TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 81


__ADS_3

"Sudah Mas." Ucap Una dengan wajah cemberut. Ia telah selesai menyiapkan koper berisi pakaian sang suami.


Tadi Wan menelepon, bahwa besok pagi Bian harus bertemu klien diluar kota. Jadi Bian harus berangkat malam ini ke kota tujuan.


"Besok siang aku langsung pulang lho sayang." Bian mengulum senyum melihat bibir mengkerucut Una. Ingin rasanya diikat saja bibir itu.


"Sayang.." Bian berjongkok di depan Una yang duduk di tepi ranjang. Menggenggam tangan mungil itu.


"Kalau aku kangen Mas Bianku gimana? ntar malam aku meluk siapa dong?" Wajah Una sudah berubah sedih. Ia sudah terbiasa tidur di samping Bian. Una tak rela ditinggal pria itu walau katanya cuma sehari.


"Nanti kita bisa video call dan kirim pesan. Aku cuma pergi sehari lho." Bian kembali menekankan.


"Nanti Mas mau ketemu perempuan disana." Una melirik wajah Bian yang malah tersenyum.


"Iya."


"Kan, kan!" Una mendengus kesal mendengar jawaban Bian.


"Kliennya memang perempuan." Bian menatap mata yang mulai berkaca itu.


"Kamu jangan khawatir, perempuan yang ada dalam hatiku itu cuma kamu. Perempuan yang paling aku cintai, paling aku sayang-"


"Gombal." Potong Una cepat dengan wajah memerah. Ia pun mencubit kedua pipi Bian.


Dibilang gombal Bian malah tertawa. "Aku serius sayang."


"Mas Bianku, kakiku sakit." Una memanjangkan kakinya.


"Yang mana?" Tanya pria itu.


"Yang ini, ini juga. Yang ini sakit Mas.." Una menunjuk-nunjuk kakinya.


"Bentar, aku ambil salep." Bian bangkit tapi tangannya di tahan Una.


"Pijat Mas." Rengek Una lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.


Bian naik ke ranjang, perlahan mulai memijat kaki wanita cantik itu.

__ADS_1


Bukan hanya memijat kaki, Una juga meminta memijat tangan, bahkan kepalanya. Istrinya itu sekarang begitu manja, mungkin karena ia akan pergi keluar kota.


"Mas..."


"Mana lagi yang mau di pijat?" Tanya Bian pada Una yang menjadikan pahanya sebagai bantal. Pria itu sedang memijat kepala Una.


Una melirik jam dinding, 2 jam lagi Bian akan berangkat. Ia masih ingin bersama dengan pria itu.


"Mas, ntar malam aku tidur sama siapa?"


"Tidur sendiri dulu. Besok aku pulang sayang."


"Mas, itu..." Una bingung mau mengatakannya.


"Kenapa?" Wajah Bian sudah bingung.


"Itu.."


"Hmm."


"Besok, saat aku pulang kamu bisa puas meluk aku."


Una membuang muka, ia kesal. Bukan itu maksudnya. Melihat ekspresi Una, Bian seolah paham.


"Besok malam aku akan meminta double." Bisik Bian tepat di telinga Una. Saat Bian akan mengangkat kepala, Una segera mengalungkan tangannya.


"Apa bisa sekarang saja? besok sudah lain cerita." Dengan cepat Una mengatakannya. Ia menginginkan pria itu.


"Kenapa kamu berputar-putar sih sayang. Katakan saja kalau kamu menginginkan-"


"Aku menginginkanmu Mas Bianku." Una menarik tengkuk Bian dan menyambar bibir Bian.


Mereka saling berpangutan, ******* dengan rakus. Una perlahan bangkit dan duduk di pangkuan Bian.


Bian melepas pakaian sang istri dengan bibir masih saling menaut. Ia membawa tubuh polos itu berada dalam kungkungannya. Ia perlahan mulai melakukan penyatuan yang panas dan bergairah.


Beberapa waktu berlalu setelah pergulatan panas mereka. Bian tersenyum menatap Una dan wanita itu juga menatap dirinya.

__ADS_1


Bian mengelus lembut kepala Una dan menkecup lama keningnya. Una memejamkan mata merasakan kasih dan sayang seorang Bian.


"Mas Bianku, geli lho..." Una kegelian saat Bian menggigit telinganya.


"Sayang... aku masih menginginkanmu."


Una senyum mendengar ucapan pria itu.


Mereka pun kembali memadu kasih diiringi suara ******* dan erangan memenuhi kamar.


###


"Aku pergi dulu. Nanti aku telepon." Bian pamit pada Una. Ia memeluknya sejenak. Lalu menkecup kening dan kedua pipi Una.


Dari dalam mobil Wan melihat keromantisan atasannya tersebut. Dan ia juga melihat Luna menatap mereka tak senang dari balik tembok.


Una melambaikan tangan mengiringi kepergian suaminya. Sebenarnya ia nggak mau Bian pergi, tapi mau bagaimana lagi, Bian harus bertanggung jawab pada pekerjaannya.


"Besok Bian juga sudah pulang." Mama menepuk bahu Una. Ia dari tadi melihat wajah Una yang begitu sangat sedih. Seperti Bian akan pergi lama saja. Padahal hanya ditinggal sehari.


"Iya Ma." Jawab Una pelan.


Tak lama Una kembali ke kamar, ia merasa kamar itu terasa sepi. Perlahan membaringkan tubuhnya. Ia melihat ke samping tapi tak ada pria itu. Baru juga Bian pergi tapi kenapa ia begitu merindukannya. Ia mulai kesepian.


Una memeluk bantal Bian, menghirup dalam aroma yang masih tersisa. Pria itu seperti masih berada di sisinya.


'Besokkan mas Bianku sudah pulang.' Una menutup matanya.


Ia membuka mata dan mengambil hp di atas nakas. Mencari galeri foto lalu memandang foto mereka berdua.


'Mas Bianku, aku merindukanmu.'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2