TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 19


__ADS_3

Una masuk ke dalam kamar diikuti Bian dari belakang.


"Tuan, kenapa anda mengikutiku?"


"Siapa yang mengikutimu? aku mau masuk ke kamarku." Jawab Bian santai.


"Ini kamarku Tuan. Kamar anda di ruang tamu."


"Ini kamar kita bersama. Apa kamu lupa kita sudah menikah? Lagian ini juga malam pertama kita."


Glek


Una menelan salivanya dengan susah. "Tu-Tuan, tolong jaga sikap anda."


Bian melangkah mendekati Una, membuat wanita itu melangkah mundur. "Jaga sikap seperti apa?"


Pria itu makin melangkah maju, membuat Una makin mundur teratur.


"Tu-Tuan, jika anda maju lagi aku akan berteriak." Ancam Una dengan kegugupannya.


"Berteriaklah, bukankah itu semakin menantang." Bian sengaja mengedipkan matanya. Rasanya senang menggoda Una yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus.


"Tuan... keluar dari kamarku." Una mengalihkan wajahnya dan mendorong Bian keluar dari kamar. Ia mendorong dengan sekuat tenaga.


"Apa kamu nggak mau melakukan sesuatu di malam pertama kita?" Bian masih terus menggoda Una.


Bugh


Pintu kamar langsung ditutup Una. Pria itu menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut.


Ia pun berbaring di sofa. Sesuai perjanjian ia hanya akan tidur di sofa. Mau pulang ke rumah orang tuanya, ia pasti akan dikuliti hidup-hidup.


"Kemana dia?" Bian kembali memantau Una dari hpnya. Wanita itu tak ada di kamar, tapi ia tak ada juga tanda-tanda Una keluar kamar. Apa Una di kamar mandi?


10 menit telah berlalu, tapi kamar itu tetap kosong. Kenapa Una tak keluar-keluar dari kamar mandi?


Apa dia pingsan?


Atau tidur?


Kayaknya ia mesti memasang CCTV di kamar mandi.


"Na... Una..." Bian pun mengetuk pintu kamar. Wanita itu mengunci kamarnya. Bian mengetuk-ngetuk sampai beberapa kali. Rasanya ia ingin mendobrak pintu ini saja.


Wanita itu membuka pintu. "Tu-Tuan... apa Tuan menyimpan pembalut?" Tanya Una menundukkan kepalanya.


"Untuk apa aku menyimpan itu." Jawab Bian dengan melihat Una. Wanita itu masih menundukkan kepala sambil memegang tangannya sendiri.


"Akan aku carikan." Bian mengalah, melihat kaki wanita itu mengalir darah.

__ADS_1


"Terima kasih."


Bugh


Bian menghela nafas kasar, lagi-lagi wanita itu menutup pintu begitu saja.


Sementara Una meruntuki dirinya. Ia bisa melupakan untuk membeli benda itu. Ia sangat malu sekarang. Kalau bisa rasanya ingin mengubur diri saja.


Bian memegang hpnya, pria itu sibuk dengan pemikirannya sendiri. Antara menyuruh Wan mencarikan benda itu atau menyuruh petugas apartemen membelikannya. Tapi yang dipusingkannya, apa yang harus dikatakannya untuk menyuruh mereka membeli benda itu?


'Astaga... kenapa serumit ini???'


Bian akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri ke mini market. Ia berjalan masuk dan matanya melirik kanan kiri. Ia keliling mini market dan tak menemukan benda itu.


'Dimana diletakkan?' Rasanya Bian ingin mengacak mini market tersebut.


"Maaf Mas... ada yang bisa saya bantu?" Tanya karyawan mini market sopan. Dari tadi ia melihat pria tampan ini hanya berputar-putar saja. Cukup mencurigakan, jangan-jangan seorang pengutil.


"Itu, saya cari itu." Jawab Bian bingung untuk mengatakannya.


Karyawan mini market melihat Bian bingung, tah apa yang mau dicari pria ini.


"Itu... pembalut." Ucap Bian cepat.


"Oh... disini Mas."


"Mau yang mana Mas? ada panjang 23,26, 32. Yang wing atau non wing? day atau yang night..." Karyawan mini market menawarkan beberapa merek pembalut.


'Astaga..." Bian membatin. Untung ia tak menyuruh Wan atau yang lain. Pasti mereka akan banyak bertanya padanya.


Beberapa saat berlalu...


"Na..." Bian mengetuk pintu kamar. Ia pun menyerahkan 4 kantong plastik besar berisi pembalut. Una sampai terbengong menerimanya.


"Ke-kenapa sebanyak ini?"


"Aku nggak tahu biasa kamu pakai yang mana." Jawab Bian dan berlalu pergi ke ruang tamu. Rasanya ia ingin segera tidur.


Di kamar Una menghela nafas melihat berbagai pembalut yang diberikan Bian.


'Astaga... apa dia kira aku mau jualan?'


~


Bian duduk di kursi makan melahap sarapannya, seperti biasa sarapannya hanya sepiring nasi goreng. Bian menghela nafas, hanya itu yang bisa dimasak Una.


"Na..." panggil Bian. "Tolong pakaikan dasiku."


Una pun mendekati Bian dan memegang dasi tersebut. Lalu perlahan ia pun memakaikannya dan tak lama ia tersenyum, menatap dasi hasil karyanya.

__ADS_1


"Una..." Bian menatap Una kesal, wanita itu langsung berlari ke dapur.


Wanita itu bukan memakaikan dasi dengan benar, melainkan memasangkan pita di leher kemejanya.


"Una... apa kamu pikir aku ini kado?"


Una membersihkan rumah setelah Bian pergi bekerja. Saat sedang asyik membersihkan rumah diiringi suara musik, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Una pun berlari setelah mematikan musik tersebut.


Una membuka pintu, ia mengira itu adalah Bian tapi ternyata bukan. Seseorang yang berdiri di depannya membuat Una sangat kaget.


"Tan-Tante." Ucap Una gugup melihat wanita paruh baya itu menatap lekat dirinya.


"Tante, silahkan masuk." Ucap Una dengan lembut dan sopan.


Wanita paruh baya itu pun masuk ke apartemen, lalu duduk di sofa dan Una permisi ke dapur untuk membuatkan secangkir teh. Tak lama Una kembali dan meletakkan teh itu di atas meja.


Una pun duduk di sofa dengan menunduk. Perasaannya sangat canggung. Tak tahu apa yang mau dikatakannya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Mamanya Bian dengan suara datar.


"Su-sudah Tante." Jawabnya masih gugup.


"Bagaimana keadaan kandunganmu?"


Una amat terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia baru ingat Bian mengatakan kalau ia sedang hamil.


"Apa kamu sudah periksa ke dokter kandungan?"


Una jadi bingung dan berpikir sesaat, untuk mengarang sebuah alasan. "Nan-nanti tante sama mas Bian."


"Oh..." Wanita itu menjawab dengan nada datar.


"Besok katakan pada Bian untuk datang ke rumah. Datanglah kalian berdua ke rumah. Ada hal penting yang mau kami bicarakan."


Tak ada yang mau dikatakan lagi. Wanita paruh baya itu pun pergi. Una mengantar sampai depan pintu.


Una mengambil handphone di kamar dan menghubungi bian. "Tuan, Mama anda datang kemari."


"Oh... lalu? apa kamu dikulitinya?" Tanya Bian sambil menahan tawanya.


"Mamanya Tuan menyuruh kita untuk datang ke rumahnya besok." Una tak mau menanggapi ocehan Bian.


"Ya sudah, besok kita akan pergi ke sana. Kamu persiapkan diri, kurasa Mama akan mengkuliti kita hidup-hidup." Bian menakuti Una.


Una yang kesal pun memutuskan panggilan telepon. Pria itu sekarang keseringan membuatnya kesal.


Dari layar hpnya, ia melihat Una yang sibuk membersihkan apartemennya. Wanita itu begitu sangat rajin. Pantas saja apartemennya sangat bersih dan nyaman. Dulu Bian seminggu sekali baru memanggil petugas kebersihan, karena ia juga jarang tinggal di apartemennya.


'Apa dia mau mandi?'

__ADS_1


__ADS_2