TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 47


__ADS_3

"Una..." Panggil Ziva pada Una yang menselonjorkan kakinya di kamar kosnya.


"Kenapa kau melihatku begitu?" Tanya Una lalu memakan keripik yang di sediakan Ziva. Ia melihat ke seliling kamar itu.


"Kenapa kau tak memberitahuku bahwa pak Bian itu suamimu?" Tanya Ziva dengan sorot mata yang tajam.


Una yang sedang makan tersedak dan menenggak minuman. Ia kaget kenapa Ziva mengetahui kalau Bian suaminya.


"Bian Arkana suamimu kan?" Tanya Ziva dengan penuh penekanan.


Una menghela nafas lalu tak lama mengangguk.


"Astaga Una. Aku tak menyangka ternyata selama ini kau orangnya. Bagaimana kalian bisa mengenal? apa dia baik padamu? bagaimana orang tuanya?" Ziva mencecar Una dengan bertubi-tubi pertanyaan.


"Ayo ceritakan padaku." Desak Ziva yang sangat penasaran.


"Tapi ini jadi rahasia kita ya."


Ziva mengangguk. Una menarik nafas dan mulai bercerita awal mula bertemu dengan pria itu.


"Ja-jadi... pak Bian menyewamu dari Club malam itu hanya untuk membuat tetangganya menjauhinya."


Una mengangguk. "Kadang aku berpikir Va. Jika saat itu bukan mas Bian yang menyewaku, mungkin aku sudah menjadi wanita malam."


Ziva memegang tangan Una. "Sudahlah jangan terus dipikirkan yang lalu. Pikirkan kedepannya. Bagaimana apa keponakanku sudah ada di sini?" Tanya Ziva memegang perut rata Una mengalihkan topik pembicaraan. Ia tak mau Una sedih.


"Apaan sih Ziva ini." Una jadi malu. Jika ada janin dalam perutnya, ia harus melewati adegan itu dulu. Memikirkannya saja sudah membuatnya merinding.


"Kalian sudah menikah, hal seperti itu sangat wajar."


"Jangan bahas terus."


"Apa kau menyukai pak Bian?" Tanya Ziva mengulum senyumnya melihat wajah Una yang sudah memerah.


Una mengangguk pelan.


"Unaku... Aku akan mendoakanmu, hidup bahagia dengan pak Bian sampai tua bersama anak-anak kalian." Ziva sangat senang Una mendapat kebahagiannya, mengingat wanita malang itu dahulu selalu mendapat ketidak adilan dalam hidup.


"Ziva..." Una mulai mewek dan memeluk temannya itu. Sang teman juga memeluk Una erat.

__ADS_1


"Oh iya Na, minta bantuan suamimu mencarikan orang tuamu."


"Sudah, kata mas Bian tak ada informasi apapun sebelum aku terdampar di pantai itu."


"Kok bisa begitu ya?" Ziva pun bingung.


"Bahkan ia mengatakan kalau aku anak duyung."


Ziva malah tertawa mendengar perkataan Una.


"Va." Panggil Una.


"Ya. Kenapa Na?"


"Aku bertemu Bundaku."


"Benarkah?"


"Tapi... aku nggak yakin itu Bundaku atau tidak. Aku tak bisa mengingat wajah Bunda. Apa karena nama mereka yang sama ya, perasaanku jadi aneh lho, Va."


Ziva menatap wajah Una prihatin. Sudah begitu lama mana mungkin anak sekecil itu bisa terus mengingat wajah orang tuanya. Kalau perkara sama nama mungkin itu bawaan perasaan saja.


"Ia tetangga sebelah rumahku. Nggak tahu lah Va, ku rasa itu karena nama mereka saja yang sama." Una jadi melamun berusaha kembali mengingat wajah yang makin samar.


"Una..."


Wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Itu suamimu menelepon." Ziva memberitahu hp Una yang berdering.


Una pun mengangkat panggilan itu.


"Halo..." Jawabnya cepat.


"Sayang... kapan pulang?"


Una melihat jam tangannya. Masih juga jam 11 siang. Masih panjang waktu sampai jam 6 sore dan pria itu sudah bertanya kapan dia pulang.


"Jam 6, kan. Aku akan pulang jam 6."

__ADS_1


"Aku jemput sekarang, ya."


"Nanti jam 6."


"Una... aku merindukanmu."


Ucapan Bian lagi-lagi membuat Una berdebar.


"Jam 6 kalau mau menjemputku." Ucap Una berusaha menutupi perasaan.


"Ta-tapi.."


"Ya sudah, kalau begitu malam ini aku menginap di rumah temanku. Besok pagi jam 6 aku baru pulang." Ucap Una mulai kesal.


"Baiklah baiklah, ratuku." Bian pun akhirnya mengalah. "Kamu jangan telat makan, biar jangan sakit magh. Jangan banyak minum es..."


Una tersenyum mendengar ocehan Bian, pria itu sudah seperti emak-emak yang terus menasehatinya.


"Iya... iya." Jawab Una cepat.


"Aku nggak mau kamu sakit, Na. Aku-aku..." Ucap Bian gugup.


Una diam masih menunggu apa yang mau dikatakan suaminya itu.


"Itu, aku aku..."


"Aku kenapa?" Ledek Una seperti Bian yang pernah mengerjainya.


"Aku..." Terdengar Bian menarik nafas panjang. " Aku mencintaimu Una. Aku jatuh cinta padamu."


Deg


Deg


Deg


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2