
Malam itu Una dan keluarga Bian sedang makan malam. Wajah Una sudah tidak sanggup lagi melahap makanan yang di sajikan. Ia tadi siang sudah melahap habis makanan yang dipesan di restauran itu.
"Kamu makan ini, sangat bagus untuk babynya." Mama akan meletakkannya sayur di piring Una.
"Ma, Una sudah kenyang lho. Mama mau membuat istri dan anakku mati kekenyangan." Bian menjauhkan sendok yang dipegang Mama dari piring Una. Ia merasa kasihan melihat wajah Una yang minta segera ditolong.
"Tadi siang kami juga sudah makan diluar, Ma." Ucap Bian lagi. Una hanya tersenyum, ia takut Mama akan tersinggung.
"Besok kamu harus makan yang banyak." Tunjuk Mama pada Una. Dengan cepat Una mengangguk.
"Om Tante, apa kabar? lagi pada makan ya." Ucap seorang pria yang baru datang.
Una menoleh ke arah suara dan kaget melihatnya. 'Pria tampanku.'
Bian melihat wajah Una yang langsung cerah. Bahkan wanita itu juga merapikan rambutnya.
"Ayo gabung makan malam Din." Ajak Papa.
"Iya, ayo duduk sini." Mama juga mempersilahkan.
"Tadi saya sudah makan malam Om dan Tante. Saya kemari mau membahas kerja sama dengan Bian."
"Tunggu di ruang kerja." Ucap Bian ingin segera Dino hilang dari pandangan Una yang begitu memujanya.
"Baiklah, Om tante saya permisi dulu."
Beberapa saat kemudian.
"Itu mau dibawa kemana?" Tanya Una melihat pelayan rumah membawa nampan berisi minuman dan makanan.
"Ruang kerja, Tuan Bian yang menyuruh."
"Biar aku saja."
"Tapi Nona..."
Una tak peduli, ia mengambil nampan dari para pelayan rumah. Ia meletakkan makanan di meja dan hanya membawa nampan berisi cangkir saja.
"Nona... makanannya."
"Biarkan saja disitu."
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Una mengetuk pintu pelan.
"Masuk." Sahut Bian.
Una pun masuk dengan perasaan yang berdebar. Senyumnya merekah apalagi saat pria bernama Dino itu tersenyum padanya.
Bian melirik interaksi antara keduanya. Ia tadi mengira pelayan rumah yang masuk, ternyata istrinya ini.
"Ini silahkan diminum." Una meletakkan cangkir di meja.
"Terima kasih." Ucap Dino ramah.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Tanya Dino yang merasa tak asing dengan Una.
"Ta-tadi siang kita ketemu."
"Oh ya? dimana?"
Bian mengulum senyum melihat wajah kecewa Una. Dino tak mengenalinya. "Din, kenali ini Una istriku."
'Astaga...' Una melirik Bian tajam, pria ini kenapa malah mengatakan ia istrinya. Padahal sebentar lagi mereka akan bercerai.
Una pun jadi mengangguk sambil tersenyum.
"Sayang, tidur sana. Ini sudah malam." Bian mengisyaratkan agar Una segera pergi. Wanita itu mengangguk, walau dalam hatinya tak rela.
"Aku jadi menganggu malam-malam begini. Seharusnya tadi siang kita selesaikan." Ucap Dino seraya membereskan berkas-berkasnya.
"Ya mau gimana lagi. Istriku tadi ingin segera bertemu denganku. Namanya juga wanita hamil, wajar saja."
"Hah... dia ngidam dirimu?" Tanya Dino serius.
Bian mengangguk.
"Pasti babynya akan sangat mirip sekali denganmu..."
Tok
Tok
Tok
Suara ketokan pintu mengalihkan obrolan keduanya.
__ADS_1
"Masuk.."
"Ini makanannya ketinggalan." Una membawa makanan dan meletakkan di meja.
"Dimakan ya Mas Dino."
'Mas Dino..'
"Terima kasih."
Bian menghela nafas kasar. "Din, aku ke kamar dulu. Istriku memang begini, jika aku tak ada di kamar dia akan terus kecarian."
"Hah?" Una mendengar ucapan fitnah Bian.
"Iya, aku juga sudah mau pulang." Ucap Dino sambil tersenyum, seolah mengerti maksud Bian.
Di dalam kamar, Una terus bertanya tentang Dino pada Bian. Tapi Bian sangat malas menanggapinya.
"Nama panjangnya Dino apa?"
"Umurnya berapa?"
"Dia sudah menikah belum?"
"Bekerja dimana?"
"Rumahnya dimana?"
"Makanan kesukaannya apa?"
"Aku mau ke kamar mandi, kamu mau ikut juga?" Bian melihat Una kesal, tapi wanita itu malah memasang wajah cemberut.
"Tuan, anda belum menjawab pertanyaanku."
"Namanya Dinosaurus, umur 32 tahun. Ia itu seorang duda. Puas kamu." Bian menekankan kata-katanyanya.
"Wah bagus." Una bertepuk tangan pelan mendengar kabar tersebut.
Bian menatap Una aneh, wanita ini bahagis sekali mengetahui jika Dino seorang duda.
"Aku kan sebentar lagi akan menjadi janda. Duda dan janda itu pasti bertemu di saat yang tepat."
Bugh
Bian yang kesal pun masuk ke kamar mandi. Sementara Una tersenyum-senyum menuju ranjangnya.
__ADS_1