
"Wan..." Panggil Bian dengan mata tajam yang fokus pada layar komputer.
"Ya Tuan." Wan berdiri di depan meja, menunggu instruksi Bian.
"Lakukan sekarang!" Pintanya.
"Apa Tuan yakin?" Tanya Wan ragu.
Bian mengalihkan pandangan mata dari komputer kepada Wan.
"Apa kau meragukanku? atau kau yang ragu?" Aura terasa tiba-tiba sangat panas. Tatapan Bian benar-benar sangat tak bersahabat.
"Baik Tuan, akan segera saya lakukan." Wan menunduk sejenak dan bergegas keluar dari tempat yang membuatnya berkeringat dingin.
"Apa kau masih mengharapkan wanita itu?" Tanya Bian.
Pertanyaan Bian membuat Wan menghentikan langkah. Pria itu pun membalikkan badan.
"Jika kau menginginkannya kejarlah dia. Agar ia tak terus menggangguku."
Wan tak menjawab, ia hanya kembali menundukkan kepala. Lalu berlalu dari ruangan itu.
###
"Luna, kamu jangan seperti ini terus. Una juga anak Bunda sama seperti kamu dan Adit. Bunda ingin kalian semua akur." Air mata membasahi pipi wanita paruh baya itu.
"Bun, sadarlah. Wanita malam itu bukan anak Bunda. Bunda sendiri juga yang mengatakan anak Bunda itu tewas dalam kebakaran. Kenapa sekarang tiba-tiba ia hidup kembali?" Luna masih tak percaya.
"Saat kejadian kebakaran itu, saat itu pula ia diculik. Una dibawa para penculik untuk dijual. Tapi kapal laut yang mereka tumpangi tenggelam. Dan..." Bunda mengusap air matanya, ia tak sanggup menceritakan derita anak malangnya itu.
"Dan syukurnya Una terdampar di pantai,lalu ditolong sebuah keluarga." Rosa mengusap wajahnya. Ia tak tahu harus bersyukur atau tidak saat Una diculik.
Jika saat itu Una tidak diculik, Una akan tinggal di panti dan tewas dalam musibah itu. Tapi saat anaknya diculik, Una seperti berada di ujung tanduk. Jika Una tak terdampar di pantai, anaknya itu akan ditelan lautan.
"Bun, dongeng apa itu?" Luna cukup kesal mendengar kisah itu.
__ADS_1
"Luna..." Bunda memegang tangan Luna dan menatap dengan pandangan memohon.
"Aku akan menerima dia menjadi kakakku, jika dia melepaskan Bian untukku. Bukannya sebagai seorang kakak, dia harus mengalah pada adiknya?" Tanya Luna dengan sorot mata tajam.
"Luna..." Bunda menghela nafas panjang, Luna memang sangat keras kepala.
"Sudahlah Bun. Aku sibuk. Aku akan memisahkan mereka berdua, apapun caranya." Luna segera bangkit dan pergi. Ia tak memperdulikan Bunda yang menangis senggugukan.
'Bunda, pilih kasih.' Itu yang dirasakan Luna sekarang. Semenjak ada Una, perhatian Bunda terbagi. Dan ia tidak suka itu.
Luna membuka pintu, ia berencana akan ke kantor Bian. Ia akan berusaha menggoda pria itu, agar menjadi miliknya seorang.
"Selamat pagi Nona." Ucap seorang pria berpakaian polisi. Terlihat juga beberapa polisi lain berdiri di teras rumahnya.
"Kami ingin bertemu dengan nona Luna Almira."
"Itu aku. Ada apa?" Tanya Una dengan wajah malas.
"Kami mendapat perintah untuk membawa anda ke kantor polisi."
"Apa? kenapa kalian membawaku?"
Emosi Luna naik turun mendengar ucapan polisi. Bian benar-benar menuntut dirinya hanya demi wanita itu.
"Aku tidak melakukan apapun." Luna tak bersedia di bawa ke kantor polisi.
"Maaf Nona, kami hanya menjalankan tugas. Silahkan jelaskan semua di kantor." Polisi itu memerintahkan anggotanya membawa Luna secara paksa.
"Lepaskan aku. Bunda... Bunda." Luna memanggil Bundanya.
"Ada apa ini?" Bunda datang dengan nafas ngosh-ngoshan. Ia terkejut melihat polisi.
"Bunda... mereka menangkapku." Luna masih memberontak.
"Kami permisi." Polisi menyerahkan surat penangkapan dan membawa Luna pergi.
__ADS_1
Tangan Bunda gemetaran membaca surat itu. Ternyata Bian serius dengan ucapannya. Ia pun segera berlari ke rumah sebelah.
"Una... Una..."
"Ada apa Bun?" Tanya Una yang sedang menonton tv bersama Mama.
"Luna... Luna..." Bunda sambil menangis memberikan surat itu pada Una.
'Dia kan sudah berjanji.'
###
Di kantor polisi Luna dihujani berbagai macam pertanyaan.
"Kalian banyak tanya. Kalian tunggu saja orang tuaku datang. Kupastikan kalian semua akan membekam di penjara." Luna menunjuk para petugas satu persatu.
Seorang pria datang, membuat Luna menatapnya menyalang.
"Kau..." Luna berjalan menghampiri pria itu dan akan menamparnya. Tapi tangannya dengan mudah ditahan pria itu.
"Kenapa kau begitu penurut? dasar pria menjijikkan." Luna menatap Wan dengan wajah sangat jijik.
"Suruh Bian segera mencabut tuntutannya."
"Tuan Bian, tak ingin berdamai. Maka terimalah nasibmu membusuk di penjara." Ucap Wan dengan wajah datarnya.
"Ini semua video bukti kejahatan nona Luna. Saya mohon kerja samanya untuk memberikan hukuman seadil-adilnya." Ucap Wan pada petugas lalu ia melihat wajah Luna yang sudah memerah padam.
"Saya permisi." Wan pun berlalu pergi.
"Dasar." Luna kesal menendang-nendang kursi, polisi segera menenangkan.
'Bian... aku tak akan **m**elepaskanmu!!!'
.
__ADS_1
.
.