
Mata Ayah menatap tajam sang putri yang duduk dihadapannya sambil menundukkan kepala. Luna sekarang sedang di sidang Ayah dan Bunda. Adit hanya mengintip dari balik tembok, kalau sudah begitu ia tak berani ikut campur.
"Apa yang kamu katakan pada tante Mely?" Tanya Ayah.
"I-itu Yah. Tante sudah janji mau menikahkan Bian denganku. Aku hanya memintanya menepati janji sana." Ucap Luna gugup.
"Ayah mau kamu jangan mengganggu Bian lagi. Dia sudah menikah sekarang." Ayah memperingatkan.
"Nggak bisa Yah. Aku mau Bian. Paksa mereka Yah, biar mereka ingat kalau keluarga kita pernah membantu mereka." Luna tetap bersikeras.
"Yang bantu mereka, Ayah atau kamu?"
Luna menundukkan kepala, tatapan sang Ayah sangat mematikan. "A-ayah, ta-tapi seharusnya mereka menuruti keinginan Ayah, kan."
Reno menarik nafas, Luna memang keras kepala. "Kamu tahu keinginan Ayah?"
Luna menggeleng.
"Ayah ingin kamu cari pria lain dan lupakanlah Bian."
"Aku nggak mau yah. Aku mau Bian." Luna masih bersikeras juga. "Ayah harus paksa Bian menikah denganku. Bian harus membalas budi kebaikan Ayah dulu."
"Luna!!!" Ayah meninggikan suaranya, ia semakin kesal pada sikap anaknya satu ini.
"Kamu harus minta maaf sama keluarga Bian." Ayah kembali memelankan suaranya. Reno berteman baik dengan Arka, papanya Bian. Saat itu ia tulus membantu Arka yang sedang terpuruk, tanpa embel-embel apapun di kemudian hari. Tapi kenapa sekarang sang putri yang meminta balas budi pada mereka. Sementara ia saja tidak pernah berpikir seperti itu.
"Nggak mau. Mereka berhutang budi pada keluarga kita. Seharusnya mereka tahu diri.."
"Luna..." Bentak Ayah akan melayangkan tangannya.
"Mas Reno..." Rosa memegangi tangan Reno yang akan menampar Luna. Tadi Rosa sudah menamparnya, ia tak mau Reno menampar Luna lagi.
"Ayah sama Bunda jahat. Kalian tak pernah peduli padaku." Una menangis masuk ke kamarnya.
"Mas... sudahlah." Rosa mengusap punggung suaminya. Menenangkan Reno sejenak. Luna memang sudah keterlaluan.
"Harus bagaimana kita dengan anak itu?" Reno hanya bisa menghembus nafasnya kasar. Ia sudah pusing dengan anaknya.
Sementara di sebelah rumah, Bian dengan tertatih-tatih menuruni anak tangga. Una yang sedang membantu meletakkan piring di atas meja makan, melihat pria itu dengan ekspresi aneh.
"Kaki kamu kenapa?" Tanya Mama bingung.
"Diinjak gajah, Ma." Jawab Bian cepat sambil melirik Una.
"Gajah? apa ada gajah di rumah kita?" Mama makin tambah bingung.
__ADS_1
"Tadi kesandung meja kok Ma." Bian tertawa, tapi matanya menatap Una.
Una melihat Mama mengambilkan makanan untuk suaminya. Tak lama Una juga mengikuti Mama. Ia mengambil makanan untuk Bian, lalu untuk dirinya juga. Ia harus bersikap seperti sepasang suami istri pada umumnya.
"Kenapa nggak dimakan?" Tanya Mama bingung, sang putra hanya menatap piringnya saja.
"Kenapa Mas? apa lauknya kurang?" Tanya Una seolah perhatian.
Bian menggeleng. "Bukan, aku nggak bisa makan."
"Kenapa?" Una tampak bingung.
"Soalnya kakiku masih sakit." Alasan Bian.
"Yang sakitkan kaki Mas.." Una merasa aneh.
"Satu sakit, semua jadi ikutan sakit. Lihatlah bahkan tanganku begitu lemah." Bian memotong ucapan Una sambil menunjukkan tangannya yang begitu lemah tak bertenaga.
"Una... Bian mau disuapi itu." Ucap Mama sambil tersenyum. Ia tahu itu hanya alasannya Bian saja.
"Oh iya." Una terpaksa senyum.
"Itu sayang..."
"Nasinya jangan banyak-banyak."
"Sambalnya kebanyakan.."
"Itu kacang panjangnya.."
"Sayang, minum..."
Begitulah tingkah Bian ketika Una menyuapinya. Wanita itu terpaksa melakukannya karena ada kedua orang tua Bian. Jika tidak, mungkin ia akan menyuapi Bian dengan sendok semen saja.
Una menghela nafas, akhirnya ia bisa makan juga. Dari tadi menyuapi Bian, ia jadi belum makan malam.
"Bian, sudah berapa bulan usia kandungan Una?" Tanya Papa ingin tahu. Ia sudah merencanakan akan mendekor kamar bayi sesuai jenis kelamin sang cucu nanti.
"Sudah 8 bulan Pa." Jawab Bian ngasal, ia fokus menatap Una yang sedang makan.
Una yang disampingnya tersedak mendengar ucapan Bian.
"Minum minum." Bian menyodorkan air minum pada Una lalu mengusap mulut wanita itu dengan tisu.
"Kok sudah 8 bulan saja?" Mama juga bingung. Jika sudah 8 bulan berarti tinggal menunggu hari saja, tapi masa sudah 8 bulan perut Una datar saja.
__ADS_1
Una menyenggol kaki Bian, pria itu menatap Una tak mengerti. "Maksud Mas Bian, 8 bulan kami saling mengenal Pa, Ma." Una akhirnya membenarkan jawaban asal Bian tersebut.
"Iya Pa, begitulah." Bian pun mengangguk menyetujui ucapan wanita itu.
"Masih baru Pa. Una ngecek pakai respect." Ucap Bian memberitahu.
'Apa respect?'
Mereka menatap Bian bingung. Yang ditatap malah melirik mereka. Seolah bertanya apa yang dia katakan ada yang salah.
"Itu lho tes kehamilan. Apa namanya respect, restpack. Apa sih itu namanya sayang?" Bian bingung sendiri jadinya.
"Tespack." Una kembali membenarkan.
"Hah itu Pa, Ma. Waktu di tes pakai itu Una positif. Garisnya satu." Ucap Bian kembali ngasal.
"Bukannya garis satu itu negatif?" Mama juga jadi bingung.
"Satu apa tiga ya sayang garisnya. Aku lupa." Bian menatap Una, kali ini ia benar-benar tidak tahu.
"Dua Mas. Garis dua positif hamil Mas." Rasanya Una ingin melakban mulut Bian, dari tadi bicara satu pun tak ada yang benar ucapannya.
Bian pun tertawa sumbang. Ternyata banyak hal yang tidak diketahuinya. Ia hanya tahu tentang bisnis saja.
"Kapan kalian cek ke dokter?" Tanya Mama.
"Iya nanti Ma. Kalau Mas Bian ada waktu senggang. Kami akan ngecek."
"Kalau Bian nggak bisa sama Mama saja. Besok kita cek kandungan kamu." Mama sangat antusias ingin melihat cucunya.
"Ibu Suri, tolong biarkan aku saja yang membawa istriku ke dokter." Ucap Bian cepat, jika Mamanya yang membawa Una ke dokter sama saja kebohongannya terbongkar, jika Una sama sekali tidak hamil. Bagaimana mau hamil, disentuh saja pun tidak.
"Nunggu kamu kelamaan, kamu kan sibuk nggak ada waktu. Biar Mama saja, besok kita ke dokter."
"Mama... sudahlah." Papa mengisyaratkan Mama agar tenang.
Mama pun menurut pada Papa. "Setelah kalian cek kandungan, beritahu Mama hasilnya." Wanita itu pun sedikit kecewa.
Bian dan Una pun mengangguk pelan. Apa yang mau mereka beritahu. Hanya mampu mengulur-ulur waktu saja.
"Pa, Ma... kami ke kamar ya." Pamit Bian setelah makan malam selesai.
"Mama masih mau ngobrol sama Una lho."
"Ayolah Ma. Aku mau mengunjungi anakku dulu." Ucap Bian santai tanpa beban. Una jadi terpaksa tersenyum padahal aslinya ia sangat malu. Pria ini jangan ditanya, seperti sudah putus urat malunya.
__ADS_1
"Oh ya sudah. Kirim salam dari Oma dan Opa, ya. Kami menunggunya disini." Mama juga sangat bersemangat.
'Astaga...'