TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 39


__ADS_3

Una mengisi piring dengan berbagai masakan yang terhidang. Ia gugup dan grogi karena Bian terus menatap dirinya.


Pria itu menopangkan dagu dengan tangannya, menatap dengan tatapan penuh kagum pada istrinya.


"I-ini Mas..." Una menyodorkan piring itu dengan gugup.


"Terima kasih sayang." Bian berkata begitu lembut bahkan pria itu mengkedipkan mata genitnya. Hal itu membuat Una jadi salah tingkah. Wanita itu pun menenggak gelas kosong.


"Minum ini." Bian mengulum senyum memberikan Una gelas berisi air.


Wanita itu sangat malu dan gugup. Mana kedua orang tua Bian tersenyum-senyum melihatnya. Pria ini juga begitu iseng. Membuatnya jadi salah tingkah seperti ini.


Beberaoa waktu kemudian, Una akan masuk ke dalam rumah setelah mengantar Bian berangkat kerja.


"Una..."


Wanita muda itu menoleh ke arah suara. Hatinya berdesir melihat senyum manis menggambang dari wanita paruh baya itu.


"Bunda tadi masak bubur kacang hijau. Kamu coba ya." Rosa memberikan mangkuk bubur itu pada Una.


"Te-terima kasih Bun-da." Dengan gugup Una menerima mangkuk itu.


"Mama kamu mana?"


"Di-di dalam Bun. Ayo masuk Bun." Ajak Una sopan.


Una melahap bubur itu sambil matanya menatap 2 wanita paruh baya yang sedang berhaha hihi. Obrolan mereka kelihatan begitu asyik.


'Wanita ini Bunda Rosaku bukan ya?' Una beradu dengan pikirannya sendiri. Ingatannya masih tak bisa mengingat wajah orang tuanya secara jelas.


'Katanya ikatan batin seorang ibu terhadap anaknya kuat.' Una bermonolog sendiri dengan pikirannya.


'Bunda Bunda... lihat Una.' Batin Una mencoba memanggil.


Wanita muda itu terpaku saat wanita paruh baya itu melihat ke arahnya, memberikan senyuman manisnya lalu kembali mengobrol dengan Mama.


Una pun langsung melangkah pergi kembali ke kamarnya. Ia mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.


"Itu Bundaku bukan?"

__ADS_1


"Aku harus bagaimana?"


"Kenapa tak bisa mengingat wajahnya?"


"Tapi kenapa Bunda tidak mengenaliku, jika memang Bundaku?"


Una mondar-mandir keliling kamarnya sambil bermonolog sendiri. Hatinya sudah tak menentu. Berkecampuk dengan pikirannya. Kadang ia berpikir Rosa itu Bundanya, tapi kadang pikirannya meragu. Mungkin ini hanya karena perasaannya saja yang terlalu merindukan ibu kandungnya tersebut.


###


"Apa yang kalian kerjakan selama ini? hanya ini kemampuan kalian!!!" Luna mencampakkan berkas-berkas ke beberapa anggota staff yang berdiri di depan meja kerjanya.


'Astaga...' Batin Ziva melihat wanita yang menjadi atasan barunya yang begitu sangat kejam. Padahal ini hari pertama wanita bernama Luna itu menjabat.


"Sore nanti kalian laporkan ulang padaku. Jika kalian tak sanggup silahkan mengundurkan diri." Ucap Luna sambil menggerakkan tangan mengisyaratkan para staff itu untuk segera pergi.


"Baik Bu.." Ucap beberapa staff lalu berlalu keluar dari ruangan wanita itu.


"Astaga... rasanya ingin ku jambak saja mulutnya."


"Baru juga satu hari sudah seperti ini."


"Atasan kita yang lama saja tak seperti itu."


Para staff pun mengeluh setelah keluar dari ruangan itu. Mereka tak menyangka kenapa wanita titisan mak lampir itu yang menjadi atasan mereka.


Sementara di dalam ruangan, Luna tersenyum menatap jam dinding. Sudah jam 12 siang, waktunya makan siang.


Ia membenarkan makeupnya, setelah itu membuka bekal makanan. Wanita itu tersenyum saat mengambil serbuk dalam plastik.


'Bian... aku datang.'


Dengan wajah sumringah Luna berjalan menuju ruangan Bian. Ia sudah membayangkan akan terjadi adegan ahh ahh ahh antara ia dan Bian. Dan Bian otomatis akan bertanggung jawab padanya. Pria impiannya akan menceraikan wanita itu dan menikah dengannya. Lalu mereka akan hidup bahagia dengan anak-anak yang menggemaskan.


Membayangkan hal seperti itu saja, membuat perasaan Luna seakan melayang terbang.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Seperti ajaran nenek. Ia harus menjadi wanita yang lemah lembut, untuk menarik perhatian Bian. Jadi ia harus mengetuk pintu terlebih dahulu, tidak boleh langsung main nyelonong saja seperti sebelumnya.


Begitu ada tanggapan, Luna langsung masuk dan tersenyum manis melihat Bian. Pria itu semakin hari semakin tampan saja.


Berbeda dengan Luna, wajah Bian tampak terkejut melihat wanita yang paling ingin dihindarinya ada di ruangan itu.


"Wan..." Bian menatap Wan.


"Nona Luna bekerja sebagai manager keuangan Tuan." Ucap Wan memberitahu, seolah ia mengerti dengan tatapan mata Bian.


"Bian... aku membawa makan siang untukmu." Luna menyodorkan bekal makanan yang dibawanya.


"Siapa yang menerima dia bekerja di sini?" Tanya Bian dengan nada tidak senang.


"Tuan besar."


Bian menghela nafas kasar. Ia tak habis pikir kenapa Papanya malah menerima Luna bekerja. Pria itu pun bangkit dan akan pergi ke ruangan sang Papa meminta penjelasan.


"Bian... mau kemana? makan dulu. Aku sudah memasakkan untukmu." Ucap Luna yang tak mau Bian pergi begitu saja.


"Wan... buang saja." Pinta Bian tegas.


"Bian..." Luna membentak pria itu, tapi pria itu seakan tak peduli.


"Maaf Nona..." Wan mengambil bekal makanan yang di pegang Luna.


"Apa yang kau lakukan?" Luna sudah begitu emosi.


"Sesuai perintah Tuan Bian."


"Kau tak bisa membuangnya."


"Maaf Nona, hanya Tuan Bian yang bisa memerintah saya."


"Kau..."


Wan tak peduli, ia merampas bekal makanan dari tangan Luna. Meski ada drama tarik-tarikan bekal dengan wanita itu.

__ADS_1


Tenaga Wan yang lebih kuat dari Luna, membuat Wan dengan mudah meraih bekal makanan dan memasukkannya ke dalam tong sampah. Sesuai dengan apa yang Bian perintahkan.


"Bi-an..." Luna pun berteriak histeris.


__ADS_2