ruangannya, ia berjalan mendekati Una yang masih terpejam di sofa.


Mata Bian menatap lembut wajah cantik Una. Ia menkecup keningnya perlahan. Lalu turun ke hidung dan menuju bibirnya.


Una menggeliat saat merasakan pergerakan bibirnya. Ia membuka mata dan melihat Bian menciuminya.


"Mas..."


Bian terus melanjutkan penyatuan bibir mereka, perlahan membawa Una berbaring dibawah kungkungannya.

__ADS_1


"Mas..." Nafas Una ngosh-ngoshan menahan dada Bian. Pria itu membuatnya tak bernafas.


"Aku mencintaimu Una. Aku sangat mencintaimu." Ungkap Bian dengan nafas yang memburu.


"Aku menginginkanmu.." Bian sudah tak dapat menahan dirinya lagi, tubuhnya begitu bergairah.


"Mas.."


Bian tak mendengar, ia kembali menciumi leher Una. Tangannya juga mulai aktif membuka kancing baju lalu menjelajah pergunungan itu.


"Mas..." Una melayang merasakan setiap sentuhan Bian. Merasakan geli dan nikmat saat Bian memainkan kedua benda kenyal itu.


"Mas..." Una menahan kepala Bian yang mulai ke arah bawah tubuhnya.


"Una..." Ucap Bian lirih, matanya tersirat penuh gairah.


"Aku nggak bisa." Una menatap Bian takut-takut.


"Kenapa?" Ada rasa kecewa dalam pertanyaan itu. Istrinya itu menolak dirinya lagi. Ia ditolak lagi.


"A-aku aku lagi M." Jujur Una.


Bian menatap Una, raut wajahnya bingung. Apa maksud perkataan itu.


"Itu-itu yang datang tiap bulan."


Bian menghela nafas kasar, ia mulai mengerti. Bian pun membenarkan posisinya jadi duduk. "Aku ke kamar mandi sebentar."


"Tunggu Mas.." Una bangkit menahan tangan Bian. Pria itu berbalik dan melihat Una penuh tanya.


"Itu... apa a-aku boleh ikut?" Tanya Una sambil menundukkan kepala, ia sangat malu dan meruntuki ucapannya. Tapi, ia tak mau membuat pria itu selalu kecewa.


Bian menggenggam tangan mungil itu. "Boleh, kamu memang harus bertanggung jawab." Bian tersenyum smirk. Lalu menggandeng Una menuju kamar mandi.


"Kamu akan melihat piton lho..." Wajah Bian benar-benar mesum.


"Pi-pi-pi-piton?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2